ILUSTRASI. Suasana di Kantor Pusat Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (KONTAN/Baihaki)
Reporter: Ferry Saputra | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kasus influenza di Indonesia mengalami peningkatan dalam beberapa pekan terakhir.
Meski demikian, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut kondisi itu masih berada dalam rentang kewaspadaan dan belum menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan.
Terkait hal itu, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyampaikan peningkatan kasus influenza di Indonesia juga menunjukkan adanya peningkatan klaim di beberapa perusahaan asuransi jiwa.
Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo mengatakan meski ada kenaikan klaim, kondisinya masih dalam toleransi yang wajar.
Baca Juga: AAJI Dorong Industri Asuransi Jiwa Manfaatkan AI dalam Jalankan Proses Bisnis
"Memang ada beberapa perusahaan mengalami kenaikan dari klaim karena influenza tersebut, tetapi tidak masif," katanya saat ditemui seusai acara Future by Design AAJI di kawasan Jakarta Selatan (1/10).
Albertus juga mengatakan dengan adanya vaksin untuk influenza dan upaya dari pemerintah, diharapkan kasus influenza tersebut tak akan meningkatkan angka klaim ke depannya.
Dengan demikian, diharapkan tak akan berdampak signifikan terhadap industri asuransi kesehatan.
"Semoga tentunya tidak akan menjadi masif. Seharusnya influenza itu ada pencegahannya, ada vaksinnya juga. Jadi, lewat langkah yang diambil oleh pemerintah dan Kemenkes, kami berharap dan yakin bahwa masalah tersebut tidak akan menjadi batu sandungan atau memberikan dampak besar terhadap ekosistem asuransi kesehatan," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Departemen Pengawasan Asuransi dan Jasa Penunjang OJK Sumarjono mengatakan belum ada data yang masuk ke OJK terkait dengan klaim asuransi jiwa mengenai kasus influenza yang meningkat belakangan ini.
Baca Juga: AAJI Targetkan Seluruh Perusahaan Asuransi Jiwa Terapkan KAPJ Sebelum Akhir 2026
Meski demikian, dia bilang OJK akan terus mengamati fenomena merebaknya kasus influenza yang terjadi saat ini.
"Dari sisi kami belum ada data yang masuk. Namun, kami juga mengamati dan pengaruhnya tentu akan dilihat. Apakah kemudian menaikan premi dan lain sebagainya? Tentunya kami akan menunggu sampai ada laporan-laporan terlebih dahulu dari industri," ungkapnya.
Sebelumnya, PT Asuransi Allianz Life Indonesia (Allianz Life) mengalami kenaikan klaim akibat kasus influenza. Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia Tubagus Argie Sunartadirdja mengatakan sepanjang Januari 2026 hingga minggu kedua September 2026, Allianz Life Indonesia telah membayarkan klaim terkait influenza mencapai lebih dari Rp 13,8 miliar untuk 1.857 kasus.
Adapun jumlah kasus influenza yang membutuhkan rawat inap di rumah sakit pada Januari 2026 hingga Agustus 2026 meningkat 47% secara Year on Year (YoY).
Tubagus menyampaikan peningkatan kasus influenza menjadi pengingat bagi masyarakat untuk tetap memperhatikan kondisi kesehatan, terutama ketika muncul gejala seperti demam, batuk, dan tubuh terasa lemas.
"Mengenali gejala sejak awal dan memahami kapan perlu mendapatkan pertolongan medis merupakan bagian penting untuk membantu mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius,” ucapnya dalam keterangan resmi, Kamis (1/10).
Tubagus menerangkan data klaim tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan penanganan influenza tidak bisa dianggap enteng dan dapat meningkat tergantung kondisi masing-masing nasabah, mulai dari rawat jalan hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Baca Juga: AAJI Dorong KAPJ, Premi Asuransi Kesehatan Diharapkan Tak Terus Naik
"Oleh karena itu, kesiapan menghadapi biaya kesehatan menjadi bagian yang penting dalam perencanaan perlindungan diri dan keluarga,” katanya.
Tubagus mengatakan kebutuhan perawatan tersebut juga menunjukkan bahwa influenza dapat memerlukan penanganan medis yang beragam, mulai dari pemeriksaan dan pengobatan rawat jalan hingga rawat inap pada kondisi tertentu.
Dia bilang salah satu jenis influenza yang perlu diperhatikan adalah influenza A yang pada kondisi tertentu dapat menyebabkan komplikasi, terutama pada kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta individu dengan penyakit kronis atau sistem kekebalan tubuh yang terganggu.
Komplikasi yang dapat terjadi, antara lain pneumonia, bronkitis, dan faringitis, serta dapat memperburuk kondisi kesehatan yang sudah dimiliki sebelumnya.
Bagi kelompok yang memiliki risiko komplikasi lebih tinggi, Tubagus menerangkan konsultasi dengan tenaga kesehatan sejak awal juga dapat membantu menentukan penanganan yang sesuai.
Baca Juga: AAJI Optimistis Asuransi Jiwa Bisa Pertahankan Tren Pertumbuhan hingga Akhir 2026
Lebih lanjut, Tubagus menjelaskan salah satu karakteristik Influenza A adalah kemampuannya mengalami perubahan genetik. Oleh karena itu, dia bilang pemantauan terhadap jenis dan karakteristik virus yang beredar menjadi bagian penting dalam pengawasan influenza.
Adapun gejala Influenza A umumnya dapat muncul secara tiba-tiba, antara lain demam atau menggigil, batuk, sakit tenggorokan, hidung tersumbat atau pilek, sakit kepala, nyeri otot dan tubuh terasa pegal, lemas dan mudah lelah, hingga enurunan nafsu makan. Tubagus menyebut pada anak-anak, infeksi juga dapat disertai mual, muntah, atau diare.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag