Banyak Negara Larang Penggunaan Jilbab, MUI Desak Dunia Bersatu Lawan Islamofobia |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan bahwa Islamofobia masih terus terjadi di berbagai negara, termasuk di Eropa, Amerika, dan India. Pemerintah di seluruh dunia didesak memperkuat kerja sama untuk melawan Islamofobia yang berpotensi memicu rasisme, diskriminasi, hingga pembersihan etnis.

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim mengatakan, di tengah suasana global yang memanas sebagai akibat konflik yang terus tereskalasi dengan korban yang sangat besar dan kehancuran yang sangat serius. Umat Islam masih harus terus mewaspadai, merespons dan mencari jalan terkait dengan isu Islamofobia.

"Saya memandang tindakan atau gerakan Islamofobia terus berjalan, belum berhenti. Di beberapa negara Eropa aksi Islamofobia seperti pelarangan bagi muslim mengenakan hijab atau niqab, misalnya, masih sering terjadi," kata Prof. Sudarnoto kepada Republika, Rabu (30/9/2026)

Prof. Sudarnoto mengatakan, bahkan aksi yang lebih ekstrim juga pernah dilakukan yaitu membakar Alquran di depan umum.

"Saya juga masih menyaksikan tanda-tanda Islamofobia juga terjadi tidak saja di sejumlah negara Barat (Eropa dan Amerika), akan tetapi juga di negeri lain seperti India dengan bentuknya yang berbeda," ujar President the Asia Pacific Coalition for al Quds and Palestine ini.

Ia menerangkan, jika praktek-praktek seperti Islamofobia dibiarkan, maka tingkat Islamofobia akan semakin tinggi dan akan membuka ruang bagi muncul dan berkembangnya rasisme, rasialisme, diskriminasi dan bahkan ethnic cleansing. Ini tidak saja menyangkut ancaman terhadap eksistensi agama dan penganutnya, tapi juga mengancam kedaulatan dan HAM.

"Karena itu saya meminta, sesuai dengan seruan PBB, agar setiap negara berkomitmen kuat untuk melawan Islamofobia sekaligus mengajak negara lain melakukan hal yang sama. Kerjasama diplomatik untuk menghormati, melindungi dan menjaga eksistensi agama dan penganutnya menjadi mutlak," ujarnya.

Prof. Sudarnoto menegaskan, jangan ada negara manapun termasuk negara-negara Barat melakukan pembiaran, terlebih menjadi bagian dari islamofobia. Langkah bersama yang melibatkan unsur civil society di berbagai negara perlu dilakukan.

"Tetap waspadai Islamofobia yang terus bergerak dan berkembang di mana-mana, dengan memperkokoh konsolidasi pemerintah dan masyarakat sipil," kata Prof. Sudarnoto.