"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.630-Rp17.670," ujar Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu (9/9/2026).
Baca Juga: Tekanan Sentimen Eksternal, Rupiah Ditaksir Berbalik Melemah ke Rp17.680
Pelaku pasar, lanjut Ibrahim, akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak dunia, hingga rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Pada perdagangan Selasa (8/9/2026), rupiah ditutup menguat tipis 8 poin atau 0,05% ke level Rp17.632 per USD. Penguatan tersebut terjadi meski pasar masih dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Ibrahim melihat pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi sentimen eksternal, terutama perkembangan konflik di Timur Tengah dan risiko terhadap pasokan energi global. Menurutnya, Selat Hormuz menjadi salah satu perhatian utama pasar karena merupakan jalur strategis bagi lalu lintas minyak dunia.
Iran sebelumnya memperingatkan bahwa infrastruktur minyak dan gas di kawasan Teluk dapat menjadi sasaran balasan apabila aset-aset Iran kembali diserang.
"Selat Hormuz tetap menjadi fokus utama bagi pasar minyak. Iran menyatakan akan memberlakukan zona pembatasan baru di Teluk serta koridor pelayaran alternatif," kata Ibrahim dalam risetnya.
Ibrahim menilai pengetatan pengawasan maritim tersebut dapat memperlambat lalu lintas kapal tanker yang melintasi jalur strategis tersebut.
Kondisi itu berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi dan pada akhirnya memengaruhi sentimen terhadap mata uang negara-negara emerging market, termasuk rupiah.
Di tengah risiko tersebut, terdapat pula perkembangan yang sedikit meredakan kekhawatiran pasar. Iran menyatakan pembicaraan dengan Oman mengenai pengaturan di Selat Hormuz hampir mencapai kesepakatan.
Jika terealisasi, perkembangan tersebut berpotensi membantu mengurangi risiko gangguan pelayaran dan tekanan terhadap harga minyak.
Sementara itu, aktivitas pelayaran di Selat Bab el-Mandeb justru meningkat. Data Kpler menunjukkan sebanyak 29 kapal pengangkut komoditas melintasi jalur tersebut pada Senin, naik dari 17 kapal pada hari sebelumnya.
Selain geopolitik, perhatian investor akan beralih ke sejumlah data ekonomi Amerika Serikat. Data Indeks Harga Produsen (PPI) AS dijadwalkan dirilis pada Kamis, sedangkan Indeks Harga Konsumen (CPI) akan dirilis pada Jumat.
Data tersebut menjadi penting karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap keputusan The Fed pada pertemuan berikutnya. Pasar saat ini memperhitungkan peluang sekitar 60% untuk kenaikan suku bunga The Fed.
Ekspektasi tersebut kembali menguat setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan penambahan nonfarm payrolls sebesar 162.000 pada Agustus 2026, jauh di atas ekspektasi pasar. Tingkat pengangguran tercatat tetap 4,1%.
Jika data inflasi AS kembali menunjukkan tekanan yang tinggi, ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memberikan dukungan terhadap dolar AS sekaligus menjadi tekanan bagi rupiah.
Sebaliknya, apabila inflasi AS menunjukkan perlambatan, tekanan terhadap mata uang emerging market dapat mereda karena pasar kembali memperhitungkan ruang pelonggaran kebijakan moneter AS.
Dari dalam negeri, salah satu faktor yang dapat memberikan bantalan bagi rupiah adalah posisi cadangan devisa Indonesia. Bank Indonesia mencatat cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 mencapai USD146,5 miliar, meningkat USD1,2 miliar dibandingkan posisi akhir Juli 2026 sebesar USD145,3 miliar.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, kenaikan cadangan devisa terutama dipengaruhi penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.
Kondisi tersebut berlangsung di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh BI.
"Perkembangan posisi cadangan devisa Agustus 2026 tersebut dipengaruhi terutama oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah," ujar Ramdan.
Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Kondisi ini memberikan ruang bagi BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar ketika tekanan eksternal meningkat.
Namun, arah rupiah tetap akan sangat bergantung pada perkembangan pasar global, khususnya pergerakan dolar AS, harga minyak, arus modal asing, serta ekspektasi suku bunga The Fed.
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, rupiah diperkirakan masih bergerak dalam rentang terbatas pada perdagangan berikutnya.