Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina meminta Kementerian Sosial (Kemensos) memastikan pemberian perlindungan sosial bagi korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) berjalan berkelanjutan.
Menurut Selly, dikutip di Jakarta, Rabu, penanganan bencana tidak boleh hanya berfokus pada kebutuhan darurat, tetapi juga harus memperhatikan keberlanjutan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat terdampak.
"Karena musibah hari ini bukan musibah yang boleh dianggap sembarangan, ada masyarakat yang terdampak dan tentu juga ini akan berpengaruh terhadap jumlah kesejahteraan dan perlindungan sosial yang berada di bawah Kementerian Sosial,” ujar Selly.
Berikutnya, Selly juga meminta Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf agar memberikan perhatian lebih terhadap penanganan dampak bencana di NTT. Ia berharap berbagai agenda lain yang menjadi tanggung jawab Kementerian Sosial tidak mengurangi fokus terhadap pelayanan dan perlindungan masyarakat terdampak bencana.
“Jangan sampai tugas pokok Kementerian Sosial justru terabaikan karena ada hal lain. Ini harus menjadi evaluasi kami. Saya harap Pak Menteri bisa lebih fokus terhadap tugas-tugas di Kementerian Sosial di tengah bencana ini,” ucapnya.
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat per Selasa (25/8), jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah menjadi 103 jiwa.
"Ada ketambahan tiga jiwa meninggal menjadi 103 untuk hari ini catatan kami," kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers terkait penanganan gempa di NTT yang diikuti secara daring dari Jakarta, Selasa (25/8).
Diketahui sebelumnya sejak gempa terjadi di NTT pada 15 Agustus 2026 hingga Senin (24/8) lalu, jumlah korban adalah sebanyak 100 jiwa. Data terkini menunjukkan bahwa 103 jiwa korban meninggal itu terdiri atas 41 korban jiwa di Kabupaten Manggarai, 34 korban di Manggarai Timur, 13 korban di Nagekeo, 6 korban di Sikka, 5 korban di Ngada, 3 korban di Ende, dan 1 korban di Manggarai Barat.
Berton lalu menyampaikan bahwa berdasarkan jenis kelamin, korban meninggal dunia 45 persen laki-laki dan 55 persen perempuan. Kemudian berdasarkan kelompok usia, korban jiwa terdiri atas 45 persen lansia, 37 persen dewasa, 12 persen anak dan remaja, serta sisanya merupakan balita dan batita.
Baca juga: Kemenkes kirim 206 TCK pulihkan layanan kesehatan korban gempa NTT
Baca juga: Kemensos salurkan santunan duka belasan korban gempa Nagekeo
Baca juga: Kemensos terus perkuat penanganan kedaruratan gempa NTT
Pewarta: Tri Meilani Ameliya
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.