IHSG Rawan Terkoreksi, Saham DSSA, BBCA, EMAS, dan ICBP Jadi Rekomendasi Analis - Bursa Katadata.co.id

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG rawan terkoreksi pada perdagangan saham hari ini, Kamis (24/9).  Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan IHSG menguat 1,56% ke level 6.374 pada Rabu (23/9), seiring dengan kenaikan volume pembelian.

Penguatan itu juga membawa IHSG kembali berada di atas MA60 dan mencapai area yang sebelumnya diproyeksikan. Menurut Herditya, posisi IHSG saat ini diperkirakan masih berada pada bagian wave a dari wave (x). Ia memproyeksikan IHSG berpotensi menguji terlebih dahulu kisaran area 6.208–6.258.

“Area penguatan IHSG terdekat selanjutnya berada di 6.387–6.418,” tulis Herditya dalam risetnya, Kamis (24/9). 

MNC Sekuritas menargetkan area support IHSG berada di kisaran 6.267–6.108, sementara level resistance diperkirakan berada pada rentang 6.440–6.535.

Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support , harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.  

Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.

MNC Sekuritas merekomendasikan trading buy untuk saham PT Indika Energy Tbk (INDY) pada kisaran Rp 2.720–Rp 2.800 dengan target harga di Rp 2.910–Rp 2.990, sementara level stoploss di bawah Rp 2.660.

Kemudian PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) merekomendasikan beli pada kelemahan pada area Rp 7.500–Rp 7.675 dengan target harga di Rp 7.950–Rp 8.350, dan stoploss di bawah Rp 7.400.

Sentimen IHSG

Phintraco Sekuritas memproyeksikan secara teknikal IHSG masih bergerak di bawah MA5, sementara Stochastic RSI telah memasuki area oversold. Kondisi itu membuat IHSG berpotensi bergerak dalam rentang 6.300–6.400.

Jika IHSG menembus level 6.300, Phintraco memperkirakan indeks berpotensi kembali menguji level 6.200–6.270.

Dari sisi kebijakan moneter, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Rabu (23/9) mempertahankan BI Rate di level 5,75%, sesuai dengan perkiraan. Fasilitas simpanan suku bunga dan fasilitas pinjaman juga masing-masing tetap di level 4,75% dan 6,5%.

Phintraco melihat perhatian Bank Indonesia terhadap stabilitas rupiah di tengah pergerakannya yang cenderung stabil. Di sisi lain, kebijakan tersebut tetap diharapkan dapat menjaga inflasi dalam sasaran dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

“Sebelumnya Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate sebesar total 100 bps selama bulan Mei dan Juni hingga mencapai level tertinggi sejak April 2025, sebagai upaya menarik aliran masuk modal asing dan memperkuat nilai tukar Rupiah,” tulis Phintraco Sekuritas. 

Adapun pertumbuhan kredit di Indonesia mencapai 13,36% secara tahunan (yoy) pada Agustus 2026, melambat tipis dari 13,58% pada Juli 2026. Meski begitu, pertumbuhan tersebut masih menjadi yang terkuat sejak Agustus 2014.

Angka itu didukung oleh optimalisasi berkelanjutan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) Bank Indonesia. Nilai insentif KLM mencapai Rp461,2 triliun pada awal September 2026.

Sejalan dengan kondisi itu, Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).