2 paket pemulihan SDA Aceh tuntas

Pemulihan infrastruktur sumber daya air di Aceh memasuki babak baru. Setelah dua dari tiga paket penanganan darurat selesai 100 persen, pekerjaan akan beralih menuju rehabilitasi dan rekonstruksi permanen mulai Oktober 2026 dengan masa pelaksanaan hingga 2028.

Secara keseluruhan, progres penanganan darurat telah mencapai 94,70 persen per Selasa (29/9/2026). Capaian ini menandai kemajuan dari fase pemulihan fungsi menuju pembangunan infrastruktur yang lebih kuat untuk melindungi masyarakat dari banjir, sedimentasi, dan kerusakan berulang.

Paket kedua yang mencakup Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang telah tuntas seluruhnya. Paket ketiga di Aceh Barat, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara juga mencapai 100 persen. Adapun paket pertama yang meliputi Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Bener Meriah, dan Aceh Tengah telah mencapai 87,79 persen.

Selama fase darurat, pekerjaan difokuskan untuk mengembalikan fungsi sungai, muara, jaringan irigasi, bendung, dan layanan air bagi masyarakat. Penyelesaian dua paket tersebut memberikan kepastian bahwa infrastruktur vital di delapan kabupaten telah kembali berfungsi, sementara pekerjaan pada lima kabupaten lainnya terus dituntaskan.

Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera I Asyari mengatakan paket rehabilitasi dan rekonstruksi permanen kini berada dalam proses lelang dan kontrak. Seluruh pekerjaan ditargetkan mulai bergerak pada Oktober dengan skema kontrak tahun jamak selama tiga tahun.

“Pekerjaan rehab-rekon kami ini dalam proses lelang dan berkontrak. Target kita pada Oktober bisa bergerak semua, mulai Oktober 2026 sampai dengan 2028 dengan kontrak tahun jamak selama tiga tahun,” kata Asyari dalam rapat koordinasi penanganan pascabencana di Kantor BWS Sumatera I, Banda Aceh, Selasa (29/9/2026).

Tahap permanen akan diarahkan pada pembangunan sabo dam dan sand pocket, penguatan tanggul dan tebing, perlindungan kawasan permukiman serta persawahan, hingga pembangunan jetty untuk menjaga fungsi muara. Pekerjaan tersebut disiapkan agar infrastruktur tidak hanya kembali berfungsi, tetapi lebih tangguh menghadapi risiko bencana pada masa mendatang.

Sambil menunggu seluruh konstruksi permanen berjalan, kesiapsiagaan menghadapi puncak musim hujan tetap diperkuat. Alat berat telah disiagakan di Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Aceh Singkil, dan Pidie untuk mempercepat penanganan apabila terjadi banjir susulan atau kerusakan tanggul.

“Untuk mengantisipasi puncak musim hujan, di masing-masing kabupaten sudah kita siagakan alat-alat berat. Jadi setiap banjir, langsung kami kerahkan alat berat untuk membantu menutup tanggul dan membersihkan sampah-sampah yang terbawa akibat banjir,” ujar Asyari.

Wakil Kepala Perencanaan, Pengendalian, Analisis, dan Evaluasi Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera Imran menegaskan pihaknya akan meninjau langsung seluruh pekerjaan fisik yang sedang maupun akan dilakukan pada tahap rehab-rekon. Peninjauan ini bertujuan untuk memastikan proses pembangunan berjalan lancar tanpa terkendala hambatan teknis maupun administrasi.