Bahlil: Impor minyak Rusia jalan selama ekonomis dan sesuai aturan - ANTARA News Jawa Timur

Jakarta (ANTARA) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah melanjutkan pembelian minyak mentah dari Rusia dengan mempertimbangkan kepatuhan terhadap aturan dan aspek keekonomian.

Ia mengatakan pemerintah menentukan sumber pasokan minyak mentah berdasarkan skala prioritas di tengah dinamika kondisi global.

“Kita sekarang ini kan lagi kondisi global kayak begini, kita mencari skala prioritas mana yang duluan bisa mendatangkan crude kita. Selama tidak menabrak aturan dan secara ekonomis masuk,” kata Bahlil di Jakarta, Jumat.

Terkait perkembangan tahap kedua pembelian minyak mentah dari Rusia, Bahlil memastikan proses tersebut telah berjalan.

“Sudah, sudah, sudah mulai jalan, ya,” ujar dia.

Bahlil menjelaskan pembelian minyak mentah dari Rusia merupakan bagian dari kerja sama antarpemerintah atau government-to-government (G-to-G) yang kemudian dilanjutkan pada tingkat pemerintah dengan badan usaha atau government-to-business (G-to-B).

“Saya mengatakan sekali lagi ya, bahwa pembelian crude dari Rusia itu merupakan bagian daripada kontrak G-to-G yang kemudian diakhiri dengan G-to-B,” ucapnya.

Menurut Bahlil, pemenuhan kebutuhan energi nasional menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam menentukan sumber minyak mentah di tengah perkembangan global.

“Saya lebih mementingkan kepentingan rakyat daripada kepentingan lain. Apalagi kedaulatan bangsa kita tidak boleh diintervensi oleh siapa pun. Karena kita menganut mazhab politik bebas aktif,” tutur dia.

Kebutuhan terhadap sumber pasokan minyak dari luar negeri berlangsung ketika produksi domestik masih berada di bawah target.

Data Kementerian ESDM mencatat produksi minyak nasional pada 8 September 2026 sebesar 571.731 barel per hari, sedangkan target 2026 sebesar 610 ribu barel per hari.

Sebelumnya, Bahlil pada 31 Agustus mengatakan target lifting minyak 610 ribu barel per hari pada 2026 belum tercapai. Kementerian ESDM mencatat rata-rata produksi minyak mentah hingga 31 Juli sebesar 578.156 barel per hari.

Pada 5 Agustus 2026, Bahlil menyampaikan tahap pertama impor minyak mentah dari Rusia telah tiba di Indonesia, sedangkan tahap kedua sedang berjalan.

Pemerintah juga tengah menyiapkan kontrak jangka panjang untuk pengadaan minyak mentah dari negara tersebut.

Bahlil ketika itu menjelaskan pengadaan minyak Rusia dilakukan negara melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas), bukan oleh PT Pertamina (Persero).

Pengadaan minyak dari Rusia merupakan bagian dari realisasi komitmen impor sebesar 150 juta barel yang direncanakan dilakukan secara bertahap hingga akhir 2026. Bahlil pada Juni menugaskan Lemigas untuk menjalankan pengadaan tersebut.

Mekanisme tersebut juga memiliki landasan Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2026 tentang Pengadaan Minyak Bumi, Bahan Bakar Minyak, dan/atau Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk Ketahanan Energi Nasional yang berlaku sejak 30 April 2026.

Perpres tersebut mengatur pengadaan minyak bumi untuk kebutuhan kilang dalam negeri serta keandalan pasokan BBM dan LPG dari dalam maupun luar negeri guna menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat dan industri.

Kerja sama energi Indonesia dan Rusia kembali mengemuka saat Eastern Economic Forum di Vladivostok pada 3 September 2026.

Dalam forum tersebut, Presiden Prabowo Subianto mengatakan Indonesia menyambut kerja sama dengan Rusia untuk meningkatkan produktivitas eksplorasi, produksi, dan pengolahan minyak serta gas bumi.

Pewarta: Aria Ananda
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.