Eduwisata TWC-Yayasan Onkologi Anak Indonesia di Borobudur

Eduwisata TWC-Yayasan Onkologi Anak Indonesia di Borobudur

Kamis, 17 September 2026 21:13 WIB

Image Print

Yayasan Onkologi Anak Indonesia berkolaborasi dengan PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko menghadirkan pengalaman eduwisata bagi para penyintas kanker anak dari berbagai daerah di Indonesia di Magelang, Kamis (17/9/2026). ANTARA/Heru Suyitno

Magelang (ANTARA) - PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko berkolaborasi dengan Yayasan Onkologi Anak Indonesia melalui program Inyuni Community Care untuk menghadirkan pengalaman eduwisata bagi para penyintas kanker anak dari berbagai daerah di Indonesia.

Sustainability Division Head InJourney Destination Management (IDM) atau TWC Ismiyanti di Magelang, Kamis, mengatakan kolaborasi tersebut dirancang untuk memperkenalkan berbagai aktivitas wisata yang ada di kawasan Borobudur kepada para penyintas kanker.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Cancer Survivors Camp yang diikuti sekitar 50 penyintas kanker anak. Para peserta berasal dari berbagai wilayah, di antaranya Jabodetabek, Makassar, Medan, Bali, Yogyakarta, dan sejumlah daerah lainnya.

Ia menyampaikan, pada hari pertama kegiatan, para peserta mengunjungi kawasan Kampung Seni Borobudur. Mereka mendapatkan edukasi mengenai seni dan budaya lokal melalui aktivitas membatik dan membuat gerabah yang dilanjutkan dengan praktik secara langsung.

Selain itu, para penyintas juga diperkenalkan dengan sejumlah destinasi di kawasan Borobudur, termasuk museum dan sentra usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Ia mengatakan kolaborasi tersebut dirancang untuk memperkenalkan berbagai aktivitas wisata yang ada di kawasan Borobudur kepada para penyintas kanker.

"Kolaborasi ini menghadirkan anak-anak penyintas kanker di seluruh Indonesia untuk kita perkenalkan tentang aktivitas yang berada di kawasan Borobudur. Hari ini mereka berada di kawasan Kampung Seni Borobudur untuk kegiatan membatik dan membuat gerabah, juga diperkenalkan tentang kunjungan museum serta berkunjung ke blok-blok UMKM di kawasan ini," katanya.

Menurut dia, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi aktivitas wisata, tetapi juga memberikan pengalaman edukatif kepada para peserta untuk mengenal seni, budaya, dan potensi ekonomi masyarakat di sekitar Borobudur.

Ketua Komunitas Kanker Anak Yayasan Onkologi Anak Indonesia Safrina Kasir mengatakan Cancer Survivors Camp berlangsung selama tiga hari, Kamis hingga Sabtu (19/9).

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para penyintas kanker anak untuk saling memberikan dukungan, berbagi pengalaman, sekaligus mendapatkan aktivitas yang dapat membantu mereka mengeksplorasi potensi diri.

"Hari ini merupakan hari pertama dari Cancer Survivors Camp yang akan kita jalani selama tiga hari ke depan. Hari pertama ini kami mendapat kesempatan bekerja sama dengan Borobudur, di area Pendopo Candi Borobudur, di Pasar Seni. Di sini kami mendapatkan edukasi soal batik dan gerabah dan langsung ada praktik juga," katanya.

Ia menjelaskan, pemilihan aktivitas membatik dan membuat gerabah berkaitan dengan konsep terapi seni yang menjadi salah satu bagian dari kegiatan Cancer Survivors Camp.

"Kita ingin melakukan terapi seni yang merupakan budaya di sini, yaitu batik dan gerabah. Terapi seni ini sangat membantu karena para survivor sekarang posisinya sudah ada yang usia remaja, ada yang sudah dewasa. Setelah selesai pengobatan, mereka kembali sibuk sekolah dan bekerja," katanya.

Seorang peserta penyintas leukemia asal Yogyakarta Sabrina Alfin Amelia mengaku senang mendapat kesempatan mengikuti kegiatan kreatif sekaligus bertemu dengan sesama penyintas dari berbagai daerah.

"Saya senang banget karena bisa diberikan kesempatan untuk mengikuti kegiatan kreativitas ini. Selain kami diberikan kesempatan untuk bertemu dengan sesama survivor yang lainnya, kami juga diberikan kesempatan untuk bisa mengeksplorasi kreativitas yang kami miliki," katanya.

Ia mengaku kegiatan membatik dan membuat gerabah menjadi pengalaman baru yang menyenangkan. Meskipun mengakui sempat mengalami kesulitan saat praktik, dia tetap menikmati seluruh rangkaian kegiatan.

Pewarta: Heru Suyitno
Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.