Arabia Tour: 80 peserta umrah batal berangkat bukan peserta kami

Padang (ANTARA) - Biro Perjalanan Umrah dan Haji Arabia Tour and Travel memastikan 80 peserta umrah yang batal berangkat saat inspeksi yang dilakukan Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Sumatera Barat (Sumbar) bukan berasal dari perusahaan mereka.

Senior Manager Arabia Tour and Travel, Derry Alindra mengatakan puluhan peserta umrah yang diberangkatkan pihaknya pada Rabu (30/10/2026) saat ini telah berada di Arab Saudi.

“Kami sangat menyayangkan adanya foto jamaah Arabia Tour yang tersebar dan dikaitkan dengan narasi puluhan jamaah gagal berangkat tersebut” kata Derry Alindra di Kota Padang, Kamis.

Ia mengatakan total peserta yang diberangkatkan pihaknya pada Rabu itu 44 orang. Dimana seluruh proses keberangkatan dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) berjalan lancar dan tanpa kendala.

"Alhamdulillah, per hari ini, tanggal 1 Oktober 2026, seluruh jamaah kita sudah berada di Madinah. Saat ini mereka sedang melaksanakan ibadah dan juga ziarah di Kota Madinah," ungkapnya.

Pihaknya lanjut Derry, hingga saat ini tidak mengetahui dengan pasti identitas maupun asal dari 80 peserta yang diduga batal berangkat sebagaimana yang tengah diselidiki oleh pihak Kemenhaj setempat.

Menyikapi fenomena adanya jamaah umrah yang gagal berangkat, Ia menghimbau agar masyarakat Sumatera Barat agar lebih teliti dan berhati-hati dalam memilih biro perjalanan umrah.

Ia mengingatkan masyarakat untuk selalu memastikan biro perjalanan umrah yang dipilih telah memiliki izin resmi yang dikeluarkan oleh Kementerian Haji dan Umrah serta terakreditasi guna menghindari kerugian di kemudian hari.

"Silakan pilih travel umrah yang sudah berizin resmi. Pastikan juga program '5 Pasti Umrah' diterapkan di travel tersebut. Sangat disayangkan jika nanti ada jamaah yang batal atau tidak diberangkatkan," imbaunya.

Sementara itu dalam keterangan resminya, Kepala Kanwil Kemenhaj Sumbar M. Rifki mengatakan pihaknya masih mengumpulkan dan mencocokkan data terkait jemaah yang diduga batal berangkat.

“Sampai saat ini, belum ada kesimpulan mengenai pihak yang bertanggung jawab dalam persoalan tersebut,” kata dia.

Ia juga mengingatkan travel umrah agar tertib melaporkan data peserta umrah paling lambat H-1 jelang keberangkatan ke Tanah Suci. Dimana data tersebut menjadi bagian penting dalam pengawasan penyelenggaraan perjalanan umrah.

Travel juga diminta memastikan seluruh fasilitas yang dijanjikan kepada peserta tercantum dalam kontrak. Informasi tersebut meliputi layanan yang akan diterima selama perjalanan.

Selain itu, Dokumen kontrak tersebut juga dapat menjadi dasar rujukan bagi persert umrah nantinya ketika terjadi persoalan terkait layanan yang diberikan oleh pihak travel

“Semua yang dijanjikan kepada jemaah harus jelas dalam kontrak. Kontrak menjadi dasar bagi jemaah dan travel dalam menjalankan hak dan kewajiban masing-masing.” kata dia.

Ia menegaskan pengawasan tidak hanya dilakukan terhadap keberangkatan jemaah tetapi juga mencakup kesesuaian izin, promosi, data dan layanan yang dijanjikan travel.

Sehingga seluruh travel dihimbau untuk menjalankan kegiatan sesuai izin yang dimiliki, serta memberikan kepastian layanan dan perlindungan kepada jemaah dari mulai berangkat hingga kembali ke Tanah Air.