Udara Jakarta tak sehat bagi kelompok sensitif pada Sabtu pagi

Jakarta (ANTARA) - Kualitas udara Jakarta pada Sabtu pagi, berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 05.30 WIB tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Indeks kualitas udara (AQI) kota metropolitan itu berada di angka 113, yang menjadikannya kota dengan kualitas udara terburuk ke-13 di dunia.

Masyarakat pun dianjurkan untuk menggunakan masker jika beraktivitas di luar ruangan.

Adapun, kota dengan kualitas udara terburuk di dunia adalah Kuching, Malaysia dengan indeks kualitas udara di angka 286, lalu urutan kedua adalah Kinshasa, Kongo di angka 205, kemudian di urutan ketiga ada Kumpala, Uganda di angka 159.

Baca juga: Jaksel imbau pengelola gedung aktifkan "water mist" untuk tekan polusi

Diketahui, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan tiga strategi utama yang tengah dijalankan untuk memperbaiki kualitas udara.

Pertama yakni perluasan jangkauan layanan bus Transjabodetabek untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, seperti Blok M-Alam Sutera, Blok M-PIK 2, hingga rencana pembukaan rute baru Blok M-Bandara Soekarno Hatta.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pun mengajak masyarakat untuk memanfaatkan layanan transportasi publik yang telah disediakan Pemprov DKI. Bahkan, Pemprov DKI telah menerbitkan aturan terkait pemberlakuan layanan transportasi umum gratis bagi 15 golongan masyarakat.

Saat ini, konektivitas transportasi Jakarta telah mencapai 92 persen, menempatkan Jakarta di posisi ke-17 dunia dan peringkat kedua di ASEAN setelah Singapura.

Baca juga: Tekan polusi udara, Rasuna Said-Mampang Prapatan disemprot kabut air

Lebih lanjut, sektor transportasi saat ini menyumbang 50 persen emisi gas buang di Jakarta. Karena itu, Pramono pun telah menargetkan pengoperasian 10.000 bus listrik Transjakarta pada 2030.

"Kalau itu bisa dilakukan, secara signifikan akan mengurangi kontribusi terhadap emisi itu," kata Pramono saat menghadiri acara Townhall Meeting yang membahas isu dan solusi mengatasi polusi udara di Melting Pop, M Bloc, Kebayoran Baru, Selasa (10/2).

Selain transportasi, sektor pengelolaan sampah juga menjadi perhatian Pemprov DKI dengan mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah ITF (Intermediate Treatment Facility) di Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat. Proyek ini ditargetkan mulai berjalan pada pertengahan tahun ini.

"Kalau itu bisa dilakukan, maka kontribusi yang signifikan akan mengurangi atau menurunkan kontribusi emisi yang ada di Jakarta," tandasnya.

Baca juga: Pemkot Jaksel uji emisi motor-mobil, tekan polusi udara di Jakarta

Baca juga: Pramono imbau masyarakat tak bakar sampah untuk jaga udara Jakarta

Baca juga: Pramono sebut PLTU di Suralaya jadi salah satu penyebab polusi di DKI

Pewarta: Redemptus Elyonai Risky Syukur
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.