Peneliti BRIN: Anak Krakatau kini tumbuh lagi
Kamis, 24 September 2026 06:05 WIB
Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, dibidik beberapa waktu lalu. (ANTARA/Riadi Gunawan)
Jakarta (ANTARA) - Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dini Nurfiani mengungkapkan Gunung Anak Krakatau yang sempat runtuh pada 2018 silam kini tumbuh kembali melalui aktivitas erupsi yang berlangsung secara bertahap.
Dini menjelaskan penelitian yang dilakukan oleh BRIN, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), University of Birmingham, ITB, Penn State Univerity, British Geological Survey, serta University of Oxford yang masih berlangsung hingga kini menemukan Gunung Anak Krakatau memperlihatkan bahwa gunung api merupakan sistem yang dinamis.
"Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali. Setelah kolaps pada 2018, morfologi dan gaya erupsi berubah secara drastis, lalu diikuti fase pertumbuhan kembali melalui erupsi dan pembentukan lava baru," kata Dini dalam keterangan di Jakarta, Rabu.
Dini memaparkan sektor barat daya Anak Krakatau runtuh ke laut dengan volume material sekitar 0,116 kilometer kubik. Peristiwa tersebut menghilangkan sebagian besar tubuh gunung yang berada di atas permukaan laut, menurunkan ketinggian puncak dari sekitar 330 meter menjadi 120 meter, serta memicu tsunami di Selat Sunda.
Ia melanjutkan, keruntuhan tidak hanya mengubah bentuk fisik Anak Krakatau. Sistem erupsinya juga mengalami perubahan. Hilangnya sebagian besar tubuh gunung secara tiba-tiba mengurangi tekanan pada saluran magma, sementara air laut masuk ke kawah yang terbuka.
"Perbandingan morfologi sebelum dan setelah runtuhan 2018 menunjukkan perubahan yang sangat besar. Bentuk kerucut yang sebelumnya relatif tinggi berubah menjadi morfologi yang lebih rendah dan terbuka, kemudian secara bertahap dibangun kembali oleh aktivitas erupsi berikutnya," ujar Dini.
Sejak 2019, kata Dini, Anak Krakatau memasuki fase yang disebut sebagai rekonstruksi dan pertumbuhan kembali. Aktivitas berkembang dari erupsi yang masih dipengaruhi interaksi air menuju erupsi Strombolian, lava fountain, dan aliran lava.
Material yang dihasilkan dari aktivitas tersebut secara bertahap membangun kerucut baru di dalam kawah pascakolaps. Salah satu proses pertumbuhan terlihat dari pembentukan lava pada 2020 yang menumpuk di atas material hasil aktivitas setelah runtuhan.
Dini menjelaskan, perjalanan Anak Krakatau menunjukkan bahwa memahami gunung api tidak cukup hanya dengan melihat satu kejadian erupsi. Perubahan sistem magma, material penyusun, bentuk tubuh gunung, gaya erupsi, hingga kondisi lingkungan saling berkaitan dan dapat berubah dari waktu ke waktu.
"Catatan erupsi Anak Krakatau memperlihatkan bahwa perilaku gunung api tidak selalu tetap, tetapi dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, dan kondisi lingkungannya," tutur Dini Nurfiani.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) mengimbau masyarakat tetap waspada meski status aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada).
Kepala Pelaksana BPBD Lampung Selatan Maturidi mengatakan penurunan status aktivitas vulkanik GAK tidak berarti seluruh ketentuan keselamatan dicabut sehingga masyarakat tetap harus mematuhi rekomendasi Badan Geologi.
“Kami tetap mengimbau masyarakat, wisatawan, dan nelayan untuk berhati-hati serta mengikuti ketentuan dan arahan yang telah ditetapkan,” ujar Maturidi, di Kalianda, Rabu.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menurunkan status GAK menjadi Level II mulai Senin (21/9) pukul 18.30 WIB setelah hasil pemantauan menunjukkan aktivitas vulkanik cenderung menurun hingga 20 September 2026.
Seiring perubahan status tersebut, radius larangan aktivitas disesuaikan dari sebelumnya tiga kilometer menjadi dua kilometer dari pusat aktivitas GAK.
BPBD Lampung Selatan terus berkoordinasi dan menyosialisasikan perubahan status serta ketentuan keselamatan kepada masyarakat, khususnya warga yang beraktivitas di wilayah pesisir.
Maturidi mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan penurunan status sebagai alasan untuk mengabaikan batas aman yang telah ditetapkan.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Runtuh pada 2018, Peneliti BRIN ungkap Anak Krakatau kini tumbuh lagi
Pewarta : Sean Filo Muhamad
Editor:
Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.