BMKG: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Belum Terdeteksi di Semarang |Republika Online

Petugas Kementerian PU memeriksa struktur jalan di Jalan Gombel Lama, Semarang, Jawa Tengah, Senin (20/4/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang telah melakukan paper test untuk mendeteksi apakah terdapat sebaran abu vulkanik imbas erupsi Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan hasil tes pada Senin (7/9/2026), belum terdeteksi adanya sebaran abu vulkanik di wilayah Semarang.

“Pagi ini wilayah Semarang hasilnya negatif,” ujar Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Harits Syahid Hakim, ketika dihubungi Republika.

Dia menjelaskan, pemantauan yang dilakukan BMKG menggunakan dua cara, yakni paper test dan citra satelit. Harits mengatakan pemeriksaan paper test dilakukan secara berjenjang. Sementara pantauan citra satelit dilakukan setidaknya setiap jam.

“Jadi memang untuk saat ini Indonesia sedang mengalami musim timur. Jadi kondisi angin lebih berasal dari timur ke arah barat. Kenapa wilayah kita (Semarang) negatif? Karena sebaran debu vulkaniknya mengarah ke barat, seperti wilayah Lampung, Bengkulu, Palembang, dan sekitarnya,” kata Harits.

Dia menambahkan, BMKG Stasiun Ahmad Yani Semarang sudah melakukan paper test sejak Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi. Namun hasilnya belum pernah positif. “Untuk (pemeriksaan) di Bandara Kertajati di Majalengka yang berbatasan dengan Jawa Tengah pagi ini pun hasilnya negatif,” ucapnya.

Soal isu terkait menyebarnya sulfur dioksida (SO2), Harits mengatakan pihaknya tidak melakukan pemantauan dan pemeriksaan terkait hal tersebut. Sebab BMKG hanya memantau berdasarkan visualisasi dan citra satelit.

Kendati demikian, terkait sulfur dioksida, Harits mengimbau masyarakat untuk menelaah setiap informasi yang diterimanya. “Jangan hanya mencaplok dari orang ataupun sosmed, kemudian disebarkan. Jadi harus diketahui dulu sumber berita, kemudian sumber informasinya ini benar atau tidak,” ujarnya.