Minggu, 26 Juli 2026 - 20:30 WIB
California, VIVA – Produsen mobil listrik asal China, Xpeng, mengungkapkan ambisinya untuk memperluas bisnis ke Amerika Serikat. Bahkan, perusahaan tersebut membuka peluang membangun pabrik perakitan di Negeri Paman Sam sebagai bagian dari strategi ekspansi jangka panjang.
Baca Juga
Langkah itu dinilai dapat menjadi cara untuk mendekatkan produksi ke pasar Amerika sekaligus mengurangi hambatan yang selama ini dihadapi kendaraan impor. Namun, rencana tersebut dipastikan tidak akan mudah diwujudkan karena masih dibayangi faktor politik dan regulasi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Disadur VIVA Otomotif dari Carscoops, Minggu, 26 Juli 2026, CEO Xpeng He Xiaopeng mengatakan perusahaannya memang memiliki keinginan untuk memasuki pasar Amerika Serikat. Ia bahkan tidak menutup kemungkinan membangun fasilitas produksi di negara tersebut jika situasi memungkinkan.
Baca Juga
Meski begitu, He mengakui kondisi politik saat ini belum mendukung langkah tersebut. Hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China yang masih penuh ketegangan membuat investasi dari produsen otomotif China menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dibandingkan beberapa tahun lalu.
Apabila rencana tersebut benar-benar terealisasi, kehadiran pabrik Xpeng diyakini bisa memberikan sejumlah manfaat bagi Amerika Serikat. Selain menciptakan lapangan kerja baru, investasi tersebut juga berpotensi meningkatkan penerimaan pajak dan memperluas pilihan kendaraan listrik bagi konsumen.
Baca Juga
Di sisi lain, tidak sedikit pihak yang masih mempertanyakan apakah produsen mobil asal China seharusnya diizinkan memproduksi kendaraan di Amerika Serikat. Perdebatan itu semakin mengemuka karena pemerintah setempat terus memperketat pengawasan terhadap teknologi yang digunakan pada kendaraan modern, khususnya mobil yang terhubung dengan internet.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kasus Polestar menjadi salah satu contoh yang menunjukkan rumitnya situasi tersebut. Meski Polestar 3 diproduksi di Ridgeville, South Carolina, model itu tetap tidak memperoleh pengecualian dari aturan kendaraan terkoneksi, berbeda dengan Volvo EX90 yang diproduksi di lokasi sama dan menggunakan platform serupa.
Akibatnya, Polestar memutuskan menghentikan penjualan model tersebut di Amerika Serikat setelah tahun model 2026. Keputusan itu memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas kebijakan yang membatasi kendaraan buatan perusahaan dengan kepemilikan asal China, meski proses produksinya dilakukan di dalam negeri.
Halaman Selanjutnya
Bagi Xpeng, membangun pabrik di Amerika Serikat bukan hanya soal investasi, tetapi juga harus mampu melewati berbagai hambatan kebijakan yang dipengaruhi faktor geopolitik. Kondisi tersebut membuat jalan menuju salah satu pasar otomotif terbesar di dunia masih penuh tantangan bagi produsen mobil listrik asal China.