Kalau soal volume pasokan, rasanya provinsi yang kini berjuluk Bumi Merah Putih itu tidak akan kesulitan memenuhinya
Bengkulu (ANTARA) - UMKM kopi di Provinsi Bengkulu merasakan bagaimana proses mengekspor hasil produksi kebun mereka itu tidak semudah mengepak kopi lalu mengapalkannya ke berbagai negara tujuan.
Untuk memenuhi permintaan pasar dunia, banyak hal yang harus dipenuhi, mulai saat kopi ditanam, perawatannya, panen dan perlakuan pasca-panen. Itu semua tidak lain guna memastikan produk kopi yang dikirim sesuai standar mutu yang diinginkan pasar.
Saiful Ansori, petani kopi di Kabupaten Kepahiang sekaligus pemilik UMKM Rodaba Coffee, juga punya impian agar produksi kopi miliknya tidak hanya dikenal di kalangan pelaku bisnis kopi domestik. Dia ingin menorehkan nama di pasar dunia sebagai puncak pencapaian kiprah yang lebih luas.
Apalagi dia berkiprah di Provinsi Bengkulu, yang merupakan lima besar secara peringkat nasional sebagai daerah penghasil kopi. Kalau soal volume pasokan, rasanya provinsi yang kini berjuluk Bumi Merah Putih itu tidak akan kesulitan memenuhinya.
Tentang kualitas rasa, komoditas unggulan yang dikenal dengan nama Sintaro atau Sindang Dataran Robusta, varietas asli Kabupaten Rejang Lebong, dan Sehasen dari Bumi Sehasen Kabupaten Kepahiang itu pun telah dikenal luas.
Dua varietas itu kerap memenangkan penghargaan berbagai ajang festival kopi. Hal itu menjadi bukti bahwa kopi Bengkulu telah teruji soal kualitas rasanya.
Tapi kualitas rasa dan kuantitas saja ternyata belum cukup demi memenuhi standar permintaan pasar dunia. Ada sederet syarat lain yang harus dipenuhi sebelum masuk dalam kontainer kargo ekspor.
Saiful menceritakan, syarat yang diminta pasar global itu beragam. Pembeli di pasar global meminta rincian jenis kopi, masa dan pilihan petik, contoh petik merah, hingga ketentuan kadar air dan beberapa standar lainnya. Bahkan standar diameter biji kopi yang seragam juga jadi perhitungan pembeli luar negeri. Belum lagi tentang kelengkapan administratif serta identitas komoditasnya yang harus dipenuhi.
Syarat-syarat ini sudah pasti tidak bisa dipenuhi hanya dengan metode pertanian tradisional atau menggunakan alat sarana dan prasarana seadanya.
Di tingkat pengembangan perkebunan, petani membutuhkan wawasan kopi yang komprehensif, mulai dari bibit, metode tanam, perlakuan, pupuk, kondisi topografi dan geografis wilayah hingga soal kondisi cuaca untuk memastikan kopi yang dipanen berkualitas layak ekspor.
Dari sisi petani, pengalaman bertahun-tahun merawat tanaman kopi sebenarnya sudah menjadi modal besar. Hanya tinggal melengkapi wawasan dan dukungan teknis agar hasil panen kopi dapat memenuhi standar permintaan pasar.
Pemerintah daerah menyadari bahwa peningkatan kualitas kopi Bengkulu tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman petani. Petani kopi membutuhkan penguatan pengetahuan dan dukungan sejak tanaman mulai dikembangkan hingga menghasilkan buah yang memenuhi standar pasar.
Penguatan petani dilihat sebagai bagian penting untuk memperbaiki kualitas kopi sejak dari kebun. Langkah itu dilakukan dengan program sekolah kopi yang hingga kini telah diikuti puluhan kelompok tani, sekaligus menyiapkan bibit kopi sambung untuk ribuan hektare lahan petani, serta mengupayakan ketersediaan pupuk.
Investasi
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.