Jakarta -
Saat dunia mengkhawatirkan kemungkinan kecerdasan buatan (AI) yang tak terkendali dapat memusnahkan umat manusia, para pemimpin Amerika Serikat dan China memaparkan visi mereka untuk teknologi yang dianggap penentu zaman tersebut.
Mengesampingkan seruan ilmuwan dan eksekutif AI dari Anthropic, OpenAI, dan Google untuk memperlambat pengembangan AI, Presiden AS Donald Trump mengatakan hal terpenting saat ini adalah mempertahankan posisi AS agar tetap di atas China.
"Kita memimpin atas China dalam bidang AI dan terus terang, saya ingin mempertahankannya seperti itu, karena siapa pun yang memenangkan AI akan memenangkan segalanya," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun pemimpin China Xi Jinping menyuarakan pandangan berbeda, yaitu agar ada lebih banyak kerja sama internasional.
"Negara-negara harus mendorong open source, keterbukaan, kolaborasi, dan saling berbagi," ucapnya dalam pidato di India di hadapan para pemimpin Global South. Ia mengulangi usulan pakta tata kelola AI global meski tak memberikan rincian.
Perbandingan pesan Trump dan Xi ini mengindikasikan kurangnya konsensus dan adanya defisit kepercayaan yang mendalam di antara kedua negara adidaya tersebut dalam persaingan berisiko tinggi untuk mendominasi AI.
AS tampaknya makin menjadikan dominasinya di sektor ini sebagai senjata dan memandangnya aset strategis yang harus dilindungi dan diekspor ke negara-negara sahabat, sementara China yang posisinya tertinggal, mengusulkan model yang lebih terbuka.
Isu AI dipastikan jadi sorotan utama pada pertemuan Trump-Xi di Washington dalam dua pekan ke depan. Pada pertemuan di Beijing, keduanya membahas batasan-batasan AI namun hanya membuahkan sedikit hasil.
Seberapa besar ancaman China?
AI China tertinggal dari para pesaingnya di Amerika. Ini sebagian dipengaruhi oleh kontrol teknologi AS yang membatasi akses perusahaan China ke prosesor AI yang sangat penting untuk melatih model AI yang makin kompleks.
Namun tahun lalu, startup DeepSeek mengejutkan industri global dengan model yang kinerjanya mendekati sistem terkemuka Amerika meskipun menggunakan komputasi yang diklaim jauh lebih sedikit.
Sejak itu, laboratorium AI China berinovasi lebih cepat. Alibaba, Z.AI, Minimax, dan yang terbaru Moonshot, meluncurkan model berkemampuan serupa yang menantang dominasi perusahaan Amerika.
Akan tetapi, seiring kemajuan AI China, tuduhan kecurangan dari AS makin kencang. Washington, bersama OpenAI dan Anthropic, menduga perusahaan China mencuri kekayaan intelektual Amerika dengan melatih model mereka menggunakan output model-model terdepan AS, proses yang dikenal sebagai distilasi.
Pekan lalu, berbagai badan federal AS, termasuk FBI dan Badan Keamanan Nasional (NSA) mengklaim perusahaan-perusahaan AI China melakukan pencurian berskala industri terhadap kompetitor Amerika.
Beijing menolak keras tuduhan itu, sementara peneliti laboratorium AI China sebagian besar bungkam. "Menyebar berbagai narasi ancaman, mencari-cari konfrontasi, dan melakukan persaingan jahat hanya akan mengganggu upaya tata kelola AI global dan tidak akan menguntungkan pihak mana pun," tegas jubir Kemenlu China, Guo Jiakun.
Bisakah kedua negara adidaya bersatu dalam hal AI? Para ahli pesimis. Ketegangan antara AS dan China terus berkobar, termasuk di bidang AI ini. Kendala utama adalah masalah kepercayaan.
Washington khawatir kerja sama dapat memberi China akses menuju teknologi yang akan memperkuat kekuatan militer dan ekonominya, sementara Beijing melihat argumen keamanan nasional AS hanyalah alasan untuk mengekang kebangkitan teknologi China.
(fyk/rns)
TAGS
LIHAT LAINNYA