Bagi investor, pesan tersebut menunjukkan bahwa kondisi pasar saat ini bukan sekadar tentang menghindari risiko, melainkan memahami sektor dan kawasan mana yang memiliki daya tahan lebih baik ketika ketidakpastian global meningkat.
Ringkasan
Prospek saham Asia tetap dinilai positif karena didukung oleh kombinasi pertumbuhan sektor teknologi, perbaikan laba perusahaan, kebijakan pemerintah yang relatif adaptif, serta fundamental ekonomi yang masih cukup kuat di sejumlah negara.
Beberapa faktor utama yang menopang optimisme tersebut antara lain:
Pertumbuhan industri AI dan semikonduktor yang terus meningkat.
Valuasi saham di beberapa pasar Asia masih menarik dibandingkan pasar lain.
Fundamental perusahaan yang dinilai semakin membaik.
Dukungan kebijakan di sejumlah negara Asia.
Peluang diversifikasi ketika volatilitas global meningkat.
Di sisi lain, Manulife mengingatkan bahwa kondisi tersebut tidak berarti risiko telah hilang. Konflik geopolitik, tekanan inflasi, dan arah kebijakan bank sentral tetap menjadi faktor yang harus diperhatikan investor dalam menyusun portofolio.
Yang berubah bukanlah tingkat risikonya, melainkan cara investor melihat peluang. Ketika sebagian pasar menghadapi tekanan akibat biaya energi dan kebijakan moneter yang lebih ketat, beberapa negara di Asia justru dinilai memiliki fondasi yang lebih siap untuk bertahan.
Mengapa Konflik Geopolitik Justru Mengubah Cara Investor Melihat Asia?
Selama bertahun-tahun, setiap kali konflik geopolitik meningkat, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS atau emas. Namun, kondisi saat ini memperlihatkan dinamika yang lebih kompleks.
Konflik di Timur Tengah memang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi global. Dampaknya, banyak bank sentral memilih mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Menurut Yuting Shao, Senior Global Macro Strategist Manulife Investment Management, ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter kini mulai berubah.
"Ekspektasi sebelumnya bahwa pelonggaran moneter akan berlangsung secara luas dan searah kini mulai bergeser. Tekanan biaya energi yang masih tinggi memaksa bank sentral di sejumlah kawasan untuk mempertahankan sikap hawkish guna mengantisipasi dampak lanjutan terhadap inflasi. Pada saat yang sama, siklus ekonomi global masih bergerak tidak merata. Negara-negara dengan ketahanan energi domestik yang kuat, atau yang terdorong langsung oleh tren besar teknologi, terbukti jauh lebih resilien," ujar Shao melalui hasil riset yang diterima AKURAT.CO, Selasa, 14 Juli 2026.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kondisi pasar global tidak lagi bergerak seragam. Negara yang memiliki ketahanan energi lebih baik atau memperoleh manfaat langsung dari perkembangan teknologi memiliki peluang untuk tumbuh lebih stabil dibandingkan kawasan lain.
Inilah salah satu alasan mengapa Asia mulai mendapat perhatian lebih besar dalam strategi investasi global.
Faktor yang Membuat Manulife Tetap Optimistis terhadap Saham Asia
Berdasarkan outlook semester kedua 2026 yang dirilis Manulife Investment Management, optimisme terhadap saham Asia bukan semata-mata didorong oleh sentimen pasar, melainkan oleh perubahan struktural yang sedang berlangsung di kawasan tersebut.
Berbeda dengan beberapa tahun lalu yang banyak mengandalkan pemulihan pascapandemi, kini pertumbuhan Asia semakin ditopang oleh investasi jangka panjang pada sektor teknologi, digitalisasi industri, hingga pembangunan infrastruktur AI.
Selain itu, sejumlah negara juga dinilai memiliki ruang kebijakan yang lebih fleksibel untuk menghadapi tekanan eksternal.
Salah satu contoh yang disoroti adalah Tiongkok Daratan. Menurut Shao, kombinasi kebijakan energi dan pengelolaan ekonomi membuat negara tersebut relatif lebih siap menghadapi lonjakan harga energi global.
"Di Tiongkok Daratan, kombinasi diversifikasi impor energi, pengendalian harga domestik, dan cadangan yang memadai telah berhasil melindungi ekosistem pasar domestik dari dampak terburuk lonjakan harga minyak global. Dengan didukung pertumbuhan dasar yang solid, para pembuat kebijakan memiliki fleksibilitas untuk merespons secara dinamis apabila kondisi eksternal memburuk," katanya.
Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa ketahanan suatu pasar kini tidak hanya bergantung pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kemampuan pemerintah menjaga stabilitas energi dan inflasi ketika tekanan global meningkat.
Asia Tak Lagi Hanya Menjadi Basis Manufaktur
Salah satu perubahan besar yang mulai terlihat adalah pergeseran peran Asia dalam ekonomi global.
Selama ini kawasan Asia sering dipandang sebagai pusat manufaktur dunia. Namun, perkembangan teknologi membuat posisi tersebut berubah. Negara seperti Taiwan dan Korea Selatan kini menjadi pemain utama dalam rantai pasok semikonduktor global, sementara Tiongkok terus memperkuat industri AI, manufaktur canggih, dan elektrifikasi.
Perubahan ini penting karena menciptakan sumber pertumbuhan baru yang tidak sepenuhnya bergantung pada konsumsi domestik atau ekspor barang tradisional.
Artinya, ketika permintaan global melambat, perusahaan yang berada di sektor-sektor strategis tersebut masih memiliki peluang mempertahankan pertumbuhan laba berkat tingginya kebutuhan terhadap infrastruktur AI dan transformasi digital.
Di sinilah letak perbedaan utama antara kondisi pasar saat ini dengan beberapa tahun sebelumnya. Optimisme terhadap saham Asia tidak hanya berasal dari siklus ekonomi, tetapi juga dari perubahan struktural yang diperkirakan berlangsung dalam jangka panjang.
Baca Juga: Modal Asing Rp1,74 Triliun Kabur dari Pasar Saham RI dalam Sepekan
Baca Juga: Bayer Tunjuk Simon Rosof Pimpin Bisnis Farmasi di Asia Pasifik
AI, Semikonduktor, dan Reformasi Struktural Jadi Mesin Pertumbuhan Baru Asia
Salah satu alasan utama Manulife Investment Management mempertahankan pandangan positif terhadap saham Asia adalah semakin kuatnya peran kawasan ini dalam perkembangan teknologi global. Jika sebelumnya perhatian investor lebih banyak tertuju pada perusahaan teknologi raksasa di Amerika Serikat, kini Asia mulai menjadi bagian penting dalam rantai nilai industri AI.
Hal ini tidak hanya terlihat dari perusahaan pengembang teknologi, tetapi juga dari produsen cip, peralatan elektronik, hingga manufaktur canggih yang menjadi fondasi pembangunan infrastruktur AI dunia.
Menurut June Chua, Head of Asia Equities Manulife Investment Management, prospek tersebut semakin terlihat di Tiongkok.
"Di Tiongkok Daratan, kami melihat perbaikan prospek laba yang lebih berkelanjutan dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, setelah periode pelemahan sebelumnya. Seiring pemulihan ekonomi yang semakin meluas dan stabilisasi siklus industri, kami tetap melihat peluang di berbagai area seperti AI, semikonduktor, manufaktur canggih, dan peralatan kelistrikan. Bersama dengan dukungan kebijakan dan valuasi yang masih menarik, hal ini menunjukkan latar belakang yang lebih konstruktif bagi saham Tiongkok dalam jangka menengah."
Optimisme tersebut menunjukkan bahwa AI bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan telah menjadi pendorong investasi baru di berbagai sektor industri. Ketika kebutuhan komputasi meningkat, permintaan terhadap cip semikonduktor, pusat data, perangkat kelistrikan, hingga jaringan pendukung juga ikut tumbuh.
Dampaknya, perusahaan yang berada di sepanjang rantai pasok tersebut berpotensi memperoleh manfaat jangka panjang.
Selain Tiongkok, Taiwan dan Korea Selatan juga dipandang tetap menjadi pemain utama dalam ekosistem AI global.
"Pada saat yang sama, Taiwan dan Korea Selatan terus memperoleh manfaat dari momentum kuat dalam ekosistem AI. Rantai pasok yang mendalam dan resilien, ditambah dengan peningkatan teknologi yang terus berlangsung, telah mendorong pertumbuhan laba yang nyata di sektor semikonduktor dan industri terkait," ujar Chua.
Pandangan ini menunjukkan bahwa peluang investasi di Asia kini tidak lagi terpusat pada satu negara. Setiap kawasan memiliki pendorong pertumbuhan yang berbeda, sehingga investor memiliki lebih banyak pilihan untuk membangun portofolio yang terdiversifikasi.
ASEAN Masih Menawarkan Peluang, Meski Tidak Bebas Tantangan
Di kawasan ASEAN, Manulife melihat pemulihan ekonomi berjalan lebih bertahap. Meskipun demikian, perusahaan menilai dukungan kebijakan pemerintah dan meningkatnya konsumsi domestik dapat menjadi fondasi pertumbuhan dalam jangka menengah.
"Di kawasan ASEAN, meskipun tantangan jangka pendek masih ada, kami melihat adanya upaya kebijakan yang terkoordinasi serta penguatan permintaan domestik yang dapat mendukung pemulihan yang lebih berkelanjutan. Dalam kondisi ini, saham Asia menawarkan sumber pertumbuhan dan diversifikasi yang berbeda. Namun, perbedaan kinerja antar pasar dan sektor masih tinggi, sehingga semakin menegaskan pentingnya pengelolaan investasi aktif serta pendekatan yang disiplin dan selektif dalam menangkap peluang di kawasan ini," kata Chua.
Artinya, investor tidak bisa lagi mengandalkan strategi membeli seluruh pasar secara merata. Perbedaan kinerja antarnegara maupun antarsektor diperkirakan akan semakin lebar sehingga kemampuan memilih aset menjadi faktor penentu hasil investasi.
Apa Risiko yang Masih Perlu Diwaspadai Investor?
Meski prospek saham Asia dinilai positif, Manulife tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan yang masih membayangi pasar global.
Beberapa risiko utama yang diperkirakan masih berlanjut pada semester kedua 2026 meliputi:
Konflik geopolitik yang berpotensi mengganggu rantai pasok global.
Harga energi yang masih fluktuatif.
Inflasi yang bertahan lebih lama.
Kebijakan bank sentral yang tetap hawkish.
Volatilitas pasar akibat perubahan ekspektasi investor.
Kombinasi faktor tersebut membuat pasar kemungkinan akan bergerak lebih sensitif terhadap perkembangan ekonomi maupun politik internasional.
Dalam kondisi seperti ini, investor sering kali melakukan kesalahan dengan bereaksi berlebihan terhadap berita jangka pendek. Padahal, volatilitas justru menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari investasi jangka panjang.
Perubahan harga harian belum tentu mencerminkan perubahan fundamental perusahaan.
Strategi Investasi yang Dinilai Tepat Menurut Manulife
Menghadapi kondisi global yang semakin kompleks, Manulife menilai pendekatan investasi aktif menjadi lebih penting dibandingkan sekadar mengikuti indeks pasar.
Luke Browne, Global Head of Multi-Asset Solutions Manulife Investment Management, mengatakan pasar kini memasuki fase ketika peluang dan risiko tersebar secara tidak merata.
"Dengan pasar tenaga kerja yang masih kuat dan menunda terjadinya pelonggaran moneter yang signifikan, kami mempertahankan pendekatan yang sangat selektif dalam alokasi aset. Meskipun pasar masih ditopang oleh kinerja laba yang resilien dan pertumbuhan yang stabil, risiko dan peluang menjadi semakin tidak merata antar kawasan dan kelas aset. Hal ini menegaskan pentingnya diversifikasi dan pengelolaan investasi secara aktif," ujar Browne.
Menurut Browne, kepemimpinan pasar saham juga diperkirakan akan semakin luas.
"Kami memperkirakan kepemimpinan pasar saham akan meluas, tidak lagi hanya bertumpu pada saham teknologi berkapitalisasi besar dan artificial intelligence (AI), tetapi juga ke segmen aset berkualitas tinggi dan valuasi pasar yang menarik. Menjaga pendekatan multi-asset yang seimbang akan menjadi kunci untuk menghadapi volatilitas geopolitik dan valuasi, sekaligus menangkap peluang secara selektif di pasar global, seiring Asia yang terus memperoleh manfaat dari pertumbuhan struktural dan tema investasi terkait AI."
Ia menambahkan bahwa komoditas yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur AI serta obligasi berdurasi pendek juga menarik untuk dipertimbangkan dalam strategi diversifikasi.
Simulasi Sederhana: Mengapa Diversifikasi Menjadi Penting?
Bayangkan seorang investor memiliki dana Rp100 juta yang seluruhnya ditempatkan pada saham teknologi Amerika Serikat. Ketika terjadi lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik, valuasi saham teknologi dapat tertekan karena ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Dalam situasi tersebut, investor yang memiliki sebagian portofolionya pada saham Asia—terutama perusahaan semikonduktor, manufaktur canggih, atau sektor yang diuntungkan oleh investasi AI—berpotensi memiliki bantalan risiko yang lebih baik. Simulasi ini bukan merupakan rekomendasi investasi, melainkan ilustrasi mengenai pentingnya penyebaran aset di tengah dinamika pasar global.
Obligasi Asia Tetap Menarik sebagai Penyeimbang Portofolio
Selain saham, Manulife juga melihat peluang pada pasar obligasi Asia.
Menurut Murray Collis, Head of Asia Fixed Income Manulife Investment Management, obligasi Asia masih menawarkan kombinasi imbal hasil dan durasi yang menarik.
"Obligasi Asia menawarkan kombinasi yang menarik antara imbal hasil yang lebih tinggi dan durasi yang lebih pendek dibandingkan instrumen global sejenis. Hal ini memberikan bantalan pendapatan yang lebih resilien terhadap volatilitas suku bunga," papar Collis.
Ia menambahkan bahwa obligasi dolar AS di Asia maupun obligasi mata uang lokal di beberapa negara masih memiliki prospek yang baik berkat dukungan kebijakan dan fundamental ekonomi yang relatif solid.
Apa Arti Outlook Ini bagi Investor Indonesia?
Bagi investor Indonesia, outlook yang dirilis Manulife memberikan pesan penting bahwa arah investasi global mulai mengalami pergeseran. Jika selama beberapa tahun terakhir perhatian pasar banyak tertuju pada saham teknologi Amerika Serikat, kini Asia semakin diperhitungkan sebagai sumber pertumbuhan baru.
Bukan berarti investor harus mengalihkan seluruh portofolionya ke kawasan Asia. Namun, laporan ini menunjukkan bahwa diversifikasi lintas negara dan lintas sektor menjadi semakin relevan ketika kondisi ekonomi global bergerak tidak seragam.
Selain itu, berkembangnya AI membuka peluang yang lebih luas daripada sekadar membeli saham perusahaan teknologi. Infrastruktur pendukung seperti semikonduktor, manufaktur canggih, peralatan kelistrikan, hingga komoditas tertentu juga diperkirakan memperoleh manfaat dari tren tersebut.
Dengan kata lain, AI telah menciptakan efek berantai yang menjangkau banyak sektor industri.
Asia Sedang Berubah, Bukan Sekadar Bertahan
Salah satu pesan paling menarik dari outlook Manulife adalah perubahan cara memandang Asia. Selama bertahun-tahun, kawasan ini sering diposisikan sebagai "alternatif" ketika pasar negara maju melambat. Kini, Asia mulai memiliki cerita pertumbuhannya sendiri.
Perkembangan AI, peningkatan kapasitas manufaktur berteknologi tinggi, investasi pada semikonduktor, hingga reformasi industri menunjukkan bahwa kawasan ini tidak lagi hanya bergantung pada biaya produksi yang murah. Asia sedang bergerak menjadi pusat inovasi yang berperan penting dalam ekonomi digital global.
Di sisi lain, tantangan seperti konflik geopolitik dan inflasi memang belum akan hilang dalam waktu dekat. Namun, kondisi tersebut justru memperlihatkan bahwa kualitas fundamental perusahaan dan ketahanan kebijakan suatu negara menjadi faktor yang semakin menentukan dibandingkan sekadar mengikuti sentimen pasar.
Bagi investor jangka panjang, perubahan struktural seperti ini sering kali lebih penting daripada fluktuasi harga dalam hitungan hari atau minggu.
Penutup
Prospek saham Asia pada semester kedua 2026 memang masih dibayangi berbagai risiko global, mulai dari konflik geopolitik hingga kebijakan suku bunga yang lebih ketat. Namun, menurut outlook Manulife Investment Management, kawasan ini tetap memiliki fondasi yang kuat berkat pertumbuhan sektor AI, semikonduktor, dukungan kebijakan, dan perbaikan fundamental perusahaan.
Situasi ini menunjukkan bahwa strategi investasi tidak lagi cukup hanya mengandalkan momentum pasar. Kemampuan memahami perubahan struktur ekonomi, memilih sektor yang tepat, dan membangun portofolio yang terdiversifikasi menjadi semakin penting di tengah dinamika global yang terus berubah.
Bagi investor Indonesia, perkembangan tersebut juga menjadi pengingat bahwa peluang investasi tidak selalu muncul ketika kondisi pasar sedang tenang. Dalam banyak kasus, justru di tengah ketidakpastian lahir peluang bagi investor yang mampu melihat tren jangka panjang di balik gejolak jangka pendek.
Pantau terus perkembangan pasar global dan strategi investasi terbaru agar dapat mengambil keputusan yang lebih terukur sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan Anda.
Baca Juga: Perkuat Industri Alkes Nasional, Saham PRDL Langsung ARA Usai IPO
Baca Juga: OJK Catat Lonjakan Investor di Tengah Koreksi Bursa Saham
FAQ
Mengapa saham Asia masih dianggap menarik pada 2026?
Saham Asia dinilai masih menarik karena didukung pertumbuhan sektor AI, semikonduktor, manufaktur canggih, serta fundamental ekonomi yang relatif kuat di beberapa negara. Selain itu, valuasi di sejumlah pasar masih dianggap menarik dibandingkan kawasan lain.
Bagaimana konflik Timur Tengah memengaruhi pasar saham?
Konflik Timur Tengah dapat mendorong kenaikan harga energi, meningkatkan tekanan inflasi, dan membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini meningkatkan volatilitas pasar, tetapi dampaknya berbeda-beda pada setiap negara dan sektor.
Mengapa AI menjadi pendorong utama pasar saham Asia?
AI meningkatkan permintaan terhadap semikonduktor, pusat data, perangkat elektronik, dan infrastruktur digital. Banyak perusahaan di Taiwan, Korea Selatan, dan Tiongkok menjadi bagian penting dalam rantai pasok tersebut sehingga memperoleh peluang pertumbuhan jangka panjang.
Apa strategi investasi yang disarankan Manulife?
Manulife menekankan pentingnya pengelolaan investasi secara aktif, diversifikasi lintas aset, serta seleksi sektor dan kawasan yang memiliki fundamental kuat. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan mengandalkan satu jenis aset atau pasar.
Apakah obligasi Asia juga masih menarik?
Ya. Menurut Manulife, obligasi Asia masih menawarkan kombinasi imbal hasil yang kompetitif dan durasi yang relatif lebih pendek, sehingga dapat membantu memberikan pendapatan sekaligus mendukung diversifikasi portofolio.
Apa pelajaran utama bagi investor Indonesia?
Investor Indonesia dapat memanfaatkan outlook ini sebagai referensi untuk memahami perubahan lanskap investasi global. Diversifikasi, disiplin dalam memilih aset, serta fokus pada tren struktural seperti AI dan transformasi industri menjadi hal yang semakin penting dalam membangun portofolio jangka panjang.