Medali perunggu jadi penutup karier karateka Indonesia Cok Istri

Medali perunggu jadi penutup karier karateka Indonesia Cok Istri

Rabu, 23 September 2026 10:32 WIB

Image Print

Karateka Indonesia Cok Istri Agung Sanistyrani (kanan) saat podium nomor kumite -55 kilogram putri Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Toyohashi City General Gymnasium, Selasa (22/9/2026).  (ANTARA/HO-AINAGOC)

Nagoya (ANTARA) - Beberapa hari sebelum berangkat ke Jepang, Cok Istri Agung Sanistyrani sudah tahu apa yang ingin dibawanya pulang dari Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Bukan harus emas atau target yang muluk. Karateka yang akrab disapa Coki itu hanya berharap bisa membawa pulang medali, apa pun warnanya, sebagai kenangan dari Asian Games terakhir dalam kariernya.

“Harapannya semoga bisa mempersembahkan medali, apa pun warnanya. Supaya bisa dikenang, ada kenangan manis untuk menutup karier,” kata Cok Istri saat ditemui sebelum bertolak ke Jepang.

Keinginan sederhana itu akhirnya terwujud di Toyohashi City General Gymnasium, Selasa (22/9).

Cok Istri berdiri di podium nomor kumite -55 kg putri dengan medali perunggu setelah mengalahkan karateka Singapura, Hafezan Marissa, 7-3 pada laga perebutan tempat ketiga.

Perunggu itu mungkin bukan pencapaian tertinggi dalam olahraga. Namun bagi Cok Istri, medali tersebut terasa berbeda dibandingkan raihan lainnya.

Asian Games Aichi-Nagoya menjadi Asian Games terakhirnya. Ia juga menyebut ajang ini sebagai multi-event pamungkas sebelum perlahan melangkah keluar dari panggung yang telah lama menjadi bagian besar dalam hidupnya.

“Ini Asian Games terakhir. Kemarin SEA Games terakhir, ini Asian Games terakhir, multi-event terakhirku,” ujarnya.

Perjalanan menuju podium di Toyohashi pun tidak dilalui dengan mudah.

Cok Istri membuka penampilannya dengan kemenangan 6-1 atas wakil India, Alisha, di babak 16 besar. Pada perempat final, ia menghadapi perlawanan ketat dari karateka Makau, Lei Hong Kio, sebelum akhirnya menang 8-5.

Satu kemenangan lagi sebenarnya akan membawanya ke partai puncak. Namun, karateka Iran, Fatemehzahra Saeidabadi, menghentikan langkah tersebut. Cok Istri kalah 0-8 di semifinal dan harus mengubur asa memperebutkan emas.

Tak ada banyak waktu untuk meratapi kekalahan. Masih ada satu laga penentu apakah ia akan pulang membawa medali atau justru tanpa podium.

Cok Istri bangkit saat menghadapi Hafezan. Tampil efektif, ia menutup pertandingan dengan kemenangan 7-3 sekaligus mengunci medali perunggu.

Sejak awal, atlet berusia 31 tahun itu memang enggan terbebani oleh tekanan.

Pengalaman bertahun-tahun sebagai karateka membuatnya paham bahwa beban kadang justru membuat seorang atlet kehilangan kebebasan ketika bertanding.

Karena itu, untuk Asian Games terakhirnya, Cok Istri memilih datang dengan pendekatan berbeda.

“Bermain nothing to lose saja. Yang pasti tekadku ngasih yang terbaik karena ini Asian Games terakhir,” katanya.

Tantangan

Keputusan untuk bermain tanpa beban bukan berarti persiapannya berjalan tanpa hambatan. Cedera lutut sempat menjadi pengganggu dalam perjalanannya menuju Jepang.

Ia harus menjalani terapi, perawatan, serta menjaga kondisi bersama tim medis dan sport therapist agar tubuhnya siap bertanding kembali.

Persiapan yang dilalui pun jauh dari kata ideal lantaran sejumlah agenda tryout dan pemusatan latihan tidak berjalan sesuai rencana. Namun, alih-alih meratapi kekurangan, Cok Istri memilih fokus pada hal-hal yang masih bisa dikendalikannya.

Karateka Indonesia Cok Istri Agung Sanistyrani (kiri) saat melawan wakil Singapura Hafezan Marissa (kanan) pada pertandingan perebutan tempat ketiga nomor kumite -55 kilogram putri Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Toyohashi City General Gymnasium, Selasa (22/9/2026). Cok Istri memastikan medali perunggu setelah mengalahkan Marissa 7-3. (ANTARA/HO-AINAGOC)

Salah satunya lewat cara yang sederhana, yaitu aplikasi Notes di ponselnya.

Seusai SEA Games 2025 yang menyisakan banyak catatan evaluasi, ia menuliskan satu per satu hal yang perlu dibenahi, mulai dari kesalahan dalam pertandingan hingga hal yang harus diperbaiki menjelang Asian Games 2026. Daftar itu menjadi tugas pribadi yang ia rampungkan satu demi satu.

“Aku tulis di Notes. Jadi di Asian Games ini apa yang belum, aku checklist, checklist, checklist. Sekarang daftar yang belum di-checklist itu sudah selesai semua,” ujarnya.

Daftar checklist itu bukan semata-mata urusan teknik, ada pula komunikasi dengan pelatih, kondisi fisik yang wajib dijaga, hingga keyakinan pada proses latihan yang telah dilalui.

Hal-hal kecil itulah yang membuat Cok Istri merasa datang ke Jepang dengan kepercayaan diri lebih baik ketimbang saat tampil di SEA Games sebelumnya.

Kepercayaan diri tersebut sangat krusial mengingat situasinya sebagai atlet kini telah berbeda. Di satu sisi, ia mengakui peringkat dunianya sudah terlempar dari 100 besar. Di sisi lain, bermunculan karateka muda dengan performa yang terus melesat.

Meski begitu, ia masih mengantongi satu hal yang tak bisa diukur sekadar lewat angka: pengalaman.

“Aku yakin sama pengalaman yang aku punya. Aku yakin masih punya kemampuan yang cukup untuk menghadapi lawan-lawanku. Soal hasil aku enggak bisa tentukan, itu urusan Yang di Atas. Namun yang terpenting, aku percaya dan yakin sama persiapanku saat ini, " ujarnya.

Pengalaman

Pengalaman yang dimaksud Cok Istri bukan dibangun hanya dari satu atau dua turnamen, melainkan lewat lebih dari satu dekade persaingan di level internasional.

Salah satu pencapaian besarnya adalah menyabet emas SEA Games Kuala Lumpur 2017 di nomor kumite -61 kg putri. Empat tahun berselang, ia kembali bertengger di podium tertinggi pada SEA Games Vietnam untuk kelas -55 kg putri.

Di tingkat Asia, namanya pernah menghiasi podium Asian Games Jakarta-Palembang 2018 usai meraih perunggu kumite -55 kg putri. Ia juga mengoleksi rentetan medali Kejuaraan Asia, termasuk perak di Amman pada 2018 serta perunggu edisi 2017, 2019, dan 2021.

Deretan prestasi itu menjelaskan mengapa Cok Istri begitu tenang menyikapi akhir kariernya. Ia telah mengecap seluruh dinamika kehidupan atlet: menjadi juara, meraih medali Asian Games, gagal di perebutan podium, bergelut dengan cedera, hingga menyaksikan lahirnya generasi baru.

Sebab itu pula, ia menyadari penuh pentingnya regenerasi.

Melihat makin banyaknya karateka muda yang siap tampil, ia menganggapnya sebagai proses alamiah yang tak terhindarkan.

“Kayaknya memang sudah waktunya regenerasi. Banyak atlet muda sekarang,” tutur Cok Istri.

Kesadaran itulah yang membuat Asian Games 2026 di Jepang terasa sangat berkesan.

Tak ada lagi obsesi untuk membebani diri harus meraih emas atau keluar sebagai juara. Satu-satunya hal yang ingin ia pastikan: saat melangkah keluar dari tatami, tak ada lagi ruang untuk penyesalan atas proses yang telah dituntaskannya.

“Begitu aku turun dari tatami, enggak ada penyesalan lagi. Sebab, aku sudah memberikan yang terbaik di latihan,” tegasnya.

Di Toyohashi, perjalanan panjang itu akhirnya mengantarkannya ke atas podium. Perunggu Cok Istri menambah perolehan medali untuk karate Indonesia, mengikuti jejak Leica Al Humaira Lubis yang lebih dulu mengamankan medali senada di nomor kumite +68 kg putri.

Bagi kontingen Indonesia, raihan ini memperkuat pundi-pundi medali di Asian Games 2026. Namun bagi Cok Istri, maknanya jauh lebih mendalam dan personal.

Ia pernah melewati berbagai kejuaraan dengan beban target dan tekanan yang tak sama. Ia pun pernah berada di titik terendah saat cedera melanda, hasil tak sesuai harapan, dan segala hal harus diurai kembali lewat evaluasi.

Kali ini, ia berlaga berbekal sebuah daftar di ponsel, kondisi fisik yang terus dirawat, serta tekad bulat untuk memberikan sisa kemampuan terbaiknya.

Perjalanannya di Toyohashi memang tak sepenuhnya mulus. Ada kekalahan pahit 0-8 di semifinal yang menghempaskan peluang ke partai puncak. Namun ketika kesempatan terakhir datang di perebutan tempat ketiga, ia tak membiarkannya lepas begitu saja.

Sebelum bertolak ke Jepang, Cok Istri sempat berucap bahwa medali warna apa pun sudah cukup menjadi penutup yang manis. Kini, perunggu telah nyata dalam genggamannya.

Ketika waktunya meninggalkan panggung multi-event tiba, ia telah menuntaskan satu perjalanan panjang dengan kenangan yang ingin dibawanya pulang dari Asian Games pamungkasnya itu.

Namun, bagi Cok Istri, penutupan satu bab di atas tatami bukan berarti berhentinya perjalanan.

Dunia karate mungkin akan tetap menjadi bagian dari hidupnya. Setelah bertahun-tahun berjuang dari atas tatami, pengalaman panjang itu kini siap menemani langkah berikutnya, menjadi bekal untuk mendampingi dan melahirkan generasi penerus.

Pewarta: Muhammad Ramdan
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026