Jakarta, CNN Indonesia --
Kepulangan Pangeran Harry ke Inggris kembali memunculkan perdebatan mengenai keamanan dirinya dan keluarga. Salah satu persoalan yang menjadi sorotan adalah apakah biaya pengamanan mereka semestinya ditanggung oleh pembayar pajak Inggris.
Pangeran Harry bersama istrinya, Meghan Markle, dan dua anak mereka tiba di Inggris pada pekan lalu. Kepulangan tersebut terjadi setelah sebelumnya Harry menyatakan enggan kembali ke negara asalnya karena mengkhawatirkan keselamatan keluarganya.
Duke of Sussex dan Meghan meninggalkan Inggris serta mundur dari tugas sebagai anggota senior keluarga kerajaan pada 2020. Keduanya kemudian menetap di Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak saat itu, Harry juga terlibat dalam perseteruan hukum selama bertahun-tahun dengan pemerintah Inggris terkait hak mendapatkan pengamanan dari polisi yang dibiayai negara ketika berada di Inggris.
Kini, Harry kembali ke Inggris bersama putranya, Pangeran Archie yang berusia tujuh tahun, dan putrinya, Putri Lilibet yang berusia lima tahun. Ia dilaporkan tengah berupaya mendapatkan kembali pengawalan polisi untuk dirinya dan keluarganya.
Namun, ketika keluarga tersebut tiba di Bandara Birmingham pada 26 Agustus, mereka disebut menggunakan jasa pengamanan pribadi, bukan pengawalan polisi. Scott Hamer, mantan petugas pengamanan Raja Charles III ketika masih menyandang gelar Pangeran Wales, menilai kondisi tersebut cukup mengejutkan.
"Ini sangat mengejutkan," ujar Hamer kepada AFP.
Menurutnya, tingkat ancaman yang dihadapi Harry perlu menjadi pertimbangan utama dalam menentukan sistem pengamanan.
"Ada kemungkinan orang-orang yang saat ini mendapat perlindungan justru menghadapi ancaman dan risiko yang lebih rendah darinya. Jadi pertanyaannya, mengapa dia tidak mendapatkan perlindungan yang sama?" katanya.
Pilihan Redaksi
- Kisah Ratu Belanda Kabur ke Inggris Ketika Indonesia Bersiap Merdeka
- Kenapa Pangeran Harry dan Meghan Markle Putuskan Balik ke Inggris?
- Kembali ke Inggris, Harry dan Meghan Tak Disambut Hangat Tetangga
Anak-anak Harry jadi perhatian
Harry dan Meghan dilaporkan kini tinggal di kawasan Cotswolds, Inggris bagian tengah. Kedua anak mereka juga disebut akan bersekolah di sekolah swasta di kawasan tersebut pada tahun ajaran mendatang.
Kondisi itu dinilai dapat meningkatkan kerentanan keluarga Harry karena aktivitas mengantar dan menjemput anak dari sekolah akan berlangsung pada waktu dan rute yang relatif mudah diprediksi.
"Faktor kerentanan perlu dinilai," kata Hamer.
Ia menilai rutinitas tersebut dapat menjadi celah bagi pihak yang berniat mengancam keselamatan Harry maupun keluarganya.
"Dia harus mengantar anak-anak ke sekolah pada waktu yang sama setiap hari dan menjemput mereka pada waktu yang sama. Hal itu membuatnya cukup rentan," ujarnya.
Di Inggris, keputusan mengenai siapa yang berhak mendapatkan pengawalan polisi berada di tangan Royal and VIP Executive Committee (Ravec). Badan independen yang berada di bawah pengawasan Kementerian Dalam Negeri Inggris itu bertugas menentukan perlindungan bagi sejumlah tokoh, termasuk anggota kerajaan dan pejabat tertentu.
Harry sebelumnya menggugat keputusan Ravec yang menurunkan tingkat pengamanannya setelah ia dan Meghan pindah ke Amerika Utara pada 2020. Upaya Harry untuk membatalkan keputusan tersebut gagal di pengadilan. Pada 2025, ia juga kalah dalam banding dan menyebut keputusan itu sebagai bentuk campur tangan dari pihak yang disebutnya sebagai 'Establishment'.
Dengan kepulangannya ke Inggris, tingkat ancaman terhadap Harry kemungkinan kembali dievaluasi oleh dewan manajemen risiko Ravec.
Hamer mengatakan ancaman tersebut bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh. Risikonya dapat berasal dari berbagai kelompok, mulai dari terorisme internasional hingga kelompok ekstrem kanan yang menentang pernikahan Harry dengan Meghan, yang merupakan perempuan berdarah campuran.
Harry ingin pengamanan polisi
Permasalahan keamanan Harry kembali mencuat setelah The Sunday Times melaporkan bahwa pengacara sang pangeran telah mengirim surat kepada Menteri Dalam Negeri Inggris Shabana Mahmood pada Agustus.
Dalam surat tersebut, Harry disebut meminta Mahmood turun tangan karena ia dilaporkan sudah tidak percaya pada kemampuan Ravec dalam menentukan kebutuhan pengamanannya secara adil.
Pemerintah Inggris sendiri menyatakan sistem perlindungan yang diterapkan sudah melalui proses yang ketat dan proporsional. Namun, pemerintah tidak memberikan rincian mengenai pengaturan keamanan individu dengan alasan dapat mengganggu efektivitas sistem tersebut dan membahayakan keselamatan orang yang bersangkutan.
Salah satu alasan Harry disebut menginginkan pengawalan polisi adalah karena petugas keamanan pribadi di Inggris tidak diperbolehkan membawa senjata.
"Argumennya adalah ancaman terhadap dirinya begitu besar sehingga hanya dapat ditangani melalui tim pengamanan resmi kepolisian," kata Simon Morgan, mantan petugas pengamanan kerajaan, kepada AFP.
"Dia merasa seharusnya mendapatkan perlindungan tersebut," imbuhnya.
Namun, keinginan Harry itu belum tentu mendapat dukungan publik Inggris. Survei yang dilakukan untuk The i Paper pada pekan lalu menunjukkan hanya enam persen responden yang menilai biaya pengamanan Harry sepenuhnya layak ditanggung pembayar pajak.
Sebaliknya, 63 persen responden berpendapat Harry dan Meghan seharusnya membayar sendiri biaya pengamanan mereka. Pakar kerajaan Andrew Lownie juga berpandangan serupa.
"Dia membayar keamanan di Amerika Serikat. Saya tidak melihat alasan mengapa dia tidak bisa membayar keamanan di sini," kata Lownie kepada AFP.
Pengamanan Harry bisa habiskan banyak uang
Persoalan biaya menjadi salah satu alasan utama perdebatan mengenai pengamanan Harry dan keluarganya. Hamer berpendapat status Harry sebagai anggota keluarga kerajaan yang sudah tidak menjalankan tugas resmi seharusnya tidak menjadi faktor utama dalam menentukan tingkat perlindungannya.
Menurut dia, penilaian semestinya didasarkan pada tingkat ancaman yang dihadapi seseorang. Ia mencontohkan mantan perdana menteri Inggris yang tetap mendapat pengamanan meski sudah tidak menjabat.
Lownie memperkirakan Harry pada akhirnya dapat kembali memperoleh sebagian pengamanan yang dibiayai negara dengan alasan serupa. Namun, ia mengingatkan biaya perlindungan pejabat di Inggris telah meningkat dalam satu dekade terakhir. Dalam periode tersebut, Inggris telah mengalami pergantian enam perdana menteri, dibandingkan hanya dua perdana menteri pada satu dekade sebelumnya.
"Jika kita melakukannya untuk semua perdana menteri tersebut, saya kira kita juga harus melakukannya untuk Harry dan keluarganya. Namun, itu akan menghabiskan banyak uang," ujar Lownie.
Harry selama ini berulang kali menyatakan dirinya dan keluarganya menghadapi risiko lebih besar karena statusnya sebagai putra raja serta latar belakangnya sebagai anggota militer Inggris.
Ia pernah menjalani dua kali penugasan di Afghanistan saat bertugas di militer.
Dalam memoarnya yang terbit pada 2023, Spare, Harry juga mengungkap bahwa dirinya pernah membunuh 25 anggota Taliban selama bertugas di Afghanistan.
Pengakuan tersebut sempat menuai kritik dari sejumlah veteran Inggris. Mereka menilai keputusan Harry untuk mengungkapkan informasi tersebut secara terbuka justru berpotensi meningkatkan risiko keamanan terhadap dirinya.
(tis/tis)