Hannah Asa dorong perguruan tinggi perkuat literasi keuangan mahasiswa
Minggu, 26 Juli 2026 16:30 WIB
Pendiri Hannah Asa Indonesia menjadi narasumber pada Lokakarya Penyusunan Kurikulum Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Palu. ANTARA/HO-Hannah Asa Indonesia
Palu (ANTARA) - Komunitas Hannah Asa Indonesia mendorong perguruan tinggi memperkuat literasi keuangan bagi mahasiswa sebagai bekal menghadapi dunia kerja sekaligus menjadi agen perubahan (changemakers) di masyarakat.
“Literasi keuangan bukan sekadar tambahan pengetahuan. Ini adalah keterampilan hidup yang akan mempengaruhi kualitas setiap keputusan finansial seseorang sepanjang hidupnya,” kata pendiri Hannah Asa Indonesia Mardiyah di Palu, Minggu.
Hal itu disampaikan saat menjadi narasumber pada lokakarya penyusunan kurikulum Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Palu.
Menurut dia, berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, tingkat literasi keuangan Indonesia mencapai 66,46 persen, sedangkan tingkat inklusi keuangan telah mencapai 80,51 persen.
Data tersebut, kata dia, menunjukkan masih terdapat kesenjangan antara kemampuan masyarakat mengakses layanan keuangan dan pemahaman dalam mengelola keuangan secara bijak.
Karena itu, ia mengatakan literasi keuangan seharusnya dipandang sebagai jalan menuju masyarakat yang lebih mandiri, produktif, dan sejahtera.
Mardiyah juga menyoroti perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat. Menurut dia, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan kompetensi akademik, tetapi juga perlu melahirkan lulusan yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Karena itu, ia mengajak para dosen dan penyusun kurikulum untuk melihat bahwa transformasi pendidikan tinggi tidak cukup dilakukan melalui pembaruan mata kuliah semata, tetapi juga melalui penguatan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat dan dunia industri.
“Pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan lagi apakah mahasiswa dapat lulus tepat waktu, tetapi apakah mereka siap menjadi agen perubahan yang mampu menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat,” ujar dia.
Ia menyebut perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mempersiapkan generasi yang adaptif, inovatif, dan mampu belajar sepanjang hayat.
Karena itu, pihaknya juga memperkenalkan delapan kompetensi yang dinilai penting dimiliki lulusan Program Studi Manajemen, yakni Financial Literacy and Decision Making, Leadership and Ethical Integrity, Critical Thinking and Business Analysis, dan Communication and Collaboration.
Kemudian Digital Competency and Artificial Intelligence, Project Management and Execution, Community Development and Social Innovation, serta Lifelong Learning and Adaptability.
Ia mengatakan kompetensi tersebut diharapkan mampu memperkuat kesiapan lulusan menghadapi perubahan dunia kerja sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat.
“Lulusan terbaik bukan hanya mereka yang memperoleh pekerjaan, tetapi mereka yang mampu mengambil keputusan dengan integritas, memberdayakan UMKM, mengembangkan komunitas, dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat,” katanya.
Ia berharap melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, regulator, dunia usaha, dan organisasi masyarakat dapat lahir lulusan yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang membangun Indonesia secara berkelanjutan.
Pewarta : Nur Amalia Amir
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026