Graffiti di Yogyakarta tumbuh melalui pertemuan berbagai kultur. Tidak hanya berdampingan dengan seni visual lainnya, praktik graffiti juga beririsan dengan kultur skateboard dan musik yang ikut membentuk ekosistemnya. Dari berbagai pertemuan tersebut, lahir banyak ruang kolaborasi yang membuat regenerasi dalam skena graffiti terus berjalan.
Perkembangan tersebut membuat graffiti tidak lagi terpaku pada tembok jalanan. Praktiknya mulai merambah berbagai medium, mulai dari kanvas, panel kayu, bentuk tiga dimensi, hingga skate bowl. Perubahan cara pandang inilah yang kemudian menjadi salah satu latar yang mempertemukan YKRUMK, TECHOO, dan ZEINSONE dalam proyek SINTESIS.
Digelar di MUUSE Coffee Hub & Space, SINTESIS mempertemukan tiga karakter, bahasa visual, serta cara pandang berbeda dalam satu ruang. Alih-alih menyeragamkan pendekatan, proyek ini justru menjadikan perbedaan sebagai bagian penting dari karya.
SINTESIS juga membawa refleksi terhadap berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Kepentingan, keserakahan, konflik, hingga hasrat untuk menguasai menjadi konteks yang kemudian diterjemahkan melalui karya kolaboratif. Di tengah persoalan tersebut, ketiga seniman mencoba kembali melihat hal-hal sederhana seperti kemanusiaan, empati, dan kebaikan sebagai bagian dari percakapan yang mereka bangun.
Rangkaian SINTESIS berlangsung dalam beberapa tahap. Setelah giant painting landscape yang digelar pada 28 Juli 2026 dan bowl skate painting pada 22 Agustus 2026, proyek ini akan berlanjut melalui trio exhibition pada 12–26 September 2026. Pembukaan pameran dijadwalkan pada 12 September pukul 16.00 WIB dan akan dibuka oleh Kill The DJ, dengan penampilan ToneFayaTune, DJ Ghaitza, DJ Kateratchy, Knockdown, serta Serigala Malam.

YKRUMK membawa ketertarikan terhadap seni urban dan eksplorasi visual kontemporer ke dalam proyek ini. Ia mengembangkan praktik dari mural, graffiti, desain visual, hingga instalasi, dengan melihat seni bukan hanya sebagai persoalan estetika, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan gagasan dan membangun koneksi dengan masyarakat.
Sementara itu, TECHOO telah mempelajari graffiti sejak 2009. Karakter visualnya banyak bermain pada struktur font, presisi garis, kombinasi warna, tekstur, kolase, hingga bentuk sculpture. Kehadiran karakter OCHO yang lahir dari transformasi huruf “O” juga menjadi salah satu bagian dari perkembangan visualnya dalam beberapa tahun terakhir.
ZEINSONE sendiri mulai menekuni graffiti sejak 2008 dan melihat praktik tersebut sebagai medium yang tidak berhenti pada ekspresi spontan di ruang publik. Seiring waktu, ia memperdalam pemahamannya melalui berbagai referensi, interaksi komunitas, serta studi mandiri menggunakan buku, majalah, arsip visual, dan media digital.
Lewat SINTESIS, ketiganya akhirnya bertemu dalam satu proyek yang tidak berusaha mencari satu suara yang seragam. Perbedaan karakter justru menjadi titik berangkat untuk membangun sebuah ruang dialog. Sebuah pertemuan yang menunjukkan bagaimana graffiti dapat terus bergerak, berkembang, dan menemukan bentuk baru tanpa meninggalkan hubungan kuatnya dengan ruang publik dan komunitas.