Idham Nur Indrajaya
| 2 Oktober 2026, 19:21 WIB

Influenza A meningkat di Indonesia, sementara klaim rawat inap Allianz naik 47% hingga September 2026. - dok. Allianz Indonesia
AKURAT.CO Influenza A kembali menjadi perhatian di Indonesia. Bukan hanya karena proporsi spesimen positif influenza dalam pemantauan Kementerian Kesehatan meningkat, tetapi juga karena data klaim Allianz Life Indonesia menunjukkan kebutuhan rawat inap akibat influenza ikut mengalami kenaikan.
Berdasarkan pemantauan Kementerian Kesehatan RI per 26 September 2026, proporsi positif influenza pada surveilans influenza-like illness (ILI) mencapai 58,59% pada minggu ke-37, naik dari 53,71% pada minggu sebelumnya.
Pada saat yang sama, Allianz Life Indonesia mencatat kasus influenza yang membutuhkan rawat inap di rumah sakit meningkat 47% sepanjang Januari hingga Agustus 2026 dibandingkan periode yang sama pada 2025. Hingga minggu kedua September 2026, perusahaan telah membayarkan klaim terkait influenza lebih dari Rp13,8 miliar untuk 1.857 kasus.
Influenza A menjadi perhatian karena indikator positif influenza dalam surveilans Kemenkes meningkat, sementara data Allianz menunjukkan peningkatan kebutuhan rawat inap terkait influenza. Namun, kedua angka tersebut berasal dari sistem pemantauan dan populasi yang berbeda sehingga tidak dapat dianggap sebagai hubungan sebab-akibat langsung.
Influenza A di Indonesia Meningkat, Apa yang Terjadi?
Data Kemenkes menunjukkan proporsi positif influenza dalam surveilans ILI pada minggu ke-37 2026 mencapai 58,59%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan 53,71% pada minggu sebelumnya.
Untuk memahami angka tersebut, penting melihat bagaimana data itu diperoleh. Pada minggu yang sama, Kemenkes memeriksa 198 spesimen dan menemukan 105 spesimen positif Influenza A(H1N1)pdm09 serta tujuh spesimen positif Influenza A(H3N2).
Dengan kata lain, angka 58,59% tidak berarti 58,59% penduduk Indonesia sedang terkena influenza. Angka tersebut merupakan proporsi spesimen yang positif dari spesimen yang diperiksa dalam surveilans ILI.
Perbedaan ini penting karena angka surveilans sering kali mudah disalahartikan sebagai prevalensi seluruh populasi. Padahal, keduanya memiliki cakupan dan metode pengukuran yang berbeda.
Kenaikan dari 53,71% menjadi 58,59% juga belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh wilayah Indonesia mengalami peningkatan dengan pola yang sama. Data tersebut lebih tepat dibaca sebagai sinyal dari sistem pemantauan influenza yang perlu terus diikuti.