Mengubah uap panas bumi Kabupaten Sigi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi
Minggu, 20 September 2026 18:58 WIB
Wakil Bupati Sigi Samuel Yansen Pongi (kanan) saat menerima pemaparan pelaksanaan pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Bora Pulu oleh Kementerian ESDM. ANTARA/Moh Salam
Kabupaten Sigi (ANTARA) - Saat ini, sebagian besar pasokan listrik di Sulawesi Tengah masih bergantung kepada Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang ada di Kabupaten Poso dengan memanfaatkan aliran air dari Danau Poso, Sulteng.
Di lain sisi, data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara nomor dua di dunia dengan sumber daya panas bumi terbesar. Terkait hal itu, perencanaan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Bora Pulu di Kabupaten Sigi dinilai sudah sangat tepat.
Salah satu urgensi penggunaan energi panas bumi sebagai sumber energi beban dasar karena rendah emisi dan stabil, termasuk bisa menggantikan kebergantungan pada bahan bakar fosil untuk mencapai target Net Zero Emission 2060.
Rencana pembangunan dan pengembangan PLTP di Kabupaten Sigi merupakan proyek strategis nasional (PSN) atau backbone dari Astacita Presiden Prabowo Subianto yaitu ketahanan dan kemandirian energi nasional.
Kabupaten Sigi, menurut data Kementerian ESDM memiliki potensi panas bumi yang berada di Desa Bora. Target produksi awal komersial sebesari 40 megawatt oleh PLN mulai tahun 2033.
"Tahap awal PLTP Bora Pulu sebesar 40 megawatt mampu memasok listrik selama 24 jam penuh untuk 40.000 rumah tangga di Sulawesi Tengah umumnya melalui sistem kelistrikan Sulbagsel yang terhubung pada GI 150 kV Palu Baru," kata Koordinator Penyiapan Program dan Wilayah Panas Bumi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Pandu Ismutadi.
Total investasi pembangunan PLTP di Sigi sebanyak 228 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara dengan Rp4,06 triliun meliputi area seluas 78.388 hektare.
Proyek panas bumi itu bersifat jangka panjang dan dapat dioperasikan hingga 40 tahun lamanya.
Membuka lapangan pekerjaan baru
Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Bora Pulu membuka peluang lapangan pekerjaan bagi 175 orang untuk masyarakat setempat.
Hal itu dapat membantu pemerintah daerah dalam mengurangi angka pengangguran serta mengatasi kemiskinan di Kabupaten Sigi yang sudah mengalami penurunan menjadi 10,47 persen atau menjadi 28.604 jiwa tahun 2025 dari sebelumnya sebesar 31.470 jiwa atau setara 12,83 persen.
Selanjutnya kontribusi penerimaan negara bukan pajak atau PNBP dan bonus produksi setiap tahunnya bisa mencapai Rp3,7 miliar apabila sudah mulai beroperasinya proyek strategis nasional tersebut.
Lapangan pekerjaan itu masih untuk satu lokasi pengembangan PLTP yakni di Desa Bora. Padahal, masih terdapat dua wilayah lainnya yang bakal digarap dan berpotensi terus menambah peluang kerja bagi masyarakat lokal seperti di Desa Pulu dan Desa Kadidia.
Kedua desa itu menjadi lokasi cadangan pengembangan PLTP dengan totalnya bisa mencapai 123 megawatt apabila sudah beroperasi.
Tentunya berjalannya PLTP Bora Pulu bisa lebih banyak lagi membuka lapangan pekerjaan sehingga membantu pemerintah daerah dalam mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
"PLTP juga berperan secara langsung dalam pembukaan lapangan pekerjaan, peningkatan kesejahteraan melalui program pemberdayaan masyarakat serta berkontribusi pada penerimaan daerah melalui dana bagi hasil (DBH) serta bonus produksi panas bumi," kata Pandu.
Pandu memastikan pekerjaan lahan ditargetkan selesai pada triwulan I tahun 2027 kemudian dilanjutkan dengan pekerjaan perbaikan dan peningkatan infrastruktur jalan dan tapak sumur.
Selanjutnya seluruh kegiatan pengeboran PLTP di wilayah Bora mulai dilaksanakan pada triwulan III tahun 2027 mendatang.
Tingkatkan nilai investasi
Pemerintah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, menjamin dengan adanya pembangunan PLTP di wilayahnya dapat meningkatkan pendapatan asli daerah termasuk nilai investasi berupa Energi Baru Terbarukan seperti potensi panas bumi tersebut.
Proyek pengembangan PLTP Bora Pulu tidak hanya dilihat dari sisi memberikan tambahan dalam pendapatan daerah tetapi bisa memperkuat pasokan listrik jaringan PLN yang selama ini masih bergantung pada energi fosil batu bara di PLTA Poso.

Wakil Bupati Sigi Samuel Yansen Pongi menjelaskan pendapatan daerah Kabupaten Sigi diproyeksikan pada tahun 2027 mencapai Rp1,147 triliun dengan rincian pendapatan asli daerah sebesar Rp102 miliar, pendapatan transfer sejumlah Rp1,02 triliun dan pendapatan daerah lainnya yang sah sebanyak Rp24 miliar.
Pengembangan proyek panas bumi di Kabupaten Sigi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah terpencil melalui penyediaan infrastruktur baru serta adanya program dari perusahaan setempat untuk pemberdayaan masyarakat setempat.
"Pemanfaatan energi panas bumi tidak hanya dapat digunakan untuk pembangkit listrik tetapi bisa dilakukan pemanfaatan langsung menjadi wisata, agribisnis, industri green hydrogen hingga mineral extraction," sebut Samuel.
Pemerintah daerah pun memberikan dukungan terhadap pengembangan PLTP itu berupa kemudahan perizinan, fasilitasi dan pendampingan untuk percepatan penyelesaian lahan tersebut baik yang ada di Desa Bora, Desa Pulu maupun Desa Kadidia.
Tak hanya itu, pemerintah daerah secara terus-menerus melakukan pendampingan sosialisasi lanjutan dalam kegiatan pembangunan infrastruktur jalan dan tapak sumur guna pengeboran sumur eksplorasi.
Seluruh organisasi perangkat daerah serta kepala desa dilibatkan secara langsung untuk turun memberikan informasi kepada masyarakat tentang manfaat dari pengembangan dan pembangunan PLTP, sebab tidak ada dampak negatif yang ditimbulkan untuk lingkungan sekitar lokasi pengeboran sumur eksplorasi.
Oleh Moh Salam
Editor:
Muhammad Zulfikar
COPYRIGHT © ANTARA 2026