Kualitas udara makin membaik di Kutai Timur - ANTARA News Kalimantan Timur

Sangatta, Kaltim (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur, Kalimantan Timur, mencatat kualitas udara di wilayah setempat menunjukkan tren membaik dalam tiga hari terakhir, seiring menurunnya konsentrasi partikulat yang menjadi indikator penurunan dampak paparan asap.

"Kualitas udara di Kabupaten Kutai Timur menunjukkan tren membaik dalam tiga hari terakhir," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati di Sangatta, Senin.

Dia mengatakan, hasil pemantauan menunjukkan konsentrasi partikulat PM2,5 dan PM10 menurun, baik di dalam maupun di luar ruangan.

Pada pengukuran luar ruangan, konsentrasi PM2,5 turun dari 50 menjadi 29,2 mikrogram per meter kubik, sedangkan PM10 berkurang dari 100,4 menjadi 64,4 mikrogram per meter kubik.

Dia menambahkan, pada 27 September, tercatat enam puskesmas telah memenuhi baku mutu, sembilan masih dalam pemantauan, dua perlu mendapat perhatian, dan empat masuk kategori prioritas. Tiga puskesmas lainnya belum memiliki data pengukuran pada tanggal tersebut.

Salah satu wilayah yang masih perlu mendapat perhatian adalah Puskesmas Sepaso dengan konsentrasi PM10 luar ruangan mencapai 174 mikrogram per meter kubik. Di Wahau II tercatat 79 mikrogram per meter kubik, sedangkan Busang mencapai 88,5 mikrogram per meter kubik.

Menurut Yuwana, kondisi tersebut menunjukkan kualitas udara tidak dapat dilihat hanya berdasarkan rata-rata kabupaten karena konsentrasi partikulat berbeda di setiap wilayah.

Perbaikan kualitas udara juga menjadi pertimbangan pemerintah dalam mengevaluasi kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang diberlakukan sejak 18 September 2026 akibat dampak kabut asap.

Dinas Kesehatan Kutim akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk membahas perkembangan kualitas udara dan kemungkinan pembelajaran kembali secara normal.

"Ini karena sekarang sudah semakin baik, nanti kita akan koordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk melihat apakah sudah memungkinkan pembelajaran dilakukan secara normal, tentunya dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan," ujarnya.

Yuwana menegaskan, perbaikan kualitas udara belum otomatis mengakhiri kebijakan PJJ. Pemerintah masih perlu melihat konsistensi tren kualitas udara dan kondisi masing-masing wilayah sebelum mengambil keputusan.

Dinkes juga merekomendasikan pemantauan lebih intensif di Sepaso, Teluk Pandan, Wahau II, dan Busang, termasuk penelusuran sumber partikulat pada lokasi dengan konsentrasi tinggi serta pengendalian debu dan polusi dari aktivitas luar ruangan.

Pewarta: M.Ghofar
Editor : Helti Marini S

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.