Menaker: Adopsi AI di dunia kerja harus berorientasi pada manusia
Selasa, 15 September 2026 15:58 WIB
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menjadi pembicara pada Indonesia Human Capital and Beyond Summit 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (15/9/2026). (ANTARA/HO-Kemnaker RI)
Jakarta (ANTARA) - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengatakan, adopsi kecerdasan buatan (AI) di dunia kerja harus berorientasi pada manusia dan diarahkan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja nasional.
Menaker Yassierli mengatakan, sektor dengan pemanfaatan AI yang tinggi menunjukkan pertumbuhan produktivitas lebih cepat dibandingkan sektor dengan pemanfaatan AI yang lebih rendah.
“Namun, penggunaan AI tidak serta-merta berarti pengurangan tenaga kerja secara drastis,” kata dia dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Menurutnya, teknologi justru dapat membuka peluang usaha sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap kompetensi tertentu. Oleh karena itu, pekerja perlu memiliki keahlian di bidangnya sekaligus kemampuan memanfaatkan AI dalam pekerjaan.
Baca juga: RI sebut pentingnya perlindungan SDM-rantai pasok global bagi ASEAN
“Adopsi AI tidak sebatas merekrut tenaga ahli atau menjadikan AI sekadar asisten digital,” kata Yassierli.
Ia menjelaskan, keberhasilan penerapan AI sangat bergantung pada pembenahan proses kerja.
Penggunaan AI hanya sebagai asisten operasional rata-rata meningkatkan produktivitas sekitar 5 persen. Namun, jika alur kerja dan standar operasional prosedur (SOP) dirancang ulang serta diikuti peningkatan keterampilan pekerja, produktivitas berpotensi meningkat 30–40 persen.
Lebih lanjut, Yassierli menambahkan, kajian Boston Consulting Group (BCG) terhadap 1.250 perusahaan menunjukkan 60 persen perusahaan pelopor AI belum merasakan manfaat bisnis yang signifikan. Salah satu penyebabnya adalah kesalahan dalam strategi penerapan AI.
“Karena itu, transformasi teknologi perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi penguatan daya saing sekaligus pembangunan ketenagakerjaan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam penerapan AI di dunia kerja, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mendorong empat prinsip penting.
“Pertama, AI digunakan untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan semata-mata menggantikan pekerja. Kedua, penerapannya dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan pekerja dan serikat pekerja atau serikat buruh,” kata Yassierli.
Lebih lanjut, keputusan AI yang berdampak pada hak, keselamatan, dan kesempatan kerja tetap berada di bawah pengawasan manusia.
Baca juga: Kemenaker: Sinergi lembaga pendidikan atasi tantangan ketenagakerjaan
Terakhir, penerapan AI harus memastikan tidak ada pekerja yang tertinggal (no one left behind), termasuk pekerja senior, sehingga diperlukan peningkatan keterampilan.
“Untuk mendukung penerapan AI yang bertanggung jawab, Kemnaker menjalankan proyek percontohan produktivitas berbasis AI, menyusun panduan resmi penerapan AI di tempat kerja, serta menyiapkan wadah kolaborasi antarperusahaan untuk pertukaran pengetahuan dan pembelajaran,” kata dia.
Baca juga: Wamenaker ajak mahasiswa kawal program ketenagakerjaan nasional
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menaker: Adopsi AI di dunia kerja harus berorientasi pada manusia
Pewarta : Arnidhya Nur Zhafira
Editor:
Wening Caya Ing Tyas
COPYRIGHT © ANTARA 2026