Dinkes Tulungagung dalami dugaan keracunan MBG - ANTARA News Jawa Timur

Tulungagung, Jawa Timur (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur terus mendalami dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Rejotangan, termasuk menelusuri aspek higiene dan sanitasi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pakisrejo.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tulungagung dr. Aris Setiawan, Senin, mengatakan, sebanyak 103 penerima manfaat mengalami gejala mual, muntah, dan diare setelah mengonsumsi menu MBG pada akhir Juli 2026.

"Sebagian menjalani perawatan di puskesmas, klinik, maupun dokter praktik, sedangkan satu orang sempat menjalani perawatan inap karena kondisinya lebih berat," katanya.

Dalam proses penelusuran, Dinkes mendapati dapur SPPG Pakisrejo belum memiliki Surat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), sehingga belum pernah menjalani pemeriksaan sebagai syarat penerbitan dokumen tersebut.

Menurut Aris, penerbitan SLHS diawali dengan inspeksi kesehatan lingkungan (IKL) yang meliputi pemeriksaan kualitas air, higiene penjamah makanan, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), serta aspek sanitasi lainnya.

"Sesuai data kami, belum ada pemeriksaan karena memang belum mengajukan proses penerbitan SLHS," ujarnya.

Selain itu, hasil pemantauan juga menemukan sejumlah aspek yang masih perlu diperbaiki, antara lain sistem penyimpanan bahan pangan, pengelolaan limbah makanan, serta sarana IPAL.

Aris menambahkan, dapur SPPG Pakisrejo sebelumnya sempat menghentikan operasional sementara atas arahan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk melengkapi sejumlah persyaratan sarana, prasarana, dan alur operasional sebelum kembali beroperasi.

Dinkes Tulungagung masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang telah dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya sebagai dasar penentuan penyebab dugaan keracunan tersebut.

Pewarta: Destyan H. Sujarwoko
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.