ILUSTRASI. Dana Pensiun (KONTAN/Panji Indra)
Reporter: Ade Priyatin | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri dana pensiun sukarela mencatatkan selisih antara pembayaran manfaat yang lebih tinggi dibandingkan penerimaan iuran.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan per Juli 2026, nilai iuran program dana pensiun sukarela tercatat sebesar Rp 23,68 triliun.
Angka tersebut masih lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai manfaat program pensiun sukarela yang tercatat sebesar Rp 27,04 triliun pada periode yang sama.
Humas Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Syarif Yunus, kondisi ini membuat likuiditas dana pensiun tertekan seiring dengan pembayaran manfaat pensiun yang lebih tinggi bandingkan dengan penerimaan iurannya.
Baca Juga: Saatnya Siapkan Dana Pensiun Sejak Usia Produktif, Buka BRI DPLK Mudah Lewat BRImo
Selisih yang cukup jauh antara pembayaran manfaat dan penerimaan iuran menuruTnya perlu ditutup melalui hasil investasi.
"Artinya terjadi tekanan likuiditas. Maka pembayaran manfaat yang lebih tinggi dari iuran yang diterima harus ditutup dari hasil investasi yang dipilih," ujarnya kepada Kontan, Kamis (17/9/2026).
Kondisi tersebut membuat pengelolaan arus kas dan kesesuaian aset dengan kewajiban (asset-liability matching) menjadi makin penting.
Di samping itu, industri dana pensiun juga dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah memastikan ketersediaan dana untuk membayar manfaat tanpa harus menjual aset investasi pada waktu yang tidak menguntungkan.
Oleh karena itu, industri dana pensiun juga diimbau agar bisa terus menjaga keseimbangan antara tingkat imbal hasil investasi dengan kebutuhan likuiditas.
Selain itu, industri diharapkan bisa senantiasa mengantisipasi jumlah peserta yang akan memasuki masa pensiun. Upaya ini bisa dilakukan secara berkala agar kebutuhan pembayaran manfaat bisa dipersiapkan dengan baik dan tepat.
Baca Juga: Dana Pensiun BCA Catatkan Return on Investment 2,40% per Juli 2026
Dengan kondisi penerimaan iuran dan pembayaran manfaat yang jomplang hingga pertengahan tahun 2026 ini, Syarif menilai agar industri terus menjaga likuiditas hingga akhir tahun ini.
Beberapa di antaranya adalah dengan memperkuat proyeksi arus kas, pengelolaan aset dan kewajiban (asset-liability), serta diversifikasi investasi.
Namun, ia menegaskan bahwa fokus dana pensiun tidak hanya sekadar mengejar return investasi saja. Melainkan memastikan ketersediaan dana tepat waktu ketika manfaat pensiun harus dibayarkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag