Bangka Tengah integrasikan budi daya ikan perkuat ekonomi desa - ANTARA News Bangka Belitung

Koba, Babel, (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengintegrasikan pengembangan budi daya ikan dari hulu hingga hilir melalui konsep "Sister Klaster", guna memperkuat ekonomi desa, meningkatkan ketahanan dan penyediaan bahan pangan bergizi bagi masyarakat.

Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Tengah Ahmad Syarifullah Nizam mengatakan strategi tersebut menjadi bagian dari arah kebijakan pembangunan daerah yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bangka Tengah 2025-2029. 

"Sektor perikanan ditetapkan sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah melalui peningkatan produktivitas dan nilai tambah perikanan tangkap maupun budi daya," katanya saat membuka kegiatan Forum Group Discussion (FGD) Pengembangan Sister Klaster Budidaya Ikan di Desa Lampur, Bangka Tengah, Kamis.

Ia mengarahkan hasil budi daya ikan sebagai sumber protein lokal berkelanjutan dengan memperkuat kelembagaan ekonomi masyarakat melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Menurut dia, Bangka Tengah memiliki potensi pengembangan budi daya perikanan dengan luas lahan budi daya air payau mencapai 1.483,08 hektare dan lahan budi daya air tawar seluas 348,52 hektare.

Potensi tersebut didukung satu Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perikanan Budi daya yang memiliki tiga instalasi, yakni 154 kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan), 39 Unit Pembenihan Rakyat (UPR), serta 1.456 pembudidaya ikan.

Daerah tersebut juga telah memiliki satu unit hatchery udang vaname, 12 unit usaha pembesaran udang vaname, 24 unit bersertifikat Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), 17 unit bersertifikat Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB), serta satu unit pembuatan pakan ikan mandiri.

Dari sisi produksi, perikanan budi daya Bangka Tengah menghasilkan 814,51 ton ikan air tawar dan 1.796,70 ton ikan air payau. Produksi benih mencapai 14.726.314 ekor ikan air tawar dan 593.462.530 ekor ikan air payau, sedangkan produksi ikan hias tercatat sebanyak 77.117 ekor.

Komoditas budi daya didominasi udang vaname dengan produksi 1.794,65 ton, disusul lele 391,99 ton dan nila 258,83 ton. 

"Capaian tersebut menunjukkan Bangka Tengah telah memiliki rantai produksi perikanan yang relatif lengkap mulai dari pembenihan, pembesaran hingga pemasaran," ujarnya.

Ia mengatakan konsep "Sister Klaster" mengintegrasikan kelompok pembudidaya ikan, koperasi perikanan, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, pelaku usaha pengolahan, serta jaringan pemasaran dalam satu sistem yang saling terhubung sehingga mampu meningkatkan efisiensi produksi dan nilai tambah hasil perikanan.

Melalui integrasi tersebut, pemerintah daerah menargetkan klaster budi daya ikan dapat menjadi pemasok utama protein lokal untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), memperkuat ketahanan pangan desa, memperluas akses pasar bagi pembudidaya, serta menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Jika ketiga elemen, yakni klaster budi daya ikan, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, dan Program Makan Bergizi Gratis dapat diintegrasikan, maka akan mendorong pertumbuhan ekonomi desa, meningkatkan ketahanan pangan lokal, serta mendukung terwujudnya pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan," katanya.

Pewarta: Ahmadi
Editor : Feny Aprianti

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.