Kegiatan itu turut dihadiri akademisi Rocky Gerung, wartawan senior olahraga Asro Kamal Rokan, serta Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof Yunyun Yudiana.
Sadik mengatakan, buku tersebut lahir dari keresahan terhadap berbagai persoalan yang masih membayangi olahraga Indonesia, khususnya dalam konteks olahraga prestasi dan tata kelolanya.
Menurut Sadik, proses penulisan buku berlangsung sekitar lima hingga enam bulan. Dalam prosesnya, ia berdiskusi dengan sejumlah pihak yang memiliki perhatian terhadap perkembangan olahraga nasional.
Salah satu persoalan yang mendorongnya menulis buku tersebut adalah munculnya sebuah aturan sebelum Presiden Prabowo Subianto dilantik pada 20 Oktober.
Sadik menilai aturan itu berpotensi menimbulkan persoalan bagi olahraga, terutama jika dikaitkan dengan prinsip yang tercantum dalam Olympic Charter.
"Jadi, perlu diketahui bahwa olahraga prestasi memiliki semacam garis besar atau undang-undang sendiri yang disebut Olympic Charter. Di dalamnya, secara garis besar, diatur bahwa jika pemerintah ikut campur dalam politik olahraga, apalagi sampai mengatur proses olahraga, ada konsekuensi tertentu, termasuk kemungkinan mendapatkan sanksi," kata Sadik.
https://www.akurat.co/arena/824233/sea-games-judo-indonesia-lampaui-target-sabet-4-emas
Kekhawatiran tersebut kemudian menjadi bahan diskusi bersama sejumlah pihak yang memiliki pandangan serupa. Sadik sempat mencoba menyampaikan gagasannya melalui siniar, tetapi akhirnya memilih buku sebagai medium untuk menguraikan persoalan secara lebih komprehensif.
"Kemudian saya mencoba membuat podcast. Namun, mungkin tidak ada yang mau menerima podcast yang terlalu kritis. Akhirnya, kami berpikir, 'Sudah, kita buat buku saja,'" ujar Sadik.
Dalam proses penyusunannya, Sadik mendapat dukungan dari sejumlah rekan yang memiliki pengalaman akademis dan memahami metodologi penulisan. Ia menyebut wartawan senior olahraga Suryansah sebagai salah satu pihak yang ikut membantu proses tersebut.
Sadik menegaskan, kritik yang dituangkan dalam Membangun Otot di Negeri Kertas bukan sekadar luapan kemarahan. Menurut dia, gagasan tersebut muncul setelah melalui proses diskusi dan komunikasi dengan berbagai pihak di lingkungan olahraga.
"Ya, tentu. Kegelisahan itu pasti ada dasarnya. Kalau hanya marah-marah, tentu tidak masuk akal. Semua proses itu sudah kami lakukan. Kami memang orang-orang yang berada di organisasi olahraga dan memahami etika dalam olahraga. Etika itu sangat dihargai," ujarnya.
Dalam bukunya, Sadik juga mengangkat posisi olahraga dalam pembangunan sebuah negara. Menurut dia, olahraga seharusnya tidak hanya dipandang sebagai tontonan atau hiburan, tetapi memiliki peran strategis dalam menunjukkan kemajuan sebuah bangsa.
Asian Games 2018 di Indonesia menjadi salah satu momentum yang ia soroti. Sadik menilai penyelenggaraan ajang olahraga internasional semestinya dapat dimanfaatkan untuk memperlihatkan perkembangan Indonesia kepada dunia.
Ia kemudian mengambil contoh penyelenggaraan Olimpiade oleh Jepang, Korea Selatan, dan China yang menurutnya memiliki keterkaitan dengan proses perubahan serta kebangkitan negara-negara tersebut.
"Kenapa saya mengatakan demikian? Jepang menyelenggarakan Olimpiade 1964 untuk menunjukkan bahwa mereka, meskipun kalah dalam perang, sudah menjadi negara yang siap dan mampu bangkit kembali," kata Sadik.
Sadik berharap Asian Games 2018 juga dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk menunjukkan kebangkitan melalui olahraga. Namun, ia melihat persoalan klasik kembali muncul setelah ajang tersebut, salah satunya terkait dukungan anggaran bagi olahraga.
"Nah, kami berharap Asian Games 2018 di Indonesia juga bisa menjadi momentum seperti itu. Namun, setelah Asian Games 2018, bahkan memasuki 2017 dan seterusnya, kembali lagi persoalan anggaran seperti yang kita bicarakan tadi," tambahnya.
Bagi Sadik, persoalan tersebut menunjukkan masih perlunya perubahan cara pandang terhadap olahraga. Ia menilai olahraga memiliki potensi besar untuk berkontribusi terhadap pembangunan bangsa, tetapi belum selalu ditempatkan dalam posisi strategis.
"Padahal, di negeri-negeri lain, itu adalah tuntunan. Bahkan, olahraga dapat mengangkat martabat bangsa dan membangun peradaban," katanya.
Sadik juga menyinggung perkembangan olahraga di kawasan Asia Tenggara. Ia membandingkan kondisi Indonesia dengan Thailand, Vietnam, dan Malaysia yang dalam beberapa cabang olahraga mampu menunjukkan perkembangan signifikan.
Ia mempertanyakan mengapa Indonesia, yang memiliki sejarah dan sumber daya besar dalam olahraga, justru menghadapi situasi ketika sejumlah negara yang sebelumnya banyak belajar dari Indonesia kini mampu berkembang lebih jauh.
"Kalau semuanya mau disebutkan, saya pikir dari diskusi ini Anda bisa menyimpulkan sendiri bahwa memang ada hal-hal tertentu yang harus diperbaiki. Kenapa kita kalah dari negara-negara Asia lainnya?" ungkapnya.
Meski menyinggung aturan yang menjadi salah satu latar belakang kegelisahannya, Sadik memilih tidak menyebut regulasi tersebut secara spesifik. Ia lebih menekankan perlunya kesadaran para pemangku kepentingan bahwa olahraga memiliki cakupan yang jauh lebih besar daripada sekadar pertandingan dan prestasi atlet.
"Kalau soal aturan itu, saya tidak akan menyebutkannya secara spesifik. Yang jelas, para pemangku jabatan harus menyadari bahwa olahraga itu bukan sekadar olahraga," ujarnya.
Sadik berharap Membangun Otot di Negeri Kertas tidak berhenti sebagai buku yang berisi kritik terhadap persoalan olahraga nasional. Ia ingin gagasan di dalamnya menjadi pemicu evaluasi sekaligus keberanian untuk mengakui persoalan yang masih terjadi.
"Ya, seperti yang saya sampaikan tadi, harapan besarnya adalah adanya perubahan. Kita harus berani menyatakan dan berani mengakui," tuturnya.
"Pertama, kalau kita mau marah, kita harus mengakui terlebih dahulu bahwa ada kesalahan. Setelah mengakui, baru kita berani menyatakan, 'Ya, ini kita salah.'"
"Setelah itu, kita maju. Kita bisa berubah. That's it. Berpikirnya harus jernih, tetapi mengerjakannya belum tentu mudah," pungkas Sadik.