Cukup sebuah ruang berkarpet untuk bersujud, sebuah wastafel untuk berwudhu, label kecil di atas makanan, atau seorang relawan yang dengan bahasa Inggris terbata-bata mengingatkan untuk mengecek label makanan.
Nagoya, Jepang (ANTARA) - Perhelatan olahraga multicabang terbesar di Asia kembali digelar untuk ke-20 kalinya. Edisi kali ini berpusat di Kota Nagoya, Prefektur Aichi, Jepang, pada 19 September–4 Oktober 2026.
Bagi masyarakat global, Jepang identik dengan modernitas, kemajuan teknologi, serta daya tarik pariwisata kelas dunia. Dengan tingkat kunjungan wisatawan mancanegara yang mencapai 35–40 juta orang per tahun, Jepang terus berbenah demi memfasilitasi kebutuhan para pelancong.
Sebagai perbandingan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan wisatawan asing ke Indonesia pada paruh pertama tahun 2026 berada di angka sekitar 15 juta orang. Perbandingan itu menunjukkan betapa masifnya skala pariwisata di Negeri Sakura tersebut.
Seiring dengan tingginya hospitality dan keterbukaan sektor ekonomi, industri pariwisata Jepang kini mulai beradaptasi dengan konsep halal tourism. Hal yang dahulunya asing bagi mereka.
Interaksi dengan para wisatawan muslim mendorong Jepang untuk menyediakan berbagai fasilitas penunjang, mulai dari kuliner halal hingga tempat ibadah. Upaya ini dilakukan guna menyambut tren peningkatan wisatawan muslim yang melonjak pascapandemi COVID-19.
Data Japan National Tourism Organization (JNTO) menunjukkan bahwa jumlah wisatawan muslim berkisar antara 980 ribu hingga 1,2 juta orang per tahun, dengan Indonesia dan Malaysia sebagai penyumbang terbesar.
Jurnalis muslim
Penyelenggaraan Asian Games Aichi-Nagoya 2026 juga menerapkan konsep halal tourism, khususnya dalam penyediaan konsumsi dan akomodasi bagi para jurnalis.
Jamuan bagi awak media pada edisi kali ini memang tidak semegah Asian Games Jakarta-Palembang 2018 yang menyediakan hidangan berat. Meski demikian, AINAGOC selaku panitia penyelenggara menyadari betul bahwa makanan halal dan fasilitas ibadah merupakan kebutuhan krusial, mengingat ajang ini diikuti oleh banyak kontingen dan jurnalis dari negara-negara muslim.

Di Main Media Center (MMC) yang menjadi pusat aktivitas awak media, panitia menyediakan ruang salat khusus yang terpisah antara pria dan wanita.
Keberadaan fasilitas ibadah ini juga dapat dijumpai di sejumlah arena (venue) pertandingan di Prefektur Aichi dan Gifu. Penamaannya cukup beragam; beberapa lokasi menggunakan sebutan "prayer room", sementara arena lain, seperti venue dayung, menggunakan istilah "multi-faith room" agar terasa lebih inklusif.
Fasilitas di dalam ruang ibadah tersebut bervariasi. Sebagian ruangan dilengkapi dengan wastafel untuk berwudu dan sajadah, sedangkan sebagian lainnya hanya berupa ruangan berkarpet tanpa penunjuk arah kiblat maupun keran wudu.
Selain penyediaan sarana ibadah, panitia Asian Games Aichi-Nagoya juga mencantumkan label "Ramah Muslim" pada kudapan dan makanan ringan yang disajikan, baik di MMC maupun Sub-Press Room di setiap arena pertandingan.
Baca juga: Osu Shopping District, pusat belanja dan kuliner Nagoya yang riuh
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.