Jakarta -
Banyak orang mengira penyakit jantung baru menjadi ancaman saat memasuki usia 50 atau 60 tahun. Padahal, kondisi tersebut bisa terjadi jauh lebih awal.
Para dokter spesialis jantung mewanti-wanti proses 'penuaan jantung' dan perubahan yang menentukan kesehatannya di masa depan, bisa dimulai jauh lebih awal. Tepatnya di usia 30-an yang sering kali tanpa gejala sama sekali.
Di usia 30-an, jantung memang jarang memberikan tanda-tanda masalah. Di tengah sibuknya jam kerja yang panjang, membesarkan anak, menabung, hingga mengejar karier, tubuh rasanya masih bugar dan baik-baik saja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak ada nyeri dada, tidak ada sesak napas, dan tak ada peringatan yang jelas.
Namun, di balik perasaan tubuh yang sehat itu, proses penuaan pembuluh darah dan organ jantung bisa mulai terjadi. Tekanan darah, kolesterol, gula darah, hingga berat badan perlahan-lahan mulai bergerak ke arah yang salah tanpa disadari.
"Usia 30-an bukanlah terlalu dini untuk mulai memikirkan kesehatan jantung. Faktanya, inilah saat di mana pencegahan dapat menjadi investasi jangka panjang," tegas Dr Girish B Navasundi, MBBS, MD, DNB, Konsultan Senior Spesialis Jantung Intervensi dari Apollo Hospitals Bannerghatta Road, India, dikutip dari Times of India.
Dr Girish menjelaskan bahwa proses terjadinya penyakit jantung koroner berkembang secara diam-diam selama bertahun-tahun. Menurutnya, kelompok usia muda tidak kebal dari kondisi ini.
Bahkan, studi terkait sindrom koroner akut menunjukkan porsi kasus yang signifikan terjadi sebelum seseorang menginjak usia 40 dan 50 tahun.
Untuk membendung proses 'penuaan jantung' secara dini, Dr Girish membagikan empat pilar utama yang perlu diterapkan sejak memasuki usia 30-an:
1. Olahraga Sebagai Rutinitas, Bukan Hukuman
Menjaga jantung tak harus langsung dengan latihan fisik yang terlampau berat. Aktivitas harian seperti jalan cepat, bersepeda, berenang, joging, menari, hingga berolahraga permainan sudah sangat membantu.
Kuncinya ada pada konsistensi. American Heart Association (AHA) merekomendasikan aktivitas aerobik intensitas sedang minimal 150 menit per minggu, atau 75 menit aktivitas berat, ditambah latihan penguatan otot dua kali seminggu.
"Jangan menganggap olahraga hanya sebagai sesi latihan fisik. Jika pekerjaan Anda menuntut untuk duduk selama beberapa jam, bangunlah secara berkala, berjalan kaki selama beberapa menit, dan mengurangi duduk terlalu lama juga sangat berarti," saran Dr Girish.
2. Utamakan Pola Makan Harian yang Sehat
Jantung tidak peduli apakah makanan Anda berlabel diet food atau tidak. Organ vital ini merespons pola keseluruhan dari apa yang sering Anda konsumsi.
Langkah terbaik adalah memperbanyak porsi sayuran, buah, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan, sembari membatasi makanan yang sangat diproses (ultra-processed foods), gorengan, daging olahan, minuman manis, serta asupan tinggi garam dan gula.
"Makan sehat bukan berarti Anda tidak boleh menikmati makanan favorit sama sekali. Yang penting adalah apa yang membentuk pola makan harian Anda. Sekali-kali memanjakan diri sangat berbeda dengan menjadikan makanan tidak sehat sebagai kebiasaan sehari-hari," tuturnya.
3. Cek dan Kenali Angka Kesehatan Tubuh
Merasa tubuh bugar tidak menjamin risiko kardiovaskular Anda rendah. Tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan gula darah tinggi kerap menjadi ancaman tersembunyi (silent killer) sampai terjadi kerusakan pembuluh darah.
Oleh karena itu, penting untuk mengetahui angka pasti indikator kesehatan Anda, bukan sekadar menebak dengan istilah 'tensi saya cuma naik sedikit'.
Mengetahui angka pasti membantu dokter menilai risiko dan mengambil langkah pencegahan lebih awal, terutama bagi yang memiliki riwayat keluarga penyakit jantung, diabetes, atau hipertensi.
4. Lindungi Jantung dari Stres dan Kurang Tidur
Menjaga kesehatan jantung juga berkaitan erat dengan gaya hidup di luar dapur dan tempat olahraga. Hindari rokok serta paparan asap tembakau karena dapat merusak jaringan pembuluh darah secara langsung.
Selain itu, kelola stres dan waktu tidur Anda. Bagi mereka yang berada di usia 30-an dengan beban kerja dan tanggung jawab keluarga yang tinggi, stres serta kurang tidur sering kali diabaikan.
Padahal, AHA merekomendasikan waktu tidur 7 hingga 9 jam setiap malam untuk mendukung pemulihan dan kesehatan pembuluh darah.
"Kesehatan jantung adalah komitmen jangka panjang, bukan solusi instan," pungkas Dr Girish.
Halaman 2 dari 2
(sao/naf)