REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi bagian penting dalam rantai pasok haji dan umrah global, khususnya melalui sektor pangan, pertanian, perikanan, peternakan, hingga industri olahan.
Potensi tersebut, menurut Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU) Kementerian Haji dan Umrah, Prof. Jaenal Effendi, perlu didukung dengan konektivitas, koordinasi, dan kemitraan yang terstruktur agar produk Indonesia mampu bersaing dan memasuki pasar Arab Saudi secara berkelanjutan.
"Kebutuhan katering haji tidak hanya berupa makanan siap saji, tetapi juga mencakup berbagai komoditas pangan seperti beras, daging, ikan, sayuran, rempah, dan produk olahan," ujar dia dalam keterangannya, Selasa (4/8/2026).
Hal itu disampaikan saat Business Matching Indonesia-Saudi Arabia Partnership Forum 2026 yang digelar Asosiasi Amanah Haji dan Umrah Republik Indonesia (ASHURI). Forum tersebut membuka peluang bagi sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan industri pangan Indonesia untuk masuk dalam rantai pasok haji dan umrah global.
Business Matching Indonesia-Saudi Arabia Partnership Forum 2026 di Jakarta mengangkat tema "Building Strategic Partnerships for a Sustainable Pilgrim Supply Chain". Forum tersebut menjadi wadah strategis untuk mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, eksportir, importir, perusahaan logistik, penyedia layanan haji dan umrah (syarikah), investor, serta berbagai pemangku kepentingan dari Indonesia dan Arab Saudi.
Jaenal menilai forum tersebut bukan sekadar mempertemukan pelaku usaha, tetapi menjadi titik awal membangun ekosistem yang solid sehingga produsen, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta eksportir Indonesia dapat memasuki pasar Arab Saudi secara terstruktur dan berkelanjutan, serta membangun kemitraan bisnis berkelanjutan dalam mendukung ekosistem ekonomi haji dan umrah.
sumber : Antara