Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Artificial Intelligence (AI) saat ini sudah mampu lulus ujian profesi advokat dan akuntan. Mampu berpengetahuan kognitif dengan baik. Bila didukung oleh database yang baik. Jawaban-jawaban AI akan mampu lulus ujian kompetensi untuk jabatan fungsional apa pun.
Singkatnya, AI yang sudah masuk kategori Artificial Super Intelligence (ASI) dan kelak mengarah pada perilaku layaknya manusia super pintar (Artificial General Intelligence/AGI) secara hipotetis akan menjadi mesin paling pintar di dunia.
Sejarah mencatat bahwa kecerdasan buatan (Deep Blue) mampu mengalahkan grandmaster catur dunia, Garry Kasparov, pada tahun 1990. Lalu, fenomena AlphaGo pada tahun 2016 menunjukkan bahwa dalam 40 hari tanpa input data dari manusia, ia mampu berpikir secara mandiri. DeepMind mengalahkan manusia dalam permainan papan (board game) Go, sebuah permainan strategi asal China yang berusia ribuan tahun. Lebih kompleks daripada permainan catur.
Hingga akhirnya, semua perusahaan teknologi komunikasi (Google, META, X, OpenAI, ChatGPT, DeepSeek, QWEN, dan kini mungkin sudah mencapai ratusan) berlomba-lomba mewujudkan konsep AGI. Belum lagi, masing-masing negara juga ikut bersaing untuk mewujudkan AI yang super pintar.
Arab Saudi, India, China, dan AS mengucurkan miliaran dolar untuk mengembangkan teknologi ini. Mereka ingin mengembangkan AGI atau ASI. Beberapa ahli komputasi terpukau oleh kemampuannya untuk bekerja tanpa kendali manusia. Diperparah, developer ingin menjadi yang terdepan dalam mewujudkan otonomi AI mereka. Walaupun AGI dan ASI ini baru dalam taraf perwujudan konsep dan hipotesis. Mereka disebut sebagai kelompok optimis.
Sebagian panik dan berpikir pesimis bahwa ini adalah awal dari kemanusiaan yang pada akhirnya akan jatuh. Sebagian sudah mengaitkannya dengan film sci-fi Hollywood "Terminator" yang berjilid-jilid itu. Sebagian lagi masih kalem dan berpikir positif.
Mesin pembelajar versi ANI (Artificial Narrow Intelligence) masih dianggap sebagai robot yang bisa salah dan pandir. Kemajuan ANI saat ini didorong oleh tiga pilar utama: ketersediaan Big Data, kapasitas komputasi awan yang masif, dan terobosan dalam Neural Networks (jaringan saraf tiruan).
AGI dan konsep ASI masih harus mendapatkan asupan mahadata dari server sebesar Kota Bogor. Hipotesisnya, ASI dan AGI masih berupa konsep dan belum ada yang perlu dikhawatirkan. Bahwa akan terjadi pemusnahan massal akibat mesin yang mengambil alih kemanusiaan (intisari film Terminator), perlukah dikhawatirkan?
The AI Doc: Or How I Became an Apocaloptimist
Setelah menonton film dokumenter Netflix: The AI Doc: Or How I Became an Apocaloptimist. Terminator dan film ini mengindikasikan bahwa jaringan saraf supercepat, MahaData, dan otonom adalah elemen-elemen yang akan menunda bola lepas liar "Skynet". Film dokumenter The AI Doc mampu mengajak pemirsanya bersikap kritis terhadap perkembangan AI dalam 10 tahun terakhir. Karena AI dan fitur otonom juga disematkan dalam sistem persenjataan.
Sudut pandang film ini adalah: apakah anak bayi saya akan mampu bertahan, berkembang, atau malah punah akibat teknologi AI? Ada gunung kecemasan yang menghantui mata produser sekaligus aktor film ini. Aksi algoritma dan manipulasi kecerdasan buatan mungkin bisa kita lihat dari aksi bom di SMA 72 Jakarta dan dua aksi lainnya yang tidak terlalu diekspos oleh media (siswa MAN di Kota Padang dan siswa SMP di Kabupaten Kubu Raya).
Bagaimana mesin menghanyutkan si korban dengan akal yang masih belum stabil? Untuk melukai banyak orang? Tak lama setelah bom di SMA, Australia dan negara-negara di dunia membuat aturan untuk memblokir konten medsos bagi anak-anak usia di bawah 16 tahun. Permainan online yang dianggap agresif dibatasi penggunaannya. Internet tidak lagi menjadi media pembelajaran online bagi siswa di sekolah-sekolah.
Mungkin fenomena "Terminator" masih jauh dari kenyataan. Namun, berbagai organisasi internasional mendesak adanya konvensi global untuk melarang perlombaan senjata berbasis AI (AI arms race) serta menghentikan pengembangan sistem senjata otonom yang mematikan dan beroperasi tanpa kendali penuh manusia.
Kecolongan tiga murid yang membuat bom dan meledakkannya di sekolah perlu diteliti lebih lanjut. Penulis belum memiliki data mengenai screen time dan riwayat penggunaan layar internet mereka. Namun, apabila diperhatikan, apakah ada adversarial attack yang membuat algoritma sensor tidak mampu mendeteksi gambar-gambar berbahaya (disturbing pictures) atau gambar provokatif yang (mungkin) sengaja disematkan untuk memuaskan usernya?
Perkembangan AI di Indonesia masih berada pada tahap ANI. Belum AGI, beberapa influencer malah sudah menggolongkan AI sebagai agen yang mendangkalkan kecerdasan dan kebijakan. Konon warga net+62 sudah menuduhnya sebagai Dajjal.
Apabila hipotesis teknologi AGI sudah tercapai dan satu perusahaan teknologi semakin terdepan dalam kompetisi AI, maka kemungkinannya akan bertransformasi menjadi Dajjal pada akhir zaman. Apabila AI digunakan untuk menyebarkan fitnah, memicu adu domba, menimbulkan pertikaian, dan terlibat secara berlebihan.
Anakku yang tinggal di sekolah berasrama pernah sekali waktu mengingatkan di grup WA keluarga: "Jangan kasih makan AI...." Saya sebagai Gen X tentu kurang paham maksudnya. Karena saya sering memposting konten hasil AI di grup keluarga.
Tapi setelah menonton film itu, saya jadi sedikit paham maksud anak saya. AI tidak akan memanipulasi kita jika kita tidak memberikan akses otonom kepada mereka. Namun, perlu diwaspadai bahwa anak-anak kita akan menghadapi tantangan mereka sendiri.
Gen X dengan kekhawatiran perang nuklir, Gen Milenial dengan blackout dan shutdown komputer pada tahun 2000. Kini, generasi alpa menghadapi tantangan terkait AI yang kira-kira akan memudahkan apa? Atau mendampingi mereka? Atau malah akal imitasi yang menghancurkan dan menggerogoti? Film itu cukup jelas dalam memberikan solusi tentang di mana kita sepatutnya berdiri. Tetap waspada.
(miq/miq)