ITB: El Nino 2026-2027, picu kekeringan dan munculkan peluang ekonomi

para pakar ITB dan BMKG mendorong perubahan paradigma penanganan dari responsif darurat menjadi mitigasi berbasis risiko berdasarkan prediksi sains guna memperkuat ketahanan air dan pangan nasional.

Bandung (ANTARA) - Pusat Perubahan Iklim Institut Teknologi Bandung (PPI ITB) memetakan fenomena El Nino yang sangat kuat terjadi pada periode 2026-2027, tidak hanya memicu ancaman kekeringan, melainkan membuka peluang ekonomi berupa kenaikan produksi garam nasional serta perluasan areal tanam padi di lahan rawa.

Dalam gelar wicara (talkshow) interaktif di Gedung PAU ITB Bandung, Kamis, para pakar ITB dan BMKG mendorong perubahan paradigma penanganan dari responsif darurat menjadi mitigasi berbasis risiko berdasarkan prediksi sains guna memperkuat ketahanan air dan pangan nasional.

Kepala PPI ITB Prof Djoko Santoso Abi Suroso menegaskan informasi prakiraan cuaca beberapa bulan sebelum puncak fenomena harus diterjemahkan langsung menjadi tindakan taktis di lapangan sebelum krisis air dan pangan mencapai kondisi kritis.

"Yang ingin kami luruskan adalah cara memahami El Nino. Fenomenanya terjadi di Samudra Pasifik, tetapi bagi masyarakat Indonesia yang paling penting adalah mengetahui apa dampaknya di wilayah mereka, seberapa besar risikonya, dan apa yang perlu diantisipasi," kata Djoko Santoso.

Peneliti Senior PPI ITB dan BRIN Dr Elza Surmaini menyebut peta dampak El Nino bersifat spesifik lokasi dan sektor. Dia memaparkan historis data 1990-2024 menunjukkan El Nino memicu penurunan produksi padi nasional sebesar 0,5-1,7 juta ton, namun tidak terjadi secara merata di seluruh daerah.

Anomali iklim yang cenderung lebih kering justru memicu fenomena upwelling yang menguntungkan perikanan tangkap, mendongkrak produksi garam, serta menyurutkan muka air di lahan rawa lebak sehingga dapat dimanfaatkan petani untuk memperluas areal tanam padi.

"Peningkatan kapasitas adaptasi petani menjadi salah satu kunci untuk menekan risiko tersebut. Upaya yang dapat dilakukan meliputi penguatan sistem informasi dan peringatan dini cuaca dan iklim, penyesuaian kalender tanam, penggunaan varietas toleran kekeringan atau berumur genjah, efisiensi penggunaan air, serta diversifikasi tanaman," ujar Elza Surmaini.

Di sisi meteorologi, Ketua Tim Pakar PPI ITB Dr Tri Wahyu Hadi menjelaskan penurunan pasokan uap air dari Samudra Pasifik berdampak merambat pada penurunan debit sungai, surutnya air waduk, gangguan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), hingga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Peneliti Bidang Bahaya dan Risiko Sektor Air PPI ITB Fikry Purwa Lugina, mendesak pengelola sumber daya air memperkuat kapasitas tampungan DAS, mengatur alokasi air, dan memantau kelembapan tanah secara real-time.

"Terjemahkan prakiraan menjadi keputusan, bukan sekadar informasi," ujar Fikry.

Sementara itu, Direktur Perubahan Iklim BMKG Dr A Fachri Radjab mengimbau publik mewaspadai dua fase cuaca ekstrem sekaligus, yakni risiko kekeringan pada puncak kemarau serta ancaman hujan lebat dan angin kencang saat memasuki masa peralihan musim.

Ketua Program Studi Sarjana Meteorologi ITB Dr Muhammad Rais Abdillah menambahkan pemahaman berbasis data sains menjadi kunci utama agar pemerintah daerah dan masyarakat dapat meminimalkan risiko bencana sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi yang muncul selama periode El Nino 2026-2027.

Baca juga: BMKG: Waspada fenomena El Nino kuat, donkrak potensi karhutla Jatim

Baca juga: Menteri HAM perintahkan jajaran aktif kendalikan dampak El Nino

Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: Rini Utami
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.