Pendekatan tersebut menjadi bagian dari program literasi keuangan Allianz Indonesia untuk pelajar SMA/SMK. Alih-alih hanya menyampaikan teori, Allianz menggunakan board game, simulasi pengambilan keputusan, diskusi kelompok, kuis, studi kasus, hingga pengalaman membuat konten edukasi untuk membantu peserta memahami konsekuensi dari keputusan finansial.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa literasi keuangan Gen Z tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengetahui istilah finansial. Anak muda juga perlu dilatih untuk mengambil keputusan, memahami risiko, menyaring informasi, dan mengenali potensi masalah sebelum mengalami kerugian.
Mengapa Literasi Keuangan Gen Z Perlu Dibuat Lebih Interaktif?
Ada perbedaan antara mengetahui konsep keuangan dan mampu menerapkannya.
Seseorang mungkin mengetahui bahwa menabung penting. Namun, pengetahuan tersebut belum otomatis membuatnya mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, mengatur arus kas, menentukan prioritas, atau mempertimbangkan risiko sebelum menggunakan produk keuangan.
Kondisi tersebut menjadi semakin relevan bagi generasi muda yang mendapatkan banyak informasi finansial melalui internet dan media sosial. Informasi mengenai investasi, pinjaman, gaya hidup, hingga berbagai produk keuangan dapat ditemukan hanya dengan beberapa kali menggeser layar.
Masalahnya bukan lagi sekadar kekurangan informasi.
Generasi muda justru menghadapi banjir informasi yang harus disaring. Kemampuan membedakan informasi yang relevan, memahami konsekuensi keputusan, serta mengenali risiko menjadi bagian penting dari literasi keuangan.
Karena itu, metode pembelajaran yang membuat peserta mengalami proses pengambilan keputusan dapat menjadi alternatif dari pembelajaran yang hanya berorientasi pada teori.
Allianz Smart Plan Board Game: Belajar Mengatur Uang Lewat Permainan
Salah satu pendekatan yang digunakan Allianz Indonesia adalah Allianz Smart Plan Board Game.
Permainan tersebut membawa konsep pengelolaan keuangan ke dalam situasi yang lebih konkret. Peserta diajak memahami kebutuhan dan keinginan, pengeluaran, tabungan, tujuan finansial, aset, hingga asuransi dan risiko.
Konsep permainan membuat peserta tidak hanya mendengar penjelasan mengenai suatu konsep. Mereka perlu membuat pilihan berdasarkan kondisi yang dihadapi dalam permainan.
Di sinilah proses belajar menjadi lebih menarik.
Misalnya, ketika seseorang memilih mengalokasikan uang untuk sesuatu yang bersifat keinginan, ia dapat melihat bagaimana keputusan tersebut memengaruhi kemampuan memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan finansial.
Pelajaran yang muncul bukan sekadar “ini kebutuhan” atau “itu keinginan”. Peserta dapat melihat hubungan antara satu keputusan dengan konsekuensi berikutnya.
Pendekatan semacam ini juga memperlihatkan bahwa edukasi keuangan tidak harus selalu dimulai dari definisi.
Konsep bisa diperkenalkan melalui pengalaman, kemudian dijelaskan melalui diskusi setelah peserta memahami situasinya.
Baca Juga: Bukan Kendaraan, Asuransi Tanggung Gugat Jadi Penyumbang Terbesar Premi Allianz Utama
Baca Juga: Allianz Perluas Makna Proteksi, Dorong Pengembangan Talenta Muda Lewat Kejuaraan Sepak bola di Taiwan
Smart Financing Financial Race Simulasikan Konsekuensi Keputusan
Metode interaktif juga diterapkan melalui Smart Financing: Financial Race.
Program ini menggunakan simulasi permainan untuk membantu peserta memahami prioritas, arus kas, serta konsekuensi dari pilihan finansial.
Dalam pengelolaan uang sehari-hari, keputusan jarang berdiri sendiri. Pengeluaran hari ini dapat memengaruhi kondisi keuangan beberapa hari atau minggu berikutnya.
Simulasi membantu membuat hubungan tersebut lebih mudah terlihat.
Peserta dapat memahami bahwa memiliki uang bukan berarti seluruhnya dapat digunakan untuk konsumsi. Ada kebutuhan yang harus diprioritaskan, ada tujuan yang perlu direncanakan, serta terdapat konsekuensi ketika pengeluaran tidak dikendalikan.
Model pembelajaran seperti ini penting karena kesalahan dalam simulasi dapat menjadi bahan evaluasi tanpa harus menunggu seseorang mengalami kerugian nyata.
Dengan kata lain, simulasi memberikan ruang untuk belajar dari konsekuensi sebelum keputusan tersebut terjadi di kehidupan sebenarnya.
Smart Money Habits Ajarkan Gen Z Menghadapi Risiko Finansial Digital
Materi literasi keuangan kemudian berkembang dari pengelolaan uang menuju kemampuan mengenali risiko.
Melalui Smart Money Habits, peserta diperkenalkan dengan sejumlah risiko yang semakin relevan di lingkungan digital, termasuk penipuan, penyalahgunaan data pribadi, informasi investasi yang menyesatkan, serta FOMO atau fear of missing out.
Perubahan materi ini menarik karena tantangan finansial generasi muda saat ini tidak berhenti pada persoalan “bagaimana mengatur uang”.
Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: apakah informasi yang menjadi dasar keputusan tersebut dapat dipercaya?
Seseorang dapat memiliki kebiasaan menabung yang baik, tetapi tetap berisiko mengalami kerugian jika mudah percaya pada tawaran investasi yang tidak jelas.
Seseorang juga dapat memahami investasi, tetapi tetap mengambil keputusan yang kurang tepat apabila terdorong FOMO setelah melihat orang lain mengklaim memperoleh keuntungan besar.
Karena itu, literasi finansial semakin dekat dengan kemampuan berpikir kritis.
Bukan Sekadar Game, Ada Diskusi dan Studi Kasus
Permainan dan simulasi bukan satu-satunya metode yang digunakan.
Program Allianz juga menggabungkan studi kasus, diskusi kelompok, kuis, lembar kerja, flash card, serta pembuatan video edukasi oleh peserta.
Kombinasi tersebut membuat proses pembelajaran bergerak dari pengalaman menuju refleksi.
Peserta terlebih dahulu menghadapi suatu situasi, kemudian mendiskusikan pilihan yang tersedia. Setelah itu, mereka dapat mengevaluasi alasan di balik keputusan yang dibuat.
Pola tersebut penting karena tujuan literasi keuangan bukan sekadar membuat peserta mampu menjawab soal.
Kemampuan yang lebih penting adalah memahami mengapa sebuah keputusan finansial dianggap lebih tepat dibandingkan pilihan lainnya.
Ketika peserta diminta membuat video edukasi, prosesnya bahkan bergerak satu tahap lebih jauh. Mereka tidak hanya menerima informasi, tetapi perlu memahami materi sebelum menjelaskannya kembali kepada orang lain.
Apa yang Dipelajari Gen Z dari Simulasi Keuangan?
Setidaknya ada empat kemampuan yang menjadi bagian penting dari pendekatan tersebut.
1. Memahami Kebutuhan dan Keinginan
Peserta belajar membedakan pengeluaran yang perlu diprioritaskan dengan pengeluaran yang bersifat keinginan.
Kemampuan ini menjadi dasar dalam membuat anggaran sederhana.
2. Memahami Tabungan dan Investasi
Menabung dan investasi tidak ditempatkan sebagai konsep yang sama.
Peserta diperkenalkan pada perbedaan keduanya serta pentingnya mempertimbangkan tujuan dan risiko sebelum mengambil keputusan.
3. Memahami Risiko
Keputusan finansial selalu memiliki konsekuensi.
Karena itu, literasi keuangan perlu membiasakan peserta mempertanyakan risiko, bukan hanya melihat potensi keuntungan.
4. Mengenali Penipuan dan FOMO
Kemampuan finansial juga mencakup kemampuan berhenti sejenak ketika menemukan tawaran yang terlihat terlalu menarik.
Informasi investasi yang diperoleh dari media sosial, misalnya, tidak seharusnya langsung diterjemahkan menjadi keputusan finansial tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
98% Peserta Memahami Praktik Investasi yang Aman
Hasil evaluasi program Smart Money Habits 2026 menunjukkan adanya respons positif dari peserta.
Program tersebut melibatkan 828 siswa dari 10 sekolah di Jakarta, Sukabumi, Bandung, Yogyakarta, dan Kutoarjo. Kegiatan berlangsung dalam 20 aktivitas dengan total 90 jam pembelajaran serta melibatkan 94 relawan Allianz.
Berdasarkan evaluasi program, 98% peserta memahami praktik investasi yang aman dan mampu mengidentifikasi indikasi investasi yang patut dipertanyakan.
Sebanyak 94% peserta memahami perbedaan menabung dan investasi. Sementara itu, 92% menyatakan tertarik mulai berinvestasi dengan nominal yang terjangkau dan 90% merasa mampu membagikan pengetahuan literasi keuangan kepada orang lain.
Angka 98% tersebut perlu dibaca dalam konteks yang tepat. Data itu merupakan hasil evaluasi peserta program, bukan survei yang dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa 98% seluruh Gen Z Indonesia sudah memahami investasi aman.
Meski begitu, hasil tersebut menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang digunakan dapat memberikan pemahaman yang dirasakan peserta mengenai topik investasi dan risiko.
Simulasi: Bagaimana Gen Z Belajar Mengambil Keputusan Finansial?
Bayangkan seorang pelajar mendapatkan dua pilihan.
Pilihan pertama adalah menggunakan sebagian besar uangnya untuk membeli sesuatu yang sedang tren. Pilihan kedua adalah menyimpan sebagian uang tersebut untuk kebutuhan yang sudah direncanakan.
Dalam pembelajaran konvensional, peserta mungkin hanya diberi tahu bahwa pilihan kedua lebih bijak.
Dalam simulasi, peserta dapat diminta membuat keputusan sendiri.
Setelah keputusan dibuat, kondisi keuangan dalam permainan berubah. Jika uang terlalu banyak digunakan untuk konsumsi, ruang untuk kebutuhan berikutnya menjadi lebih sempit.
Dari sini muncul diskusi: apakah keputusan awal masih dianggap tepat jika kondisi berubah?
Pola tersebut dapat diringkas menjadi:
keputusan → konsekuensi → evaluasi → pembelajaran.
Pola ini menjadi salah satu informasi penting dari pendekatan interaktif. Literasi keuangan tidak berhenti pada kemampuan menghafal prinsip, tetapi mencoba membangun kebiasaan berpikir sebelum mengambil keputusan.
Dari 2024 hingga 2026, Bagaimana Program Literasi Allianz Berkembang?
Program Allianz dalam literasi keuangan generasi muda telah dilakukan melalui beberapa pendekatan sejak 2024.
Pada periode tersebut, Allianz Smart Plan Board Game menjadi salah satu metode yang digunakan untuk memperkenalkan konsep pengelolaan keuangan secara interaktif.
Pada 2025, pendekatan literasi semakin diperluas melalui berbagai aktivitas, termasuk Smart Financing: Financial Race.
Memasuki 2026, materi semakin menyoroti kemampuan menghadapi risiko finansial digital melalui Smart Money Habits.
Perkembangan tersebut menunjukkan adanya pergeseran fokus.
Pembelajaran tidak berhenti pada bagaimana mengelola uang, tetapi bergerak menuju bagaimana mengambil keputusan dan melindungi diri ketika berhadapan dengan risiko finansial.
Secara keseluruhan, program literasi Allianz pada periode 2024–2026 disebut telah menjangkau 34.167 penerima manfaat.
828 Siswa dan 10 Sekolah Ikut Program Smart Money Habits
Pada 2026, Smart Money Habits dilaksanakan kepada 828 siswa dari 10 sekolah yang tersebar di lima wilayah, yaitu Jakarta, Sukabumi, Bandung, Yogyakarta, dan Kutoarjo.
Program tersebut tidak hanya menggunakan penyampaian materi satu arah. Peserta terlibat dalam aktivitas yang dirancang agar materi dapat dipahami melalui pengalaman.
Tingkat kepuasan peserta tercatat 4,85 dari skala 5.
Bagi literasi keuangan generasi muda, ukuran keberhasilan seperti ini menjadi menarik untuk diperhatikan. Sebab, program edukasi tidak hanya perlu menjawab apakah peserta mengikuti kegiatan, tetapi juga apakah mereka memahami materi dan merasa mampu menerapkannya.
Ni Made Daryanti, Ketua Yayasan Allianz Peduli, mengatakan perlindungan konsumen perlu dipahami bahkan sebelum seseorang membuat keputusan finansial.
“Perlindungan konsumen perlu dimulai sebelum seseorang mengambil keputusan finansial. Melalui edukasi yang relevan dan aplikatif, kami ingin membantu generasi muda memahami pilihan yang tersedia, mengenali risiko yang mungkin timbul, serta langkah yang perlu dilakukan untuk melindungi diri. Dengan kemampuan tersebut, mereka diharapkan dapat menjadi konsumen yang lebih kritis, mandiri, dan bertanggung jawab,” ujar Ni Made Daryanti melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Kamis, 3 September 2026.
Pernyataan tersebut memperlihatkan arah edukasi yang tidak hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga kemampuan menerapkan pengetahuan tersebut.
Mengapa Pengalaman Penting dalam Belajar Keuangan?
Keuangan merupakan bidang yang konsekuensinya sering terasa setelah keputusan dibuat.
Kesalahan memilih pengeluaran dapat mengurangi dana untuk kebutuhan lain. Keputusan investasi yang tidak dipertimbangkan dengan baik dapat menimbulkan kerugian. Kelalaian menjaga data pribadi juga dapat membuka risiko penyalahgunaan.
Simulasi memberikan kesempatan untuk memahami hubungan tersebut dalam lingkungan pembelajaran.
Peserta dapat melakukan kesalahan, mendiskusikannya, lalu memahami apa yang seharusnya diperhatikan sebelum mengambil keputusan berikutnya.
Pendekatan tersebut juga membuat materi lebih dekat dengan situasi sehari-hari.
Literasi keuangan akhirnya bukan hanya tentang menghitung pemasukan dan pengeluaran. Ada unsur psikologi, perilaku, informasi, serta kemampuan menahan diri ketika menghadapi dorongan konsumsi atau FOMO.
Tiga Pelajaran Keuangan yang Bisa Dibawa Gen Z
Dari berbagai metode tersebut, ada tiga pelajaran yang relevan bagi generasi muda.
Uang Perlu Direncanakan
Memiliki pemasukan tidak otomatis berarti kondisi keuangan aman.
Perencanaan diperlukan agar kebutuhan, tabungan, dan tujuan finansial dapat ditempatkan secara proporsional.
Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Simulasi menunjukkan bahwa keputusan finansial selalu memiliki dampak.
Memahami konsekuensi dapat membantu seseorang berpikir lebih panjang sebelum mengeluarkan uang atau mengambil produk keuangan.
Informasi Finansial Harus Disaring
Era digital membuat informasi finansial semakin mudah diperoleh.
Kemudahan tersebut harus diimbangi kemampuan memeriksa informasi, mengenali tanda bahaya, memahami risiko, dan tidak mengambil keputusan hanya karena melihat orang lain melakukannya.
Pada akhirnya, kemampuan finansial bukan sekadar soal mengetahui kapan harus menabung atau berinvestasi. Generasi muda juga perlu mengetahui kapan harus berhenti, memeriksa kembali informasi, dan mempertimbangkan risiko.
Pendekatan Allianz melalui board game, simulasi, diskusi, studi kasus, hingga Smart Money Habits memperlihatkan salah satu cara untuk membuat pembelajaran tersebut lebih aplikatif.
Ni Made Daryanti menegaskan bahwa proses tersebut perlu terus dikembangkan.
“Penghargaan ini mendorong kami untuk terus mengembangkan edukasi yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membangun kemampuan peserta untuk menerapkannya. Ke depan, kami akan terus memperkuat metode pembelajaran dan evaluasi agar pemahaman yang diperoleh dapat mendukung perilaku keuangan yang lebih bertanggung jawab dalam jangka panjang," katanya.
Baca Juga: Masuk Dekade Keempat, Ini 3 Strategi Allianz Life di Tengah Perubahan Kebutuhan Nasabah
Baca Juga: 4 Anak Nasabah Allianz Tampil di Ajang Sepak Bola Internasional di Taiwan
FAQ
Apa yang dimaksud literasi keuangan Gen Z?
Literasi keuangan Gen Z adalah kemampuan memahami, mengelola, dan mengambil keputusan terkait keuangan secara bertanggung jawab, termasuk memahami risiko dan menyaring informasi finansial digital.
Mengapa edukasi keuangan menggunakan board game?
Board game dapat membuat konsep seperti kebutuhan, keinginan, pengeluaran, tabungan, tujuan finansial, dan risiko menjadi lebih konkret melalui simulasi keputusan.
Apa yang diajarkan dalam Allianz Smart Plan Board Game?
Program tersebut mengenalkan kebutuhan dan keinginan, pengeluaran, tabungan, tujuan finansial, aset, serta asuransi dan risiko.
Apa itu Smart Financing: Financial Race?
Smart Financing: Financial Race merupakan metode pembelajaran berbasis permainan dan simulasi yang membantu peserta memahami prioritas, arus kas, serta konsekuensi keputusan finansial.
Apa yang dipelajari dalam Smart Money Habits?
Peserta mempelajari risiko finansial digital, termasuk penipuan, penyalahgunaan data pribadi, informasi investasi yang menyesatkan, dan FOMO.
Apakah 98% berarti seluruh Gen Z sudah memahami investasi aman?
Tidak. Angka 98% merupakan hasil evaluasi terhadap peserta program Smart Money Habits 2026 dan tidak dapat digeneralisasi sebagai gambaran seluruh Gen Z Indonesia.
Mengapa simulasi penting dalam edukasi keuangan?
Simulasi memungkinkan peserta melihat hubungan antara keputusan dan konsekuensinya. Proses tersebut dapat membantu mengubah pengetahuan finansial menjadi kemampuan mengambil keputusan.