Jakarta -
Antusiasme tinggi terhadap AI coding agent di Indonesia terlihat jelas dari Codex Community Meetup pertama yang digelar di Jakarta pada 13 Juni lalu. Lebih dari 200 orang mendaftar, meski panitia hanya mampu menampung sekitar 60 peserta akibat keterbatasan venue.
Codex Ambassador pertama di Indonesia, Naufaldi Rafif, mengatakan tingginya minat tersebut menandakan masyarakat tidak lagi sekadar penasaran dengan AI generatif, melainkan sudah ingin memanfaatkan AI coding agent untuk pekerjaan sehari-hari.
"Lebih dari 200 peserta yang daftar dan akhirnya pendaftaran saya tutup. Namun, tidak semua bisa kami tampung karena keterbatasan venue, jadi yang hadir sekitar 60 orang. Buat saya ini cukup berkesan karena menunjukkan demand-nya nyata," ujar Naufaldi dalam wawancara tertulis dengan detikINET.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, Indonesia memiliki adopsi ChatGPT yang tinggi. Kini tren penggunaan AI mulai bergeser ke agentic AI. Namun, masih banyak pengguna yang belum mengetahui potensi Codex secara maksimal.
"Sebagian kecil sudah menggunakan Codex, tapi masih sebatas untuk coding. Padahal Codex bisa digunakan jauh lebih luas, mulai dari workflow developer, dokumentasi, review kode, hingga membantu pekerjaan sehari-hari baik bagi developer maupun non-developer," jelasnya.
Bukan Hanya untuk Programmer
Peserta meetup ternyata sangat beragam. Selain developer, hadir pula desainer, product manager, founder startup, hingga berbagai profesi digital worker lainnya.
Naufaldi sengaja mendesain meetup ini sebagai ruang belajar lintas profesi, karena Codex dinilai bisa meningkatkan produktivitas siapa saja, tidak hanya programmer.
Selama sesi hands-on, peserta menggali berbagai aplikasi Codex. Developer banyak mengeksplorasi automation SDLC, mulai dari penulisan kode, code review, debugging, hingga proses rilis aplikasi.
Codex Ambassador pertama di Indonesia, Naufaldi Rafif, Foto: dok OpenAI
Sementara peserta non-developer lebih tertarik menggunakan Codex untuk tugas-tugas kantor, seperti membuat slide presentasi, menyusun proposal, merapikan dokumen, dan brainstorming ide bisnis.
Salah satu cerita paling menarik datang dari seorang peserta yang berhasil membangun asisten pribadi berbasis AI sekaligus mini ERP untuk kebutuhan operasional perusahaannya.
"AI coding agent bisa membantu founder atau tim kecil membuat internal tools lebih cepat, tanpa harus langsung membangun tim engineering besar sejak awal," kata Naufaldi.
Masih Ada Tantangan
Meski antusiasme tinggi, adopsi AI di Indonesia masih menemui hambatan. Banyak peserta yang bekerja di perusahaan atau startup mengeluhkan belum adanya anggaran dan kebijakan penggunaan AI.
Codex Community Meetup Foto: dok OpenAI
Akibatnya, tidak sedikit yang masih berlangganan menggunakan dana pribadi. Selain itu, banyak pengguna baru yang masih memperlakukan Codex seperti chatbot biasa, padahal AI coding agent membutuhkan pemahaman workflow, pemilihan model, dan validasi hasil yang lebih matang.
Naufaldi menegaskan bahwa AI bukan pengganti manusia. Ia mengingatkan agar developer dan knowledge worker melihat Codex sebagai asisten, bukan pengganti.
"AI coding agent ini adalah pembantu kita dalam bekerja, sedangkan kita adalah managernya," tegasnya.
Menurut Naufaldi, kemampuan memberi instruksi yang baik, memvalidasi hasil, dan berpikir kritis tetap menjadi skill paling penting di era AI saat ini.
(afr/afr)
TAGS
LIHAT LAINNYA