Kasus Kanker Diprediksi Naik 66,7 Persen, WHO Soroti Ketimpangan Layanan

Bagikan:

JAKARTA – Kasus kanker di dunia diperkirakan naik 66,7 persen pada 2050. Namun, tempat tinggal dan kondisi ekonomi masih berpengaruh besar terhadap peluang pasien mendapat diagnosis, perawatan, dan kesempatan hidup yang lebih baik.

Euronews dikutip Senin, 13 Juli, menyebut laporan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan kenaikan kasus terjadi seiring bertambahnya usia penduduk, pertumbuhan populasi, serta paparan faktor risiko seperti polusi.

Kenaikan terbesar diperkirakan terjadi di kawasan Afrika sebesar 125,2 persen dan Mediterania Timur sebesar 109,8 persen. Negara berpendapatan rendah dan menengah ke bawah diprediksi menanggung beban paling berat.

Ketimpangan terlihat dari peluang hidup pasien. Tingkat kelangsungan hidup lima tahun untuk kanker payudara dan kanker anak mencapai lebih dari 85 persen di negara berpendapatan tinggi. Angkanya turun di bawah 45 persen di negara berpendapatan rendah.

WHO juga menyoroti terbatasnya akses diagnosis kanker. Kondisi itu membuat penyakit terlambat ditemukan dan stadium kanker sulit ditentukan secara akurat.

BACA JUGA:


Akibatnya, banyak pasien baru mendapat penanganan ketika penyakit sudah berada pada tahap lanjut. Hal ini masih terjadi, bahkan pada jenis kanker yang sebenarnya dapat dideteksi lebih dini.

Ketimpangan juga terjadi di dalam satu negara. Pendidikan, lokasi tempat tinggal, etnis, gender, disabilitas, serta status sebagai masyarakat adat, imigran, atau pengungsi ikut memengaruhi akses terhadap layanan.

“Apakah seseorang dapat bertahan hidup dari kanker tidak boleh bergantung pada tempat ia dilahirkan atau berapa penghasilannya,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Tedros mengatakan kesenjangan tersebut bukan sesuatu yang tidak dapat diubah. Menurut dia, kondisi itu merupakan akibat dari pilihan kebijakan dan dapat ditekan melalui tindakan yang lebih kuat dan terpadu.

Sebanyak 82 persen negara saat ini telah memiliki rencana nasional pengendalian kanker. Inovasi ilmu pengetahuan juga berkembang pesat. Namun, WHO menilai kemajuannya masih terlalu lambat untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Direktur Badan Internasional untuk Riset Kanker WHO atau IARC, Elisabete Weiderpass, mengatakan sejumlah negara berhasil menurunkan angka beberapa jenis kanker setelah menerapkan kebijakan pencegahan.

Namun, hasilnya belum cukup cepat.

“Pola kanker terus berubah dan semakin didorong oleh meningkatnya obesitas, kurangnya aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, serta polusi udara,” kata Weiderpass.

Ia menegaskan pencegahan kanker harus tetap menjadi prioritas kebijakan.

Menurut laporan WHO yang dikutip Euronews, satu dari lima orang berisiko terkena kanker sepanjang hidupnya. Sebanyak 92 persen penduduk dunia juga diperkirakan memiliki anggota keluarga dekat yang didiagnosis kanker.

Pada 2024, dunia mencatat 20,6 juta kasus kanker baru dan sekitar 9,7 juta kematian. Kanker menjadi penyebab kematian terbesar kedua setelah penyakit jantung dan pembuluh darah.

Pada laki-laki, kanker paru-paru dan prostat menjadi jenis yang paling banyak ditemukan. Pada perempuan, kanker payudara dan paru-paru menempati posisi teratas.

WHO meminta pemerintah memperkuat data dan pertanggungjawaban untuk mengukur kemajuan serta menentukan langkah kebijakan. Investasi dan kerja sama antarnegara juga perlu ditingkatkan agar hasil riset lebih cepat masuk ke kebijakan dan layanan kesehatan.

“Pilihan yang kita ambil sekarang dan dalam beberapa tahun ke depan akan menentukan beban kanker pada masa mendatang,” kata Tedros.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+