Menjaga asa di tengah pencarian KMP Virgo Transport 8
Selasa, 15 September 2026 06:15 WIB
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Bambang Haryo Soekartono (tengah, topi hitam) saat menyapa keluarga korban KMP Virgo Transport 8, di Posko Gapura Surya Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Senin (14/9/2026). (ANTARA/Faizal Falakki)
Surabaya (ANTARA) - Papan putih di Posko Terpadu Kecelakaan KMP Virgo Transport 8 di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menjadi magnet kuat bagi sejumlah orang yang terlihat bingung.
Sejumlah orang berjajar fokus melihat kertas putih dengan sederet daftar nama dengan wajah harap-harap cemas.
Kertas di papan itu berisi daftar nama penumpang KMP Virgo Transport 8 yang mengalami kecelakaan di perairan Laut Jawa, Minggu (13/9/2026).
Seperti Ruswi (25) yang memilih tetap bertahan yang bukan sekadar untuk mencari informasi, tetapi membawa harapan keluarga agar Edi Sukamto, anak buah kapal (ABK), segera ditemukan.
Edi merupakan warga Dusun Brak Sari, Kemuning, Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, yang bekerja sebagai oiler atau kru kapal yang bertugas di bagian mesin.
Ia menjadi salah satu ABK KMP Virgo Transport 8 yang dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin dilaporkan hilang kontak.
Bagi keluarga, menunggu kabar mengenai kapal tersebut menjadi harapan besar yang tetap dijaga dengan penuh sabar.
“Lepas magrib, setelah itu tidak ada komunikasi sama sekali sampai hari ini,” kata Ruswi, saat ditemui di pelabuhan.
Tidak adanya komunikasi terasa berbeda bagi keluarga karena Edi selama ini dikenal rutin menghubungi mereka melalui pesan WhatsApp.
Keluarga kemudian mengetahui kabar hilangnya kapal melalui informasi yang beredar di media sosial. Sejak saat itu, harapan mereka bertumpu pada proses pencarian yang dilakukan tim SAR gabungan.
Ruswi mengaku keluarganya telah pasrah dengan segala kemungkinan, meskipun hal itu bukan berarti berhenti berharap. Mereka masih menunggu satu kepastian tentang keberadaan Edi.
“Semoga diberi kekuatan dan dalam laut itu, dasar laut kan, semoga yang terbaik saja,” ucapnya.
Bagi keluarga Edi, ditemukan menjadi harapan utama. Jika masih selamat, tentu kepulangan Edi menjadi penantian yang paling diinginkan.
Hanya saja, apabila kemungkinan terburuk terjadi, keluarga tetap berharap jasadnya dapat ditemukan dan dibawa pulang.
Berbeda dengan Umi. Wajahnya terlihat sedih dan sempat menitikkan air mata, kala menceritakan sedang menantikan kabar suami dan adiknya.
"Belum ditemukan sampai sekarang. Saya ini masih nunggu info dari banjar (Banjarmasin)," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Pewarta : Willi Irawan/Faizal Falakki
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026