Marrakesh -
Piala Dunia 2026 resmi berakhir. Maroko, tuan rumah Piala Dunia 2030 langsung bergerak menambah akomodasi demi kenyamanan fans di masa depan.
Piala Dunia 2030 akan jadi penanda 100 tahun ajang turnamen tersebut. Maroko, Portugal, dan Spanyol jadi tuan rumah. Namun Uruguay, Argentina, dan Paraguay turut jadi tuan rumah di laga-laga pembuka.
Maroko berencana untuk menambah kapasitas akomodasi hotelnya sebanyak 60.000 tempat tidur. Jumlah ini setara dengan sekitar seperlima dari total kapasitas hotel yang tersedia saat ini, seperti dikutip dari Reuters pada Senin (20/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah besar tersebut disiapkan untuk menyambut gelaran Piala Dunia 2030, di mana negara tersebut terpilih menjadi salah satu tuan rumahnya, sebagaimana disampaikan oleh menteri pariwisatanya.
Negara di kawasan Afrika Utara ini memang tengah menikmati popularitas dan sorotan besar dari publik dunia. Hal ini tidak lepas dari keberhasilan luar biasa mereka menembus babak semifinal pada gelaran Piala Dunia di Qatar empat tahun lalu. Pencapaian tersebut mengukir sejarah baru, menjadikan Maroko sebagai tim Afrika sekaligus Arab pertama yang mampu melangkah sejauh itu.
Para pejabat pemerintah berniat memanfaatkan sorotan publik dunia yang baru ini demi memberikan dampak positif jangka panjang bagi industri pariwisata lokal. Sektor ini memegang peranan yang sangat penting karena telah menyerap ratusan ribu tenaga kerja warga Maroko serta memberikan kontribusi sekitar 7% terhadap produk domestik bruto negara tersebut.
"Kami melihat Piala Dunia FIFA 2030 sebagai akselerator, bukan tujuan akhir," kata Menteri Pariwisata Fatim-Zahra Ammor kepada Reuters.
Pemerintah mengalokasikan investasi yang sangat besar, yakni melebihi 190 miliar dirham (sekitar Rp 358 triliun). Dana jumbo ini digunakan untuk membangun serta memperluas berbagai infrastruktur perkotaan seperti jalur kereta api, jalan raya, bandara, dan stadion menjelang turnamen 2030.
Berdasarkan data resmi, Maroko sebenarnya telah sukses menambah 45.000 tempat tidur hotel dalam rentang waktu empat tahun terakhir. Penambahan tersebut membuat total kapasitas akomodasi mereka saat ini berada di angka sedikit di atas 300.000 tempat tidur.
Negara ini berhasil menyambut kedatangan hampir 20 juta wisatawan sepanjang tahun lalu, sebuah rekor yang makin mengukuhkan posisinya sebagai destinasi yang paling banyak dikunjungi di seluruh benua Afrika. Pemerintah kini menetapkan target yang lebih tinggi, yaitu menarik hingga 26 juta pengunjung pada tahun 2030 mendatang.
Bank sentral Maroko memproyeksikan bahwa pendapatan dari sektor pariwisata akan melesat hingga mencapai rekor baru sebesar 161 miliar dirham pada tahun 2027, meningkat signifikan dari angka 138 miliar dirham pada tahun 2025. Perkembangan pesat di sektor ini juga sangat dibantu oleh bertambahnya pembukaan rute-rute penerbangan baru dari benua Eropa.
Fase pertumbuhan selanjutnya dari industri pariwisata Maroko akan difokuskan untuk menggaet lebih banyak wisatawan dari Tiongkok, Amerika Serikat, dan kawasan Timur Tengah melalui peningkatan konektivitas penerbangan udara, jelas Fatim-Zahra Ammor. Selain itu, pemerintah juga terus berupaya mendiversifikasi destinasi wisata agar tidak hanya terpusat pada kota-kota populer seperti Marrakesh dan Agadir.
Upaya diversifikasi tersebut mencakup rencana untuk mentransformasi kota ibu kota, Rabat, menjadi pusat penyelenggaraan acara budaya, kegiatan olahraga, serta perjalanan bisnis. Kota Rabat sendiri dinilai sangat potensial karena memiliki kekayaan monumen bersejarah, museum-museum ternama, serta fasilitas olahraga yang lengkap.
"Kita perlu melakukan investasi yang menciptakan nilai jangka panjang bagi pariwisata Maroko," katanya.
(bnl/wsw)