Ringkasan
Menabung tetap menjadi fondasi penting dalam mempersiapkan dana pendidikan. Namun, kenaikan biaya kuliah dan berbagai pengeluaran lain selama masa studi membuat tabungan saja belum tentu cukup untuk menjaga keberlangsungan pendidikan.
Perencanaan dana pendidikan yang lebih komprehensif idealnya mencakup:
menabung secara rutin sejak dini;
berinvestasi sesuai profil risiko;
menyiapkan dana darurat;
mengantisipasi inflasi biaya pendidikan;
melindungi kondisi keuangan dari risiko yang dapat mengganggu kemampuan memperoleh penghasilan.
Dengan pendekatan tersebut, keluarga memiliki peluang lebih besar untuk menjaga rencana pendidikan tetap berjalan meski menghadapi perubahan kondisi ekonomi.
Biaya Kuliah Terus Naik, Berapa Besar Dana yang Harus Disiapkan?
Salah satu tantangan terbesar dalam menyiapkan dana pendidikan adalah terus meningkatnya biaya pendidikan dari tahun ke tahun.
Berdasarkan Statistik Penunjang Pendidikan 2024 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata biaya pendidikan pada jenjang perguruan tinggi mencapai Rp19,01 juta per tahun ajaran. Angka tersebut merupakan rata-rata nasional sehingga kebutuhan riil setiap mahasiswa dapat berbeda bergantung pada kampus, program studi, hingga kota tempat menempuh pendidikan.
Sementara itu, pada kelompok rumah tangga dengan pengeluaran 20% tertinggi, rata-rata biaya pendidikan di perguruan tinggi bahkan mencapai Rp24,42 juta per tahun ajaran.
Data tersebut menunjukkan bahwa biaya kuliah bukan lagi pengeluaran yang bisa dipenuhi secara spontan ketika anak berhasil diterima di perguruan tinggi. Semakin tinggi biaya pendidikan, semakin besar pula kebutuhan untuk menyusun rencana keuangan jauh sebelum masa kuliah dimulai.
Namun, angka yang dirilis BPS sebenarnya baru menggambarkan sebagian dari total kebutuhan mahasiswa selama menempuh pendidikan.
Mengapa Biaya Kuliah Terasa Jauh Lebih Mahal?
Banyak orang masih menganggap biaya kuliah identik dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Padahal, dalam praktiknya, kebutuhan mahasiswa jauh lebih kompleks dibanding sekadar membayar biaya akademik.
Selama empat hingga lima tahun masa studi, mahasiswa juga membutuhkan biaya untuk:
tempat tinggal atau kos;
makan sehari-hari;
transportasi;
buku dan bahan kuliah;
laptop atau perangkat pendukung;
akses internet;
kebutuhan praktikum;
kegiatan organisasi maupun tugas akademik.
Jika seluruh komponen tersebut dijumlahkan, total pengeluaran pendidikan bisa jauh melampaui biaya kuliah yang dibayarkan setiap semester.
Inilah alasan mengapa banyak keluarga merasa dana yang sebelumnya dianggap cukup ternyata cepat berkurang setelah mahasiswa mulai menjalani kehidupan kampus.
Kenaikan Biaya Hidup Turut Menambah Beban
Selain biaya pendidikan formal, inflasi juga berpengaruh terhadap kebutuhan mahasiswa.
Harga makanan, biaya transportasi, sewa tempat tinggal, hingga perangkat elektronik cenderung mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Artinya, keluarga bukan hanya menghadapi inflasi pendidikan, tetapi juga inflasi biaya hidup yang berlangsung bersamaan.
Akibatnya, selisih pengeluaran setiap bulan dapat terus melebar apabila tidak diantisipasi sejak awal.
Bagi keluarga kelas menengah, kondisi ini sering kali menjadi tantangan tersendiri. Di satu sisi mereka ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak, tetapi di sisi lain kemampuan finansial harus dibagi untuk memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.
Tantangan Sebenarnya Bukan Masuk Kuliah, tetapi Bertahan Hingga Lulus
Ada satu hal yang sering luput dalam pembahasan mengenai dana pendidikan, yakni kemampuan menjaga kestabilan keuangan selama masa kuliah berlangsung.
Banyak keluarga berhasil mengumpulkan dana untuk biaya masuk perguruan tinggi. Namun, tidak sedikit yang kemudian menghadapi tekanan finansial ketika pengeluaran terus bertambah selama empat tahun atau lebih.
Di sinilah letak perbedaan antara mengumpulkan dana pendidikan dan menjaga keberlangsungan dana pendidikan.
Mengumpulkan dana berfokus pada jumlah uang yang tersedia di awal. Sebaliknya, menjaga keberlangsungan dana pendidikan berarti memastikan kondisi keuangan tetap mampu memenuhi seluruh kebutuhan akademik hingga mahasiswa menyelesaikan studinya.
Perbedaan inilah yang sering kali tidak menjadi perhatian ketika keluarga mulai merencanakan pendidikan anak.
Sebagai ilustrasi, sebuah keluarga telah menyiapkan tabungan sebesar Rp120 juta untuk membiayai kuliah anak selama empat tahun. Pada awalnya, jumlah tersebut terlihat memadai.
Namun memasuki tahun kedua kuliah, biaya kos mengalami kenaikan, laptop yang digunakan untuk mengerjakan tugas harus diganti, sementara salah satu orang tua mengalami penurunan pendapatan akibat perlambatan ekonomi. Dalam kondisi seperti ini, tabungan yang semula diperkirakan cukup dapat terkuras lebih cepat dari rencana.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya mengumpulkan uang sebelum kuliah dimulai, melainkan menjaga agar kondisi keuangan tetap mampu menopang kebutuhan pendidikan hingga mahasiswa lulus.
Baca Juga: Tak Sekadar Kuliah di Australia, Aurel Punya Mimpi Besar Kembangkan Pengobatan Kanker untuk Indonesia
Baca Juga: Beasiswa Garuda Antar Siswa Tangsel Kuliah di Kampus Teknologi Elite Korea
Mengapa Menabung Saja Tidak Lagi Cukup untuk Dana Pendidikan?
Selama ini, banyak keluarga memaknai perencanaan dana pendidikan sebatas mengumpulkan uang melalui tabungan. Cara tersebut memang penting sebagai langkah awal, tetapi kondisi ekonomi yang terus berubah membuat strategi ini perlu dilengkapi dengan perencanaan yang lebih komprehensif.
Ada sejumlah faktor yang dapat mengganggu rencana pendidikan, mulai dari kehilangan pekerjaan, penurunan pendapatan, hingga biaya kesehatan yang datang tanpa diduga. Ketika salah satu risiko tersebut terjadi, dana yang semula dialokasikan untuk pendidikan sering kali harus dialihkan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih mendesak.
Direktur Bisnis Individu merangkap Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Bisnis Korporasi IFG Life, Fabiola Noralita, menilai tantangan pendidikan di Indonesia saat ini tidak hanya berkaitan dengan akses ke perguruan tinggi, tetapi juga kemampuan keluarga menjaga ketahanan finansial hingga masa studi selesai.
"Ketika berbicara mengenai dana pendidikan, banyak yang masih berfokus pada berapa besar dana yang harus dikumpulkan. Padahal, tantangan yang sebenarnya adalah memastikan tujuan tersebut tetap dapat dicapai meskipun kondisi keuangan berubah. Banyak keluarga baru menyadari besarnya komitmen biaya pendidikan ketika anak sudah diterima di perguruan tinggi ketika idealnya perencanaan dilakukan jauh sebelum momen tersebut," ujar Fabiola melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Selasa, 14 Juli 2026.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan hanya besarnya biaya kuliah, melainkan kemampuan mempertahankan komitmen finansial selama empat hingga lima tahun masa pendidikan.
Dengan kata lain, dana pendidikan sebaiknya dipandang sebagai proses jangka panjang yang perlu disiapkan sejak dini, bukan sekadar target nominal yang harus terkumpul sebelum mahasiswa memasuki bangku kuliah.
Ketahanan Finansial Menjadi Fondasi yang Sering Terlupakan
Dalam praktiknya, banyak keluarga sudah disiplin menabung, tetapi belum tentu siap menghadapi perubahan kondisi ekonomi. Padahal, perubahan tersebut dapat memengaruhi kemampuan membiayai pendidikan kapan saja.
Misalnya, seorang pencari nafkah utama mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) ketika anak baru memasuki semester ketiga. Di sisi lain, kebutuhan rumah tangga tetap berjalan, sementara biaya kuliah, uang kos, hingga kebutuhan akademik tidak dapat ditunda.
Situasi seperti ini memperlihatkan bahwa dana pendidikan bukan hanya soal akumulasi aset, tetapi juga kemampuan menjaga stabilitas keuangan ketika risiko muncul.
Fabiola menegaskan bahwa setiap tujuan finansial jangka panjang, termasuk pendidikan, membutuhkan dua fondasi yang sama penting.
"Literasi keuangan perlu berkembang dan bukan lagi berputar mengenai bagaimana mengelola pendapatan, menabung, atau berinvestasi. Literasi keuangan juga termasuk memahami pentingnya membangun ketahanan finansial. Dengan begitu, ketika menghadapi kondisi yang tidak diharapkan, masyarakat tidak harus mengorbankan tujuan-tujuan finansial yang telah dipersiapkan sejak lama," tambahnya.
Pandangan tersebut memperluas makna literasi keuangan. Selama ini, masyarakat lebih banyak mengenal konsep mengatur pemasukan dan pengeluaran. Padahal, kemampuan mengantisipasi risiko juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan finansial keluarga.
Simulasi: Ketika Dana Pendidikan Tidak Habis karena UKT, tetapi Pengeluaran Tak Terduga
Untuk memahami pentingnya ketahanan finansial, bayangkan sebuah keluarga telah menyiapkan dana pendidikan sebesar Rp180 juta yang diproyeksikan cukup untuk empat tahun kuliah.
Pada tahun pertama, seluruh kebutuhan masih berjalan sesuai rencana. Namun memasuki tahun kedua, biaya sewa tempat tinggal naik, laptop yang digunakan untuk kuliah rusak dan harus diganti, sementara salah satu orang tua mengalami penurunan penghasilan karena kondisi ekonomi.
Belum lagi jika muncul kebutuhan kesehatan yang memerlukan biaya besar. Tanpa persiapan menghadapi risiko tersebut, dana pendidikan yang semula diperkirakan cukup dapat berkurang jauh lebih cepat.
Ilustrasi ini menunjukkan bahwa ancaman terbesar terhadap dana pendidikan sering kali bukan berasal dari kenaikan UKT semata, melainkan akumulasi berbagai pengeluaran yang muncul selama masa studi berlangsung.
Karena itu, menyusun rencana pendidikan tidak cukup berhenti pada pertanyaan "berapa biaya kuliahnya", tetapi juga perlu mempertimbangkan "apa yang terjadi jika kondisi keuangan keluarga berubah di tengah perjalanan."
Asuransi Bukan Pengganti Tabungan, Melainkan Pelengkap Perencanaan
Dalam konteks tersebut, perlindungan finansial dapat menjadi salah satu instrumen yang melengkapi strategi pengelolaan dana pendidikan.
Perannya bukan menggantikan tabungan maupun investasi, melainkan membantu menjaga stabilitas keuangan ketika terjadi risiko yang berdampak pada kesehatan atau kemampuan memperoleh penghasilan.
Artinya, dana yang telah dipersiapkan untuk pendidikan tidak harus seluruhnya dialihkan untuk memenuhi kebutuhan lain ketika keluarga menghadapi situasi yang tidak diharapkan.
Pendekatan seperti ini juga menunjukkan bahwa perencanaan keuangan modern tidak lagi hanya berorientasi pada pertumbuhan aset, tetapi juga pada kemampuan mempertahankan tujuan keuangan jangka panjang.
Mengapa Perencanaan Dana Pendidikan Perlu Dimulai Sedini Mungkin?
Semakin awal seseorang mulai merencanakan dana pendidikan, semakin besar ruang untuk menyesuaikan strategi ketika terjadi perubahan kondisi ekonomi.
Sebaliknya, jika perencanaan baru dilakukan setelah anak diterima di perguruan tinggi, pilihan yang tersedia biasanya menjadi lebih terbatas karena waktu untuk mengumpulkan dana relatif singkat.
Selain memberi kesempatan membangun aset secara bertahap, perencanaan sejak dini juga memungkinkan keluarga mengevaluasi kebutuhan pendidikan secara berkala, termasuk memperhitungkan inflasi biaya kuliah dan biaya hidup.
Pendekatan ini membuat keputusan finansial menjadi lebih fleksibel dibanding mengandalkan satu sumber dana saja.
Dana Pendidikan Adalah Investasi, Bukan Sekadar Pengeluaran
Pendidikan sering disebut sebagai investasi jangka panjang karena manfaatnya dapat dirasakan sepanjang kehidupan seseorang. Namun, investasi tersebut hanya dapat memberikan hasil optimal apabila proses pendidikannya dapat diselesaikan tanpa terganggu oleh masalah finansial.
Karena itu, keberhasilan membiayai pendidikan tidak hanya diukur dari kemampuan membayar uang kuliah pada semester pertama, tetapi juga dari kemampuan mempertahankan dukungan finansial hingga mahasiswa lulus.
Dalam konteks ini, keluarga perlu melihat dana pendidikan sebagai bagian dari strategi keuangan jangka panjang yang mencakup tabungan, investasi, dana darurat, hingga perlindungan terhadap berbagai risiko yang mungkin muncul.
Sebagai perusahaan asuransi jiwa dan kesehatan, IFG Life menyatakan terus mendorong peningkatan literasi keuangan masyarakat agar lebih memahami pentingnya membangun ketahanan finansial di setiap tahap kehidupan.
"Melalui perlindungan yang terjangkau dan menyeluruh, IFG Life berkomitmen menjadi mitra masyarakat dalam menjaga stabilitas keuangan sekaligus membantu mewujudkan berbagai tujuan hidup, termasuk pendidikan, demi meningkatkan kualitas hidup," pungkas Fabiola.
Pada akhirnya, momentum penerimaan mahasiswa baru setiap tahun menjadi pengingat bahwa tantangan pendidikan tidak berhenti ketika seseorang dinyatakan lolos seleksi masuk perguruan tinggi.
Yang lebih penting adalah memastikan perjalanan akademik dapat diselesaikan hingga tuntas tanpa terganggu oleh gejolak kondisi ekonomi keluarga. Karena itu, menabung tetap menjadi langkah awal yang penting, tetapi bukan satu-satunya strategi. Perencanaan dana pendidikan yang menyeluruh—mulai dari membangun aset, menyiapkan dana darurat, berinvestasi, hingga mengelola risiko finansial—akan memberikan fondasi yang lebih kuat untuk menjaga cita-cita pendidikan tetap berada di jalurnya.
Baca Juga: Desil KIP Kuliah 2026 Terbaru, Ini Penyebab Perubahan dan Cara Memperbarui Data
Baca Juga: PIK2 Seleksi 48 Calon Penerima Beasiswa Pesisir Nusantara, Dorong Akses Kuliah bagi Generasi Muda
FAQ
Apa yang dimaksud dengan dana pendidikan?
Dana pendidikan adalah sejumlah dana yang disiapkan untuk membiayai seluruh kebutuhan pendidikan, mulai dari uang kuliah, biaya hidup, tempat tinggal, transportasi, perlengkapan belajar, hingga kebutuhan akademik lainnya selama masa studi berlangsung.
Mengapa menabung saja tidak cukup untuk dana pendidikan?
Menabung tetap penting, tetapi kenaikan biaya kuliah, inflasi biaya hidup, serta risiko seperti kehilangan pekerjaan atau biaya kesehatan dapat mengganggu kemampuan finansial keluarga. Karena itu, dana pendidikan perlu didukung dengan strategi keuangan yang lebih komprehensif.
Apa saja biaya yang perlu diperhitungkan selain uang kuliah?
Selain UKT, keluarga perlu memperhitungkan biaya kos, makan, transportasi, buku, laptop, akses internet, praktikum, hingga berbagai kebutuhan penunjang selama mahasiswa menempuh pendidikan.
Kapan waktu terbaik mulai menyiapkan dana pendidikan?
Idealnya sejak dini, bahkan jauh sebelum anak memasuki perguruan tinggi. Semakin panjang waktu persiapan, semakin besar peluang keluarga mengumpulkan dana sekaligus mengantisipasi kenaikan biaya pendidikan.
Mengapa dana darurat penting dalam perencanaan pendidikan?
Dana darurat membantu keluarga menghadapi pengeluaran tak terduga tanpa harus menggunakan dana yang telah dialokasikan untuk pendidikan, sehingga tujuan jangka panjang tetap dapat dipertahankan.
Apakah asuransi dapat menggantikan tabungan pendidikan?
Tidak. Asuransi bukan pengganti tabungan atau investasi, melainkan pelengkap yang berfungsi menjaga stabilitas keuangan ketika terjadi risiko yang dapat memengaruhi kemampuan keluarga membiayai pendidikan.