Klaten -
Viral karena disebut mirip sabana, hamparan lahan pertanian di Desa Sengon, Kecamatan Prambanan, Klaten, mendadak diserbu pemburu konten. Ramainya pengunjung membuat para petani resah hingga memasang peringatan agar lahan garapan mereka tidak diinjak dan rusak.
Keluhan itu kemudian disampaikan para petani kepada pemerintah desa. Kepala Desa Sengon, Agus Sumaryono, membenarkan warganya memprotes ramainya pengunjung yang datang setelah lokasi tersebut viral di media sosial.
"Ya betul, petani kapan itu ke kantor desa. Mereka protes sawahnya viral," kata Agus kepada detikJateng, dikutip Rabu (29/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Agus, dalam sepekan terakhir lokasi tersebut dipadati pengunjung, tidak hanya dari Klaten tetapi juga dari berbagai daerah lain.
"Dari luar kota ada, ada dari Salatiga juga. Itu milik petani bukan kas desa," kata dia.
Agus menjelaskan lahan tersebut hanya bisa ditanami sekali dalam setahun. Saat musim hujan, area itu tergenang air sehingga berubah menjadi rawa. Karena itulah para petani khawatir lahan yang baru bisa dimanfaatkan pada musim kemarau justru rusak akibat banyaknya pengunjung yang keluar masuk.
"Kalau musim hujan sawah tersebut menjadi rawa karena genangan. Bisanya ditanami hanya sekali setahun saat kemarau ini tapi malah diinjak-injak," kata Agus.
Sebagian petak lahan bahkan sudah mulai ditanami jagung. Meski demikian, banyak pengunjung tetap memasuki area pertanian untuk berfoto sehingga petani akhirnya memasang papan larangan di lokasi.
"Larangan sudah dipasang di lokasi," kata dia.
Papan larangan dipasang petani di Desa Sengon, Kecamatan Prambanan, Klaten. (Achmad Hussein Syauqi/detikJateng)
Saat detikJateng mengunjungi lokasi selepas zuhur, pengunjung mulai berdatangan meski cuaca terik. Mereka turun ke lahan yang belum ditanami, berpose, dan berswafoto di hamparan rumput hijau yang berlatar deretan Pegunungan Seribu.
Meski beberapa petak sudah ditanami jagung, pengunjung tetap memilih masuk ke area lahan pertanian demi mendapatkan foto dan video. Teriknya matahari tak menyurutkan niat mereka berburu konten.
Salah seorang pengunjung, Siti, warga Bayat, Klaten, mengaku datang bersama teman-temannya karena penasaran setelah melihat lokasi tersebut viral di media sosial.
"Ini rombongan, niat kita memang niat. Ini baru pertama ke sini karena muncul di medsos, jadi penasaran," kata dia.
Keresahan para petani juga diunggah akun Instagram INFO CEGATAN KLATEN (ICK). Dalam pengumuman yang dipasang di lokasi, petani menegaskan bahwa kawasan tersebut bukan sabana maupun tempat wisata, melainkan lahan pertanian aktif milik warga.
Mereka mengeluhkan banyak pengunjung masuk ke area pertanian sehingga tanah menjadi padat akibat sering diinjak, tanaman jagung dan tanaman lainnya rusak, serta sampah mulai bermunculan. Karena itu, petani meminta masyarakat tidak memasuki lahan pertanian, tidak menginjak tanaman, dan menjaga kebersihan lingkungan.
(fem/fem)