Marathon, AI, Hingga Detoks Digital, Ini Wajah Baru Wisata Muslim

Jakarta -

Kalau mendengar wisata muslim, mungkin yang terbayang masih umrah, masjid, atau berburu makanan halal. Padahal sekarang traveler muslim juga berburu tiket marathon, liburan detoks digital, sampai pengalaman wisata yang lebih bermakna.

Cara traveler muslim berlibur memang terus berubah. Mereka tak lagi hanya mencari destinasi yang ramah muslim, tetapi juga pengalaman yang sesuai dengan minat, gaya hidup, dan nilai yang mereka pegang.

Perubahan itu didorong oleh banyak hal, mulai dari pertumbuhan populasi muslim global, meningkatnya kelas menengah, hingga perkembangan teknologi yang membuat perjalanan semakin mudah direncanakan. Di sisi lain, generasi muda Muslim juga memiliki ekspektasi berbeda saat bepergian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka ingin perjalanan yang nyaman, fleksibel, autentik, dan tetap selaras dengan nilai-nilai yang diyakini. Lalu, tren apa saja yang diperkirakan akan membentuk masa depan perjalanan muslim?

10 Tren Baru yang Sedang Mengubah Cara Traveler Muslim Berlibur

1. Makin Banyak yang Jalan Sendiri

Kalau dulu paket tur menjadi pilihan utama, sekarang banyak traveler muslim lebih suka menyusun itinerary sendiri. Mereka ingin lebih bebas menentukan destinasi, aktivitas, hingga tempo perjalanan sesuai minat masing-masing.

Bagi generasi milenial dan Gen Z, pengalaman sering kali lebih penting daripada sekadar mencentang daftar tempat wisata populer.

2. Perempuan Muslim Makin Berperan

Wahana Ramah Muslim Hong Kong DisneylandWahana ramah Muslim Hong Kong Disneyland (Kanavino/detikTravel)

Perempuan muslim kini bukan hanya ikut bepergian, tetapi juga sering menjadi pengambil keputusan dalam perjalanan keluarga maupun kelompok.

Karena itu, faktor keamanan, kenyamanan, serta fasilitas ramah Muslim seperti ruang salat, area privat, atau akomodasi yang mendukung kebutuhan keluarga menjadi semakin penting.

3. Liburan yang Memberi Dampak Positif

Konsep wisata berkelanjutan terus berkembang. Kini banyak traveler tidak hanya ingin mengurangi dampak negatif perjalanan, tetapi juga memberi manfaat bagi tempat yang mereka kunjungi.

Misalnya dengan mendukung usaha lokal, mengikuti aktivitas pelestarian budaya, atau memilih destinasi yang aktif menjaga lingkungan.

4. Detoks Digital Jadi Pilihan

Di tengah hidup yang makin sibuk dan penuh notifikasi, banyak orang mulai mencari liburan yang memberi kesempatan untuk benar-benar beristirahat.

Retret alam, wisata kesehatan, hingga perjalanan yang mengajak wisatawan menjauh sejenak dari media sosial diperkirakan akan semakin diminati.

5. Wisata Olahraga Semakin Menarik

Gaya hijab Nikita Willy saat ikut hyrox di Hong Kong.Nikita Willy saat ikut hyrox di Hong Kong. (Dok. Thread Nikita Willy)

Fenomena sport tourism juga mulai merambah pasar wisata muslim. Mulai dari marathon, Hyrox, hingga berbagai ajang olahraga internasional, semakin banyak traveler muslim yang bepergian untuk mengikuti atau menyaksikan kompetisi olahraga.

Ketersediaan makanan halal, ruang salat, dan fasilitas pendukung ibadah menjadi pertimbangan penting saat memilih destinasi.

6. Akses untuk Semua Jadi Prioritas

Wisata ramah muslim kini juga semakin memperhatikan aspek inklusivitas. Mulai dari fasilitas bagi penyandang disabilitas hingga informasi yang lebih mudah diakses oleh wisatawan dengan kebutuhan khusus, semua menjadi bagian dari pengalaman perjalanan yang lebih nyaman.

7. Destinasi Non-Muslim Ikut Berlomba

Musala di Bandara Haneda Tokyo, JepangMusala di Bandara Haneda Tokyo, Jepang (Fitraya Ramadhanny/detikTravel)

Negara-negara seperti Singapura, Jepang, Korea Selatan, hingga Inggris semakin serius mengembangkan fasilitas ramah muslim.

Di sisi lain, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar juga terus berinvestasi untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata global. Persaingan itu membuat pilihan traveler Muslim semakin beragam.

8. Sertifikasi Halal Semakin Penting

Traveler muslim kini semakin kritis dalam memilih layanan wisata. Mereka tidak hanya melihat label halal, tetapi juga mencari informasi yang jelas dan terpercaya sebelum memesan hotel, restoran, atau aktivitas wisata tertentu.

Karena itu, sertifikasi halal yang transparan diperkirakan akan menjadi faktor yang semakin menentukan.

9. AI Akan Makin Membantu Perjalanan

Teknologi kecerdasan buatan atau AI mulai memainkan peran besar dalam dunia pariwisata. Mulai dari membantu menyusun itinerary, mencari restoran halal terdekat, hingga memberikan rekomendasi destinasi yang sesuai minat, semuanya bisa dilakukan lebih cepat dan personal.

Bagi traveler muslim, teknologi berpotensi membuat perjalanan menjadi lebih praktis dan nyaman.

10. Mencari Makna, Bukan Sekadar Destinasi

Pada akhirnya, banyak traveler muslim kini tidak hanya mencari tempat yang indah untuk difoto. Mereka ingin pulang dengan pengalaman baru, mengenal budaya yang berbeda, bertemu orang-orang baru, atau mendapatkan perspektif yang tidak mereka temukan di rumah.

Perjalanan bukan lagi sekadar soal pergi jauh, tetapi juga tentang apa yang dibawa pulang setelahnya.

(fem/fem)