Thomas Tuchel Percaya Diri Tetap Jadi Pelatih Inggris dan Bela Taktik dalam Kekalahan vs Argentina

Bagikan:

JAKARTA - Thomas Tuchel berjanji akan tetap menjadi pelatih Inggris hingga Euro 2028 meski tengah mendapat kritik terkait penyesuaian taktik dalam kekalahan melawan Argentina di semifinal Piala Dunia 2026 pada Kamis, 16 Juli 2026, dini hari WIB.

Gol Anthony Gordon pada menit ke-55 membawa Three Lions menuju penampilan final Piala Dunia kedua dalam sejarah, tapi Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez mencetak dua gol pada menit-menit terakhir untuk merebut kemenangan dramatis 2-1 di Atlanta.

Sementara Argentina melaju ke final Piala Dunia 2026 melawan Spanyol, Inggris hanya akan mendapatkan hiburan berupa pertandingan perebutan tempat ketiga melawan Perancis pada Minggu, 19 Juli 2026, dini hari WIB, di Miami Gardens, Florida.

Banyak kritik yang mengarah kepada taktik Tuchel yang dinilai sebagai biang keladi kekalahan Inggris di semifinal Piala Dunia 2026 melawan Argentina.

BACA JUGA:


Namun, kritik itu segera ditepis pelatih asal Jerman tersebut. Bahkan, dia dengan percaya diri menegaskan kontraknya sebagai pelatih Inggris hingga 2028--yang baru saja diperpanjang oleh FA (Federasi Sepak Bola Inggris)--masih tetap berlaku di tengah tekanan yang saat ini ditujukan kepadanya.

"Pertama-tama, Piala Dunia 2026 belum berakhir. Masih ada pertandingan yang harus dimainkan yang tidak terlalu kami nantikan, tetapi masih ada pertandingan yang harus dimainkan."

"Kemudian kami terus maju. Saya memiliki kontrak hingga Euro di kandang sendiri. Saya menantikannya, bahkan sekarang (ketika) sulit untuk melihat sejauh itu ke depan," ujar Tuchel.

Sebagaimana diketahui, pergantian pemain yang dilakukan Tuchel tampaknya berkontribusi pada hilangnya momentum Inggris saat Argentina terus menyerang untuk mencari jalan kembali dan Lionel Messi mengkreasi kedua gol, termasuk gol kemenangan Martinez pada menit kedua injury time.

Tuchel mengganti bek Reece James dengan Dan Burn, dan gelandang Declan Rice dengan bek Nico O'Reilly pada menit ke-82.

Antara gol Gordon dan gol kemenangan Argentina, Inggris hanya memiliki 12 persen penguasaan bola. Hanya saja, Tuchel punya pembelaan dan menolak bahwa yang dilakukannya ialah keputusan salah.

"Tidak (salah), saya percaya itu hanya sifat alami permainan. Begitu kalah, langsung dikritik. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika kita mengambil keputusan yang berbeda."

"Jadi, tidak ada gunanya terlibat dalam hal itu dan kehilangan kendali. Saya bertanggung jawab atas keputusan-keputusan itu, saya yang mengambil keputusan tersebut, jadi saya terima kritiknya. Begitulah kenyataannya," tutur Tuchel.

Sementara itu, kapten Inggris, Harry Kane, mengkritik respons tim setelah unggul.

"Begitu kami unggul 1-0, kami sepertinya hanya mencoba bertahan, yang di level ini tidak cukup, jadi saya sangat kecewa," katanya.

Kekalahan Inggris mengikuti pola yang mirip dengan kekalahan turnamen baru-baru ini, termasuk semifinal Piala Dunia terakhir mereka melawan Kroasia pada 2018 dan final Euro 2020 melawan Italia, di mana mereka unggul di kedua pertandingan itu hanya untuk kalah.

Namun, Tuchel menolak gagasan bahwa ada sesuatu dalam DNA tim Inggris yang menyebabkan kegagalan serupa.

"Saya suka melihat hal-hal ini dalam konteks sepak bola dan melalui kacamata sepak bola. Jadi, pertama-tama saya selalu berpikir itu dapat dipecahkan di lapangan sepak bola."

"Saya tidak terlalu percaya pada hal yang khas Inggris dan kutukan atau apa pun, atau seperti sejarah yang terulang kembali pada saat-saat ini."

"Pelatihnya berbeda, pemainnya berbeda, situasinya berbeda, lawannya berbeda. Jadi, pada dasarnya saya percaya kepada sepak bola."

"Bagi saya sebagai pelatih sepak bola yang masih menjadi masalah bagi kami hari ini ialah saya pikir kami tidak cukup aktif dalam struktur apa pun," kata Tuchel dalam konferensi persnya.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+