BMKG mengimbau warga Cilacap tak mudah percaya isu kebencanaan
Selasa, 8 September 2026 13:12 WIB
Petugas BMKG Stasiun Meteorologi (Stamet) Tunggul Wulung Cilacap menunjukkan paper test yang digunakan untuk memantau kemungkinan sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau di taman alat Stamet Tunggul Wulung Cilacap, Jawa Tengah, Minggu (6/9/2026). ANTARA/HO-BMKG
Cilacap (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, agar tidak mudah mempercayai informasi kebencanaan yang beredar di media sosial dan selalu merujuk pada informasi resmi dari instansi berwenang.
Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo di Cilacap, Selasa, mengatakan masyarakat perlu menyikapi informasi mengenai gempa bumi maupun erupsi gunung api secara bijak, karena tidak semuanya memiliki sumber yang valid.
"Kita harus menyikapi secara bijak, jangan langsung percaya begitu saja karena sumber-sumber mereka terkadang tidak valid," katanya.
Ia mencontohkan isu yang muncul setelah Cilacap diguncang gempa bermagnitudo 5,4 pada Jumat (4/9) berupa informasi yang menyebutkan akan terjadi gempa lebih besar dan diikuti tsunami.
Menurut dia, informasi semacam itu dapat meresahkan masyarakat, terlebih gempa bumi hingga kini tidak dapat diprediksi secara tepat mengenai waktu, lokasi, maupun kekuatannya.
"Kalau ada informasi yang menyebarkan hal-hal tersebut dengan jelas, maka boleh dikatakan informasi itu adalah hoaks," katanya.
Ia mengatakan Cilacap merupakan wilayah yang memiliki potensi berbagai jenis bencana, sehingga masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan dan memahami mitigasi.
Dalam hal ini, kata dia, di selatan Cilacap terdapat sumber gempa akibat pertemuan Lempeng Eurasia dan Indo-Australia.
Selain itu, lanjut dia, Cilacap bertetangga dengan sejumlah kabupaten yang memiliki gunung api sehingga berpotensi terdampak abu vulkanik ketika terjadi erupsi.
Menurut dia, wilayah tersebut juga menghadapi potensi banjir pada musim hujan, kekeringan pada musim kemarau, serta kebakaran lahan.
"Potensi bencana seperti ini memang sudah ada sejak zaman dulu. Langkah yang lebih penting adalah bagaimana cara mitigasinya karena ancaman tersebut memang sudah ada dari dulu," katanya.
Terkait erupsi Gunung Anak Krakatau, dia mengatakan Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung telah melakukan pemantauan kemungkinan sebaran abu vulkanik menggunakan paper test atau kertas khusus yang dipasang di taman alat.
Menurut dia, pengamatan tersebut dilakukan pada Minggu (6/9) sejak pagi hingga malam hari dan hasilnya negatif atau tidak ditemukan abu vulkanik yang menempel.
“Kami juga tidak menerima laporan masyarakat Cilacap dan sekitarnya terkait dampak abu vulkanik akibat erupsi tersebut,” katanya.
Lebih lanjut dia menekankan pentingnya memahami langkah penyelamatan diri saat bencana. Ketika terjadi gempa, kata dia, masyarakat dapat melindungi kepala dan berlindung di bawah meja atau menuju ruang terbuka.
Jika gempa tersebut berpotensi tsunami, lanjut dia, masyarakat harus segera menuju tempat yang lebih tinggi.
Ia meminta masyarakat menjadikan informasi BMKG dan instansi berwenang lainnya sebagai rujukan utama.
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.