Moskow (ANTARA) - Spanyol memperketat perbatasan setelah sekitar 60.000 imigran asal Maroko dilaporkan menerobos masuk ke Kota Ceuta, wilayah enklave negara itu di Afrika Utara, hanya dalam kurun waktu satu hari.
Wali Kota Ceuta, Juan Jesus Vivas, pada Jumat menyebut jumlah imigran yang masuk secara drastis tersebut setara dengan 70 persen dari total populasi kota itu.
Situasi di perbatasan semakin memanas sejak Kamis (30/7), ketika ribuan pemuda Maroko berkumpul di garis perbatasan, di mana ratusan di antaranya berhasil menembus wilayah Spanyol.
Menanggapi krisis imigran tersebut, Perdana Menteri (PM) Italia Giorgia Meloni menyatakan sedang mempertimbangkan langkah-langkah luar biasa, termasuk kemungkinan membekukan kawasan Schengen dengan Spanyol.
Baca juga: Prancis perketat perbatasan dengan Spanyol imbas gelombang migran
Sementara itu, PM Spanyol Pedro Sanchez mengecam keras gelombang imigran massal tersebut dan menyebutnya sebagai ancaman terhadap kedaulatan negara.
"Apa yang terjadi kemarin harus dianggap sebagai serangan dan pelanggaran terhadap integritas wilayah Spanyol. Ceuta adalah kota milik Spanyol dan peristiwa ini patut mendapat kecaman paling keras dari kami," kata Sanchez dalam konferensi pers di Ceuta, Jumat.
Sebagai langkah penanganan, Sanchez akan mengerahkan 400 personel aparat penegak hukum tambahan ke Ceuta serta memerintahkan pemasangan pagar pembatas baru di sepanjang garis perbatasan.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Spanyol dan Maroko segera deportasi imigran dari Ceuta
Baca juga: Krisis migrasi, Spanyol tutup perbatasan dengan Maroko dekat Melilla
Penerjemah: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.