Kualitas Udara Makassar Memburuk, BMKG Duga Imbas Asap Karhutla

Makassar, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) wilayah IV Makassar menyebutkan kualitas udara di Makassar akibat dipengaruhi kondisi asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dari Kalimantan yang terbawa angin menuju ke Sulawesi Selatan.

"Beberapa hari ini terpantau kualitasnya untuk indikator PM2,5 Maros dan sekitarnya termasuk Makassar itu masuk dalam kategori kurang sehat hingga sedang," kata Prakirawan BMKG Makassar, Asriani Idrus, Minggu (4/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kualitas udara cenderung memburuk pada malam hingga pagi hari. Namun, kondisi tersebut biasanya mulai membaik ketika memasuki siang hingga sore.

"Yang kurang sehatnya itu biasanya terjadi pada dini hari, tengah malam hingga pagi hari. Tadi ini terpantau sampai jam 11, pas jam 12 itu sudah kembali," ujarnya.

Menurut Asriani, pola pergerakan angin menjadi salah satu indikator yang memperkuat dugaan masuknya asap karhutla dari luar Sulawesi Selatan. Saat angin bertiup dari arah barat hingga barat laut, partikel asap dari wilayah Kalimantan berpotensi terbawa menuju Sulsel.

Sementara, ketika angin dominan dari timur, asap karhutla dari wilayah Papua dan Maluku juga berpeluang masuk ke wilayah Sulsel.

"Nah, penyebabnya itu kebanyakan dari kebakaran, asap kebakaran hutan. Karena tadi saya lihat arah anginnya umumnya berasal dari barat, jadi kemungkinan terbawa dari Kalimantan menuju ke wilayah Sulawesi Selatan," jelasnya.

Dia mengatakan kendaraan bermotor belum menjadi faktor dominan dalam peningkatan konsentrasi PM2,5 yang terpantau saat ini. BMKG menilai asap karhutla masih menjadi sumber utama partikel tersebut.

"Kalau asap kendaraan kayaknya belum. Karena masih normal-normal saja. Jadi faktor utamanya asap," katanya.

BMKG juga masih memantau titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah Kalimantan. Asriani menyebut hotspot masih cukup banyak sehingga potensi asap terbawa angin menuju Sulsel masih ada dalam beberapa hari ke depan.

"Kalau dilihat ini masih merah-merah sekali, masih kuat sekali titik hotspot di Kalimantan, belum mereda. Jadi masih ada kemungkinan terjadi beberapa hari kemudian," ungkapnya.

Selain kualitas udara, BMKG menyebut cuaca panas yang dirasakan masyarakat Makassar dan sejumlah wilayah Sulsel masih tergolong normal.

Asriani mengatakan Sulsel saat ini masih berada dalam periode musim kemarau sehingga suhu udara yang relatif tinggi merupakan kondisi yang wajar.

"Kalau untuk cuaca panas karena memang saat ini masih terpantau kita di wilayah Makassar, khususnya Makassar, umumnya di wilayah Sulawesi Selatan itu kita masih musim kemarau, jadi memang sangat normal cuaca saat ini," jelasnya.

Suhu udara di Sulsel saat ini berada di kisaran 30-35 derajat Celsius. Namun, suhu yang dirasakan tubuh bisa lebih tinggi karena dipengaruhi sejumlah faktor lain.

Menurut Asriani, kondisi tersebut berkaitan dengan indeks panas atau heat index, yang memperhitungkan kombinasi suhu udara, kelembapan, arah angin, dan radiasi matahari.

"Jadi suhu udara terasa panas ini itulah kondisi tubuh kita yang dipengaruhi oleh tekanan akibat panas lingkungan," katanya.

(ugo/mir)