KemenPPPA: Keselamatan anak harus jadi prioritas penanganan karhutla
Senin, 7 September 2026 19:21 WIB
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi. (ANTARA/HO-KemenPPPA)
Jakarta (ANTARA) - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi menekankan kepentingan terbaik anak harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan dan langkah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), mulai dari fase tanggap darurat hingga pemulihan.
"Bencana karhutla bukan sekadar soal angka atau luas lahan yang terbakar, ini tentang napas dan masa depan anak-anak kita. Jika keselamatan dan kepentingan terbaik anak diabaikan dalam penanganan bencana, kita sedang membiarkan hak-hak dasar mereka tercederai," kata Menteri PPPA Arifah Fauzi di Jakarta, Senin.
Ia menegaskan bahwa KemenPPPA memandang serius bencana karhutla yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia.
Menurut dia, dampak karhutla tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan, keselamatan, dan hak-hak dasar anak secara langsung.
"Kita harus memastikan keselamatan, pendidikan, kesehatan, tumbuh kembang, dan perlindungan anak menjadi prioritas utama dalam setiap respons karhutla. Melindungi anak dalam situasi krisis bukan pilihan, melainkan kewajiban mutlak kita bersama," kata Arifah Fauzi.
Ia mengatakan anak-anak, khususnya bayi dan balita, merupakan kelompok yang memiliki kerentanan paling tinggi saat bencana karhutla terjadi.
Kualitas udara yang memburuk akibat paparan asap berdampak serius pada organ pernapasan, sistem kekebalan tubuh, dan fungsi kognitif anak yang belum berkembang sempurna.
"Kondisi darurat karhutla mengganggu aktivitas pendidikan, membatasi ruang bermain, serta menghambat akses anak terhadap layanan dasar. Dalam situasi pengungsian, anak berpotensi menghadapi risiko keterpisahan dari orang tua, kekerasan, eksploitasi, penelantaran, hingga gangguan psikososial. Anak tidak boleh menjadi korban yang tidak terlihat dalam setiap bencana," tutur Menteri Arifatul Choiri Fauzi.
Kementerian Kesehatan mencatat adanya 50.891 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla sepanjang Juli hingga Agustus 2026, di mana 12.600 kasus di antaranya dialami oleh balita.
Pewarta : Anita Permata Dewi
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026