Barantin dorong 1.000 pelaku usaha Sulteng menembus pasar ekspor

Barantin dorong 1.000 pelaku usaha Sulteng menembus pasar ekspor

Selasa, 29 September 2026 09:23 WIB

Image Print

Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding bersama sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan menunjukkan naskah Deklarasi Perkarantinaan dalam Gerakan 1.000 Pelaku Usaha Ekspor dan Pengusaha UMKM Menuju Pasar Global sebagai upaya memperkuat kesiapan produk dan akses pasar ekspor di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (28/9/2026). (ANTARA/HO-Barantin)

Jakarta (ANTARA) - Badan Karantina Indonesia (Barantin) mendorong 1.000 pelaku usaha termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Sulawesi Tengah (Sulteng) bisa memenuhi standar ekspor seiring nilai ekspor durian daerah itu ke China mampu mencapai sekitar Rp871 miliar hingga Agustus 2026.

Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mengatakan kesiapan ekspor tidak hanya ditentukan oleh potensi komoditas, tetapi juga pemenuhan standar kesehatan, keamanan, mutu, ketertelusuran, dan persyaratan teknis negara tujuan.

“Transformasi pelaku usaha menuju pasar global harus dimulai dari kesiapan produk. Tidak cukup hanya memiliki komoditas yang potensial, tetapi juga harus mampu memenuhi standar kesehatan, keamanan, mutu, ketertelusuran, serta persyaratan teknis yang ditetapkan negara tujuan ekspor,” kata Karding dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Selasa.

Upaya tersebut dilakukan melalui Deklarasi Perkarantinaan Gerakan 1.000 Pelaku Usaha Ekspor dan Pengusaha UMKM Menuju Pasar Global yang mempertemukan pemerintah pusat dan daerah, pelaku ekspor, serta UMKM di Sulawesi Tengah, Senin (28/9).

Menurut Karding, pendampingan kepada pelaku usaha merupakan bagian dari transformasi peran Barantin, selain menjalankan fungsi biosekuriti pada pintu masuk dan keluar wilayah Indonesia.

Berdasarkan data Best Trust Barantin, ekspor durian Sulawesi Tengah ke China hingga Agustus 2026 mencapai 8.377 ton dengan nilai sekitar Rp871 miliar.

Selain durian, komoditas perikanan Sulawesi Tengah yang telah diekspor antara lain 9.438 ekor kepiting bakau senilai sekitar Rp829,4 juta, 65.530 kilogram (kerang darah senilai sekitar Rp1,6 miliar, serta 25.739 kg tuna senilai sekitar Rp2,06 miliar.

Komoditas lain dari Sulawesi Tengah yang telah memasuki perdagangan internasional antara lain kelapa bulat dan sidat hidup.

Karding mengatakan peningkatan akses pasar perlu diikuti pelayanan karantina yang cepat, efisien, transparan, dan akuntabel, tanpa mengurangi fungsi perlindungan terhadap kesehatan hewan, ikan, tumbuhan, serta keamanan hayati.

“Kepatuhan terhadap ketentuan karantina memastikan lalu lintas hewan, ikan, tumbuhan, dan produknya berlangsung secara legal, aman, serta memenuhi persyaratan kesehatan dan keamanan hayati,” ujar dia.

Barantin juga melakukan diplomasi teknis dengan otoritas negara mitra untuk menyelaraskan persyaratan sanitari dan fitosanitari, sertifikasi, ketertelusuran, serta protokol ekspor.

Salah satu akses pasar yang telah dibuka ialah ekspor langsung durian beku Indonesia ke China melalui penandatanganan Protokol Ekspor Durian Beku Indonesia ke China pada 25 Mei 2025.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah yang dicantumkan dalam bahasan Barantin, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan berkontribusi 16,36 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Sulawesi Tengah pada 2025.

PDRB Sulawesi Tengah atas dasar harga berlaku pada periode tersebut tercatat sebesar Rp415,48 triliun.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid mengatakan pemerintah daerah berupaya agar komoditas unggulan tidak berhenti dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi berkembang menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

“Penguatan kemudahan investasi dan pembangunan infrastruktur pendukung menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekspor daerah,” kata Anwar.

Menurut dia, pelaku usaha perlu diperkuat dari sisi standar produksi, sertifikasi, kemasan, ketertelusuran, hingga kontinuitas pasokan agar produk pertanian, perkebunan, perikanan, pangan, serta olahan UMKM dapat menjangkau pasar internasional.

Gerakan tersebut melibatkan bupati dan wali kota se-Sulawesi Tengah, forum koordinasi pimpinan daerah, instansi terkait, eksportir, serta pelaku UMKM untuk memperkuat rantai ekspor mulai dari tingkat produksi.

Pewarta : Aria Ananda
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026