Jaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi, Misbakhun: Kredit Perbankan Harus Terus Diperkuat

Oleh karena itu, penguatan investasi, penyaluran kredit perbankan, hingga percepatan belanja pemerintah harus menjadi fokus utama.

"Semua elemen yang selama ini menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi memberikan kontribusi. Konsumsi rumah tangga masih kuat, investasi mulai menunjukkan pola pertumbuhan, dan belanja pemerintah tetap memberikan penguatan. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana angka-angka ini mulai benar-benar dirasakan oleh masyarakat secara lebih inklusif," kata Misbakhun dikutip dari YouTube CNBC Indonesia dalam acara Power Lunch, Jumat (7/8/22026).

Misbakhun menjelaskan, pola pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini memang sangat dipengaruhi oleh momentum konsumsi masyarakat. Pada kuartal pertama, misalnya, aktivitas ekonomi terdorong oleh periode Natal dan Tahun Baru serta Ramadan dan Idulfitri yang meningkatkan belanja rumah tangga.

Memasuki kuartal kedua, dorongan tersebut mulai berkurang sehingga laju pertumbuhan ekonomi kembali bergerak lebih normal.

"Ekonomi Indonesia memang selalu mengalami naik turun secara periodik. Ada momentum ketika konsumsi masyarakat meningkat karena hari besar keagamaan atau libur panjang, kemudian setelah itu aktivitas ekonomi kembali lebih datar. Situasi seperti ini memang menjadi pola yang terus berulang," ujarnya.

Meski demikian, Misbakhun melihat beberapa indikator mulai menunjukkan perbaikan yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Salah satunya berasal dari konsumsi energi, khususnya listrik, yang menurutnya mengalami lonjakan cukup signifikan dibandingkan periode sebelumnya.

"Konsumsi listrik yang sebelumnya pertumbuhannya hanya sekitar 0,99 persen kini meningkat hingga di atas 10 persen. Ini menunjukkan aktivitas masyarakat dan dunia usaha juga mulai bergerak lebih baik," katanya.

Selain itu, investasi juga mulai memperlihatkan tren peningkatan, sementara belanja pemerintah masih menjadi penopang pertumbuhan meskipun tidak sebesar pada awal tahun.

Misbakhun menilai kuartal III dan IV akan menjadi periode yang sangat menentukan bagi perekonomian nasional. Pada fase tersebut, proyek-proyek pemerintah maupun investasi swasta yang telah direncanakan sejak awal tahun umumnya mulai direalisasikan.

"Biasanya pada kuartal ketiga dan keempat proyek-proyek pemerintah maupun swasta mulai berjalan. Di akhir tahun bahkan biasanya seluruh proyek yang belum selesai akan dipercepat sehingga memberikan tambahan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Karena itu, ia menilai ekspansi kredit perbankan menjadi faktor yang harus terus dijaga agar investasi sektor riil tidak kehilangan momentum.

Menurutnya, pembiayaan kepada korporasi maupun pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) harus terus ditingkatkan agar investasi mampu menciptakan aktivitas ekonomi baru.

"Kredit perbankan, baik untuk korporasi, UMKM maupun konsumen, harus terus diperkuat. Kalau momentum ini bisa dijaga pada kuartal ketiga hingga akhir tahun, maka pertumbuhan ekonomi memiliki peluang tetap terakselerasi," katanya.

Misbakhun juga mengungkapkan pemerintah telah menyiapkan langkah untuk menjaga likuiditas perbankan melalui optimalisasi pengelolaan kas negara.

Menurut Misbakhun, Menteri Keuangan telah menyampaikan komitmen untuk memanfaatkan dana yang selama ini tersimpan sebagai saldo anggaran lebih (SAL) maupun sisa lebih pembiayaan anggaran (SiLPA) agar dapat mendukung penyaluran kredit melalui bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

"Pemerintah memberikan keyakinan bahwa dalam waktu tertentu dana tersebut akan dimanfaatkan melalui perbankan Himbara untuk mengakselerasi pertumbuhan kredit. Likuiditas ini harus dimanfaatkan dengan baik agar investasi di sektor riil bisa semakin kuat, baik untuk korporasi maupun UMKM," ujar Misbakhun.

Selain memperkuat pembiayaan, pemerintah juga didorong mempercepat realisasi belanja negara, termasuk transfer ke daerah, sehingga roda perekonomian dapat terus bergerak pada semester kedua.

"Belanja pemerintah, termasuk penyaluran ke daerah, harus terus dipercepat agar aktivitas ekonomi semakin berputar," katanya.

Di sisi eksternal, Misbakhun melihat prospek ekspor Indonesia juga mulai menunjukkan peluang yang lebih baik. Ketua Komisi XI itu menilai kenaikan harga batu bara dapat menjadi sentimen positif bagi kinerja ekspor nasional.

Sementara itu, pelaku usaha global dinilai mulai beradaptasi dengan berbagai risiko geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah yang memengaruhi jalur perdagangan internasional.

"Harga batu bara mulai menunjukkan kenaikan. Di sisi lain, pelaku usaha juga mulai menyesuaikan diri terhadap berbagai ketidakpastian global, termasuk situasi di Timur Tengah. Dunia usaha sudah mulai menghitung risiko tersebut sebagai bagian dari aktivitas bisnis sehingga rantai logistik perlahan kembali beradaptasi," ujar Misbakhun.

Dengan kombinasi penguatan konsumsi, percepatan investasi, peningkatan kredit perbankan, belanja pemerintah yang lebih agresif, serta prospek ekspor yang membaik, ia optimistis momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dapat dipertahankan hingga akhir tahun.

"Yang terpenting sekarang adalah memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya menjadi angka statistik, tetapi benar-benar dirasakan masyarakat melalui meningkatnya aktivitas ekonomi, investasi, dan kesempatan kerja," tutur Misbakhun.