Jakarta, CNBC Indonesia - Komandan tertinggi militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah, Laksamana Brad Cooper, memberi tahu Presiden Donald Trump bahwa gelombang serangan udara terhadap target-target Iran di sekitar Selat Hormuz tidak lagi efektif. Menurut laporan Axios, laporan tersebut disampaikan oleh pimpinan Komando Pusat AS (CENTCOM) tersebut secara langsung kepada sang presiden.
Mengutip laporan Russia Today, Selasa (28/07/2026), Laksamana Cooper menjelaskan bahwa sebagian besar target pemboman yang telah ditentukan di wilayah selatan Iran pada dasarnya sudah habis dihantam. Pihaknya menegaskan tidak ada gunanya melanjutkan gelombang serangan udara kecuali AS memutuskan untuk kembali ke operasi tempur skala besar.
"Target pemboman yang ditentukan di area tersebut sebagian besar telah habis dihantam. Tidak ada gunanya melanjutkan serangan kecuali AS kembali ke operasi tempur skala besar," saran Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper kepada Presiden Donald Trump.
Presiden Trump secara mendadak menghentikan gelombang serangan udara pada hari Jumat, yang mengakhiri kampanye pemboman selama 13 hari. Langkah penangguhan ini bergulir di tengah laporan bahwa para mediator regional tengah berpacu dengan waktu untuk menjajaki kesepakatan gencatan senjata baru.
Sejumlah media massa Amerika Serikat melaporkan bahwa Trump turut mengkhawatirkan menipisnya stok rudal pencegat yang digunakan untuk menangkis serangan balasan rudal dan drone Iran ke basis-basis militer AS di Timur Tengah. Kendati demikian, Trump secara tegas membantah tuduhan bahwa militer AS mulai kekurangan amunisi.
Selat Hormuz, yang merupakan jalur titik jepit (chokepoint) maritim vital dunia, hingga kini masih tertutup bagi pelayaran komersial reguler meskipun AS telah menggempur infrastruktur pelabuhan dan situs militer di Iran selatan. AS sebelumnya mengaktifkan kembali blokade maritim terhadap Iran awal bulan ini menyusul serangan terhadap kapal-kapal tanker yang mencoba melintasi selat tersebut.
Pada 26 Juni lalu, Iran telah memperingatkan bahwa perlintasan kapal melalui Selat Hormuz hanya diizinkan melalui rute-rute khusus yang ditentukan oleh Teheran. Media lokal pada hari Minggu melaporkan sebuah kapal tanker minyak meledak di Selat Hormuz akibat menabrak ranjau laut setelah menyimpang dari jalur navigasi resmi, meski otoritas Iran belum memberikan komentar terkait insiden tersebut.
Kedua belah pihak kini memberi sinyal bahwa kesepakatan gencatan senjata-yang pertama kali dicapai pada April lalu dan diperluas melalui nota kesepahaman (MoU) pada 17 Juni-pada dasarnya telah berakhir.
Eskalasi pertempuran terbaru ini meletus akibat perbedaan interpretasi terhadap isi MoU yang sedianya ditujukan untuk memberi waktu tambahan bagi negosiasi program nuklir Iran. Teheran menegaskan memiliki hak penuh untuk mengontrol seluruh lalu lintas kapal di Selat Hormuz dan melabeli jalur yang ditentukan oleh Angkatan Laut AS sebagai tindakan ilegal.
(tps/tfa)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]