Mendag: RI-Malaysia perkuat perdagangan perbatasan Entikong-Tebedu

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Indonesia dan Malaysia berkomitmen memperkuat perdagangan lintas batas, khususnya di kawasan Entikong di Kalimantan Barat dan Tebedu di Sarawak.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan penguatan tersebut menjadi salah satu hasil pembahasan pertemuan tingkat menteri ke-4 Joint Trade and Investment Committee (JTIC) Indonesia-Malaysia di kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Kamis.

"Komitmen bersama kami terhadap implementasi yang efektif dari Perjanjian Perdagangan Perbatasan (Border Trade Agreement), serta upaya berkelanjutan untuk memfasilitasi perdagangan perbatasan dan mendukung konektivitas ekonomi, khususnya di wilayah perbatasan Entikong-Tebedu," ujar Budi.

Menurut Budi, penguatan perdagangan perbatasan menjadi bagian dari upaya kedua negara untuk memastikan kerja sama bilateral memberikan manfaat yang nyata.

JTIC sendiri merupakan forum bilateral Indonesia dan Malaysia yang menjadi wadah untuk membahas berbagai isu, tantangan, dan peluang di bidang perdagangan dan investasi.

Dalam pertemuan tersebut, kedua negara juga membahas akses pasar dan fasilitasi perdagangan, termasuk untuk produk pertanian dan pangan. Pembahasan diarahkan untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang masih menjadi hambatan dalam perdagangan bilateral.

Selain perdagangan perbatasan, Indonesia dan Malaysia menyepakati penguatan kerja sama investasi serta mendorong terciptanya iklim investasi yang kondusif di kedua negara.

Kedua negara juga akan melanjutkan kerja sama di sejumlah bidang lain yang menjadi kepentingan bersama, antara lain perdagangan elektronik (e-commerce), pertanian, halal, dan standar.

Budi meyakini hasil pertemuan JTIC ke-4 tersebut akan semakin memperkuat hubungan perdagangan dan investasi Indonesia-Malaysia sekaligus memperdalam kerja sama ekonomi kedua negara.

Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.